Gerakan Keberaksaraan

Musrsyid Burhanuddin*
http://www.jawapos.com/

Kemajuan suatu bangsa bisa cepat diraih jika masyarakatnya gemar membaca. Kini berbagai upaya untuk menggugah kesadaran membaca kian marak. Rekognisi itu bisa dilihat dari berbagai even yang bertalian dengan gerakan gemar membaca. Bentuknya bisa berupa book fair, launching buku, perpustakaan keliling, dan rubrik perbukuan di koran hingga festival buku. Continue reading “Gerakan Keberaksaraan”

‘Sastra Pragmatik’ dan Orientasi Penciptaan

Bagian Pertama dari Dua Tulisan

Ahmadun Yosi Herfanda
infoanda.com/Republika

Judul asli tulisan ini adalah Sastra dan Peningkatan Kualitas Kecendekiaan, sebuah judul yang mengandaikan bahwa sastra dapat menjadi sumber nilai, sumber inspirasi, dan sumber pengetahuan untuk meningkatkan kualitas kecendekiaan pembacanya. Itu adalah pengandaian yang berpijak pada pendekatan yang pragmatik tentang sastra, bahwa karya sastra ditulis bukan hanya untuk tujuan literer (estetik) tapi juga tujuan yang bersifat pragmatik atau non-literer. Continue reading “‘Sastra Pragmatik’ dan Orientasi Penciptaan”

‘Sastra Pragmatik’ dan Orientasi Penciptaan

Bagian terakhir dari dua tulisan

Ahmadun Yosi Herfanda
infoanda.com/Republika

Dalam konteks peran sosial sastra, ‘kaum sastra kontekstual’ meyakini bahwa karya-karya besar seperti Max Havelar (Multatuli), Uncle Tom Cabin (Beecher Stower), dan sajak-sajak Rabindranat Tagore telah menginspirasi perubahan sosial di lingkungan masyarakat pembacanya masing-masing. Max Havelar menginspirasi ‘gerakan politik etis’ di Hindia Belanda, sajak-sajak Tagore mendorong gerakan pembebasan bangsa India dari penjajahan Inggris, dan Uncle Tom Cabin menginspirasi gerakan anti-perbudakan di Amerika Serikat. Continue reading “‘Sastra Pragmatik’ dan Orientasi Penciptaan”

Perempuan-perempuan Modis Mao

Sita Planasari Aquadini
http://majalah.tempointeraktif.com/

PARAS ayu itu langsung saja melesak dalam ingatan. Seorang gadis berkepang dua, matanya hitam bulat, tajam menusuk. Hidungnya bangir, bibirnya mungil. Kesempurnaan khas gadis Tiongkok yang polos dan lugu itulah yang terangkum dalam lukisan perupa Cina, Qi Zhilong, bertajuk China Beauty itu.

Lukisan bertarikh 2009 ini sangat menarik bila kita menoleh kembali pada kisah sukses pelukisnya, Qi Zhilong. Perupa 47 tahun kelahiran pedalaman Mongolia ini terkenal dalam kancah seni rupa internasional berkat serial lukisan Gadis dalam Seragam Mao. Seri lukisan ini mengangkat nama perupa lulusan China Central Academy of Fine Arts Beijing tersebut dalam jajaran perupa bergenre Political Pop pada 1995. Continue reading “Perempuan-perempuan Modis Mao”

SSSSST, ADA PEMBUNUH CINTA DI ISTANA!

Robin Al Kautsar

?Ji, di dalam cerita peperangan dan penderitaan yang paling kejam sekalipun, di sana ada kisah cintanya. Sedangkan drama kehidupanmu begitu hambar.?
(PDN, hal 143)

?Pembunuh di Istana Negara? karya Dhian Hari M.D. Atmaja pada dasarnya mencoba mengangkat tema politik. Suatu tema yang cukup jarang diangkat akhir-akhir ini, di mana tema seks begitu mendominasi. Oleh karena itu tema ini mengingatkan saya bahwa sebagian sastrawan kita dulu begitu berpretensi melukisan kecenderungan-kecenderungan utama masyarakat yang berpusat pada negara seperti “Grota Azura” karya Sutan Takdir Alisyahbana atau bahkan pada “Nyali” karya Putu Wijaya. Kebetulan kedua karya tersebut tidak begitu disambut secara luas. Mungkinkah karenanya tema politik akhirnya dihindari oleh banyak pengarang? Continue reading “SSSSST, ADA PEMBUNUH CINTA DI ISTANA!”

Bahasa ยป