Umar Kayam dan Lebaran

Pamusuk Eneste
http://www.suarapembaruan.com/

Umar Kayam bukanlah cerpenis yang produktif. Kumpulan cerpennya yang pertama, Seribu Kunang-kunang di Manhattan (Pustaka Jaya, 1972) hanya berisi 6 cerpen. Keenam cerpen ini kemudian dimuat kembali dalam kumpulan cerpen Sri Sumarah dan Cerita Pendek Lainnya (Pustaka Jaya, 1986) bersama 4 cerpen yang lain (“Sri Sumarah”, “Bawuk”, “Musim Gugur Kembali di Connecticut”, dan “Kimono Biru buat Istri”). Continue reading “Umar Kayam dan Lebaran”

MENUMBUHKAN PERADABAN MELALUI MURAL DAN PUISI RUANG PUBLIK

Sri Wintala Achmad *
Kompas Jogja, 31 Okt 2008

Apa ada di benak kita, manakala menyusuri jalanan kota Yogyakarta yang diwarnai kesemrawutan lalu lintas; ketidakrapian penataan papan-papan reklame; dan lebih banyak ditanami gedung-gedung, mal-mal, pusat-pusat perbelanjaan, atau hotel-hotel ketimbang pohon-pohon perindang; serta tidak adanya taman kota yang dapat diakses gratis oleh publik? Continue reading “MENUMBUHKAN PERADABAN MELALUI MURAL DAN PUISI RUANG PUBLIK”

Seni Rupa Belum Merdeka

Djuli Djatiprambudi
http://www.jawapos.co.id/

”APAKAH Anda mengenal perupa Nyoman Masriadi, Putu Sutawijaya, Agus Suwage, Dippo Andy, Rudi Mantofani, dan Ay Tjoe Chrystine?” Pertanyaan itu saya lontarkan di dalam sebuah forum pelatihan guru kesenian. Mereka sontak menjawab tidak tahu. Atas jawaban mereka itu, saya pura-pura kaget walaupun sudah menduga mereka pasti asing dengan nama-nama tersebut. Continue reading “Seni Rupa Belum Merdeka”

Kocap Kacarita Laksmi…

Wayan Sunarta *
jawapos.co.id

Laksmi Shitaresmi adalah perempuan Jawa tulen. Baik dari pemikirannya, tata bicara, maupun perilaku kesehariannya. Dia lahir, tumbuh, dan besar di lingkungan kebudayaan Jawa yang kental di Jogjakarta. Sebagaimana perempuan Jawa, pikiran dan perasaannya sangat cermat, tidak tergesa-gesa, dan cepat peka terhadap lingkungan sekitarnya. Kehidupan dijalaninya dengan penuh rasa syukur. Continue reading “Kocap Kacarita Laksmi…”

Bahasa ยป