Kebebasan Pers untuk Demokrasi

Salim Alatas
http://www.lampungpost.com/

Kebebasan pers adalah unsur yang esensial dalam demokrasi, dan melekat pada konsep demokrasi itu sendiri. Jika diperhatikan peranan yang dimainkannya dalam masyarakat yang demokratis, dapat dikatakan batasan demokrasi banyak ditentukan oleh kebebasan pers dan tersedianya ruang publik (public sphere) yang menjamin setiap warga masyarakat dapat menyampaikan pendapatnya secara bebas. Continue reading “Kebebasan Pers untuk Demokrasi”

Manajemen Proses Kreatif

Iwan Gunadi
http://www.lampungpost.com/

Tak sedikit pekerja film, sinetron, dan musik tersohor di Indonesia mengakui pentingnya peran manajer untuk kemajuan karier di dunia seni masing-masing. Tak heran kalau kemudian mereka meminta teman dekat, salah seorang anggota keluarga, suami, atau istri menjadi manajer mereka.

ADA pula yang meminta atau menerima tawaran dari perusahaan yang menyediakan jasa manajemen artis. Kesadaran akan pentingnya peran tersebut memang memicu sejumlah pihak mendirikan perusahaan jasa pengelolaan artis. Ya, mereka menyebutnya manajer artis untuk pelakunya dan manajemen artis untuk aktivitasnya. Continue reading “Manajemen Proses Kreatif”

Sastra untuk Orientasi Bangsa

Abdul Aziz Rasjid*
http://www.lampungpost.com/

Orang Barat di dalam diriku telah membusuk
–Joseph Conrad, Under Western Eyes

KETIKA pihak kolonial sibuk menentukan peta geografis, geopolitis, geoekonomi, juga geokultural dengan cara membagi wilayah-wilayah kawasan Hindia-Belanda berdasarkan kepentingannya dengan mengabaikan realita sosial, politik, bahasa, adat yang mengakar di suatu wilayah; hadir roman Max Havelaar karya Multatuli, nama pena seorang asisten residen bernama Doewes Dekker. Continue reading “Sastra untuk Orientasi Bangsa”

Jatim Tidak Butuh Perspektif Jakarta

(Tanggapan untuk Arif B. Prasetya)
W. Haryanto*
http://www.jawapos.co.id/

PANDANGAN Arif B. Prasetya tentang sastra Jawa Timur (Jawa Pos, 25 Juli 2010) bukanlah ”sesuatu yang baru”, tetapi hanyalah runutan catatan politis yang diperkenankan oleh Dewan Kesenian Jakarta terhadap sejarah Jawa Timur. Agus R. Sardjono secara eksplisit menyebut, kelisanan (orality) dalam kehidupan sastra modern Indonesia harus segera beralih menuju keberaksaraan (literacy) (pengantar buku Cakrawala Sastra Indonesia, 2004). Acuan Arif B. Prasetya pun tak jauh-jauh dari itu. Continue reading “Jatim Tidak Butuh Perspektif Jakarta”

Bahasa ยป