
Saut Situmorang * Continue reading “SASTRA KONTEKSTUAL”
Seni Urban Dan Bahaya Sastra Seksual
Para buruh pabrik geram melihat maraknya sastra erotis
Reiny Dwinanda
http://www.infoanda.com/Republika
Tinggal di kota besar, apalagi di ibukota, waktu seperti berjalan lebih cepat dari yang sebenarnya. Dihadapkan pada aktivitas rutin yang menyita waktu, warga kota pun hanya punya sedikit kesempatan untuk dirinya sendiri. Sempatkah mereka berkesenian, atau membaca karya sastra?
Kesenian boleh jadi menduduki nomor urut kesekian pada agenda harian masyarakat kota. Meski begitu, bukan berarti mereka tak dapat mengapresiasi seni dan sastra. Dengan ‘rayuan’ yang pas, warga kota rela menyediakan waktunya untuk mengapresiasi seni dan sastra. Continue reading “Seni Urban Dan Bahaya Sastra Seksual”
Gombal Warming
Liza Wahyuninto
http://celaledinwahyu.blogspot.com/
Mengurusi lingkungan, itulah sebenarnya yang tengah diupayakan oleh masyarakat dunia saat ini. Bagaimana tidak, pertemuan UNFCCC di Bali menyatakan ada dua hal yang tengah menggerogoti bumi yang kita sepakat menyebutnya sebagai tempat tinggal utama di dunia ini meskipun telah ditemukan planet baru yang menurut para ahli juga dapat dijadikan tempat tinggal. kedua hal tersebut adalah climate change dan global warming. Continue reading “Gombal Warming”
Lebaran di dalam Buku
Haris Priyatna
http://www.infoanda.com/Republika
Lebaran adalah drama. Sebuah drama yang kolosal. Betapa tidak? Saat Lebaran, orang-orang berusaha bersenang-senang dengan pakaian baru warna-warni dan hidangan aneka rupa. Tiba-tiba saja semua orang menjadi ramah dan saling meminta maaf.
Mereka pun berduyun-duyun meninggalkan kota-kota dalam arak-arakan panjang menuju kampung halaman agar bisa merayakan Lebaran bersama sanak famili. Di balik keriuhan ini, biasanya tersimpan kisah-kisah menarik dan tak jarang mengharukan. Barangkali inilah sebabnya almarhum Umar Kayam kerap menulis cerita berlatar Lebaran. Continue reading “Lebaran di dalam Buku”
Mencipta Kembali Tradisi Teater Jatim
Catatan untuk F. Aziz Manna dan R. Giryadi
S. Jai *
Kompas JaTim, 19 Agu 2010
JAWA TIMUR, tepatnya Surabaya dan Sidoarjo pernah memiliki tradisi teater yang kuat, bahkan menggerakan tradisi teater modern di Indonesia. Ketika pada 1891 Komedi Stamboel berkibar dan pada 1926. Lalu Dardanella (The Malay Opera) berjaya yang diprakarsai Willy Klimanoff.
Di tangan mantan awak sirkus Komedi Stamboel itu, Dardanella dimodernkan sebagai teater yang mengutuhkan esensi laku dramatik dan menghilangkan nuansa lelucon dan tarian yang menyimpang dari esensi itu. Dari kelompok teater inilah berkembang pesat teater modern melalui awak-awak panggungnya. Bolero, Orion yang didirikan Miss ribort, Tjahaya Timoer yang didirikan Andjar Asmara. Termasuk Teater Maya di Jakarta, di bawah asuhan Usmar Ismail 1944. Continue reading “Mencipta Kembali Tradisi Teater Jatim”
