”Menonton” Naskah Lakon Mencari Ruang

Raudal Tanjung Banua
balipost.co.id

Sangatlah menggembirakan mendengar kabar terbitnya buku kumpulan drama Mas Ruscita Dewi berjudul ”Rumah Bunga”. Di tengah sepinya minat terhadap naskah drama atau naskah lakon, tentu saja penerbitan buku kumpulan drama ini pantas diacungi jempol. Sebab, dalam hitungan kapital, buku sastra yang diminati saat ini berkisar pada prosa — cerpen dan novel, sedikit puisi, dan minus drama. Continue reading “”Menonton” Naskah Lakon Mencari Ruang”

Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa

Katrin Bandel*
http://beritaseni.wordpress.com/

Akhir tahun 2007 novel Saman karya Ayu Utami diterbitkan dalam terjemahan bahasa Jerman oleh penerbit Horlemann. Tentu saja penerbitan Saman tersebut bukanlah sebuah peristiwa besar, sebab Horlemann hanya penerbit kecil dan nama Ayu Utami hanya dikenal segelintir orang di Jerman. Namun meskipun begitu, peristiwa penerbitan novel itu, seperti hampir setiap penerbitan buku baru, direspon dalam bentuk resensi di beberapa media, dan buku itu diiklankan oleh penerbitnya. Continue reading “Politik Sastra Komunitas Utan Kayu di Eropa”

MENCARI TUHAN KE ENTAH

Maman S. Mahayana *

Dalam sejarah peradaban umat manusia, pengagungan terhadap sesuatu yang transenden telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sikap religiositas manusia itu sendiri. Manusia pada awal dan kemudiannya, senantiasa dihinggapi sikap seperti itu. Dari sana pula lalu muncul berbagai cara untuk mengejawantahkan pengagungannya terhadap sesuatu yang transenden itu. Caranya dapat bermacam-macam dan dapat pula muncul lantaran berbagai hal; ketakutan, kegelisahan, keputusasaan, kerinduan atau bahkan kecintaan yang mendalam dan hasrat untuk jumpa dengan-Nya. Continue reading “MENCARI TUHAN KE ENTAH”

Penyair Hujan dari Baturono

Ninin Damayanti
majalah.tempointeraktif.com

Matahari sudah condong ke barat ketika Tempo bertandang ke rumah penyair Sapardi Djoko Damono di kompleks dosen Universitas Indonesia, Cirendeu, Ciputat, dua pekan lalu. Rumah bercat putih itu hanya sepelemparan batu dari Situ Gintung.

Perabot di rumahnya sederhana, menguatkan sosok Sapardi yang lekat dengan puisi liris yang bersahaja. Tidak ada mebel besar dan mewah. Hanya seperangkat kursi tamu yang dimakan usia, bantal kursi bermotif batik, kulkas tua, bale kayu berlapis tikar rotan, rak kayu penuh buku, dan sebuah komputer. Continue reading “Penyair Hujan dari Baturono”

Bahasa ยป