NOVEL DENGAN SEMANGAT GURU SEJATI *

Maman S. Mahayana **

Fakta adalah realitas yang terjadi dalam kehidupan ini. Sastra coba mengangkat realitas itu tidak sebagaimana adanya. Ia telah mengalami proses pemilahan dan pemilihan, seleksi dan rekayasa. Maka, realitas dalam sastra adalah fiksional. Ia seolah-olah realitas an sich. Padahal sesungguhnya realitas itu hanya berlaku dalam karya itu sendiri. Tak ada hubungan wajib pembaca mempercayainya atau tidak. Ia bebas diperlakukan apa saja. Sastra jadinya bagai bangunan yang bahan-bahannya dapat kita kenali berdasarkan fakta yang pernah atau mungkin terjadi. Continue reading “NOVEL DENGAN SEMANGAT GURU SEJATI *”

“Mengintip” Latar Sastra Pesantren

Aguk Irawan Mn *
langitan.net

Tempo hari, saya menerima posting email dari Gus Acep (Acep Zamzam Noor) dan Kang Bunis (Sarabunis Mubarok) perihal acara “Silaturahmi Sastrawan Santri” yang diselanggarakan komunitas Azan dan Desantara di Tasikmalaya. Kendati saya bukanlah sastrawan-santri yang betulan, namun jujur, ketika membaca larik barisan sejumlah santri-sastrawan yang akan berkumpul pada tanggal itu, sambil membayangkan berjalannya acara, tiba-tiba saja ada sesuatu yang tertangkap oleh benak saya, sebuah kesan, yang cukup menggetarkan. Antara sedu, bahagia dan haru. Continue reading ““Mengintip” Latar Sastra Pesantren”

Sastra Indonesia dalam Skenario Imperialisme

Mahdiduri
http://www.infoanda.com/Republika

Nasionalisme humanis dibangun atas dasar prinsip, setiap bangsa mampu memberikan sumbangan dalam menegakkan harkat dan martabat manusia, serta untuk pengembangan nilai-nilai humanisme sesuai dengan karakteristik dan sifat-sifat bangsa itu.

Tidak hanya paham kebebasan, keadilan dan kesetaraan, tetapi paham toleransi adalah hal yang perlu mendapat perhatian dalam tata pergaulan internasional. Nasionalisme yang berlandaskan pada toleransi tidak hanya dapat menciptakan perdamaian dunia, tetapi dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Demikian gagasan nasionalisme humanis dari seorang Soekarno. Continue reading “Sastra Indonesia dalam Skenario Imperialisme”

Daya Kata, Darah Kebangkitan

Yudi Latif*
http://cetak.kompas.com/

Perjuangan kebangkitan itu bermula dari tanda. Tanda baru yang menarik garis batas antara masa lalu dan masa depan, tanda baru yang memberi tenaga pada hidup, tanda baru yang memberi orientasi ke arah mana sumber daya harus dikerahkan.

Kata dan bahasa adalah rumah tanda. Karena tidak ada kemungkinan mengada di luar bahasa, kata/bahasa pun menjadi rumah kehidupan. Meminjam Martin Heidegger, ?Language is the house of being.? Continue reading “Daya Kata, Darah Kebangkitan”

Sastra Perut

Cunong N. Suraja
http://oase.kompas.com/

Sastra perut tidak menjurus pada persoalan perut sebagai anatomi fisik. Walaupun Asep Samboja yang telah dibedah perutnya karena ada gangguan jaringan dalam ususnya menujukkan bahwa perut telah menjadi sastra ketika bicara tentang mulut dalam keluarga. Ketika perut dibedah dicari penyebab penghalang daya etos kerja maka terdapat yang namanya sastra tumor karena tidak ganas. Kalau ganas dia akan menjadi kan(g)ker yang berserabut jalur menuju segala ruas dan buku saraf yang akan mematikan “pohon” yang dihinggapinya karena dia murka saat diangkat kepala kankernya. Continue reading “Sastra Perut”

Bahasa »