Dandyisme Puisi ’80-an

Beni Setia
suarakarya-online.com

TULISAN Indra Tjahjadi (Suara Karya, 18/11. 2006), dengan konteks perpuisian dekade 80-an mengapungkan tiga poin. Oleh Indra Tjahjadi diungkapkan adanya dua genre perpuisian yang dominan di dekade 1980-an. Pertama, corak puisi gelap yang dominan. Dua, corak puisi sufistik yang signifikan menggejala. Dan ketiga: posisi kepenyairan Aming Aminoedhin dalam peta perpuisian saat itu. Continue reading “Dandyisme Puisi ’80-an”

Ludruk dan Pungli Polisi

Fahrudin Nasrulloh

Sebagai bagian dari beragam jenis bentuk kesenian yang bercokol kuat di wilayah Jawa Timur, ludruk merupakan kesenian yang melibatkan banyak anggota, sekitra 50-an lebih, di mana untuk konteks sekarang ketika tuntutan hidup dan pragmatisme semakin memepet eksistensi seniman dan imbasnya kreativitas mereka dalam berkesenian mengalami ketidakmenentuan. Belum lagi problem eksternal yang menggandoli ludruk tidak bisa disepelekan begitu saja. Salah satunya adalah perkara perizinan ke pihak aparatur Negara dan lebih khusus pada pihak kepolisian kala tanggapan ludruk digelar. Continue reading “Ludruk dan Pungli Polisi”

Geliat Pelukis Abstrak di Era Kontemporer

Pameran Lukisan “4As (For Us)”

Dwin Gideon
sinarharapan.co.id

Dominasi realis pada era kontemporer ini sangat terlihat pada gaya figuratif yang kerap hadir di berbagai lukisan. Penggambaran yang jelas terhadap hal-hal yang mewakili kenyataan adalah ciri-cirinya.

Karena itu, para pelukis yang non-figuratif pun menjadi tersisihkan. Mereka adalah para pelukis abstrak. “Seni lukis itu pada dasarnya hanya ada dua, yaitu realis dan abstrak. Pada masa sekarang, seni lukis abstrak adalah aliran yang ditepikan,” kata Pelukis Ikay Khairudin pada Konferensi Pers Pameran Lukisan 4 As (For Us) di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Kamis (11/12). Continue reading “Geliat Pelukis Abstrak di Era Kontemporer”

Segera Memulai, Lalu Menata

Sidik Nugroho *
ruangbaca.com

“Saya tidak pernah memutuskan untuk menjadi penulis. Pada awalnya saya tidak berharap mendapatkan nafkah dengan dibacanya karya saya. Saya menulis sebagai seorang anak yang gembira ketika memahami hidup lewat pikiran saya,” demikian Nadine Gordimer berujar ketika menerima anugerah Nobel Sastra.

Ia menulis sejak kecil, berusaha memetakan apa yang ia lihat, cium, dan rasakan dalam berbagai hal, hingga suatu ketika cerita pertamanya diterbitkan saat berusia 15 tahun. Continue reading “Segera Memulai, Lalu Menata”

Bahasa ยป