DICARI NOVELIS LAMPUNG

Maman S. Mahayana *

Selepas saya membolak-balik catatan perjalanan novel Indonesia –sejak sebelum Balai Pustaka sampai sekarang—saya berdoa: semoga pengamatan saya salah. Di sana, tidak ada novel karya sastrawan Lampung! Padahal, Lampung punya sejarah panjang tradisi bersastra. Datang saja misalnya ke kabupaten Way Kanan. Maka, di daerah itu kita akan menjumpai begitu banyak sastra lisan yang menarik. Continue reading “DICARI NOVELIS LAMPUNG”

Kita dalam Kosmologi Pohon

Bandung Mawardi
http://cetak.kompas.com/

Peluru menghantam geram. Bom meledak tanpa ampun. Api membakar dalam nafsu kematian. Pohon keramat dan besar itu roboh. Pusat dari kehidupan mengalami sekarat oleh imperasi kapitalisme. Pohon peradaban dimatikan demi pembesaran modal. Sakralitas hidup absen dari nalar kapitalisme. Modal sanggup menggerakkan ilmu pengetahuan-teknologi modern dan militer untuk impian picisan. Kisah pedih ini hadir dalam film Avatar garapan James Cameron. Kontradiksi-kontradiksi manusia tampil dalam arogansi, keharuan, kepicikan, kearifan, dan kebersahajaan. Continue reading “Kita dalam Kosmologi Pohon”

Warisan Sang Pembuka Pintu

L.N. Idayanie
http://majalah.tempointeraktif.com/

Ada nama Jawa untuk menandai ruangan itu. Ya, Artati, artinya manis, sama dengan Zoet dalam bahasa Belanda. Sesungguhnya, Artati adalah nama samaran Zoetmulder untuk dua tulisannya, De Strijd om het Paradijs dan Literatuur over den Islam. Dulu, seratus hari setelah Zoet meninggal, nama itu diabadikan di ruangan itu. Ruangan bagian dari Perpustakaan Pusat Universitas Sanata Dharma, Mrican, Yogyakarta. Continue reading “Warisan Sang Pembuka Pintu”

SINEMA “INDONESIA”

Saut Situmorang

Apakah membuat “film” itu gampang? Di Jakarta jawaban pertanyaan serius ini kayaknya gampang. Setelah membuat novel itu gampang, membuat cerpen itu gampang, membuat puisi itu gampang, membuat biennale (seni rupa dan sastra) itu gampang, bahkan membuat hadiah seni juga gampang, maka sekarang tren terbaru keluaran Jakarta adalah “Membuat film itu gampang”. Makanya, setelah booming sastra, setelah booming seni rupa, sekarang adalah era booming film Indonesia. Bangkitnya kembali (per)film(an) Indonesia, seru para pundit-nya di Jakarta. Istilah kerennya mungkin “The Renaissance of Indonesian Cinema”. Indikator dari fenomena musim semi (per)film(an) Indonesia ini, ternyata, cuma satu hal: film Indonesia sudah diputar kembali di bioskop-bioskop Indonesia! Continue reading “SINEMA “INDONESIA””

Puisi dan Anak-anak Sejarah Zainal Arifin Thoha

Pengantar Antologi Puisi ‘Mazhab Kutub’ terbitan PuJa (PUstaka puJAngga) 2010
Fahrudin Nasrulloh *

Suatu hari, sekisar pertengahan tahun 2007, saya berjumpa dengan Gus Zainal Arifin Thoha di Pesantren Tebuireng, Jombang. Hari itu diadakan pertemuan alumni. Beberapa teman dan kiai yang saya kenal juga tampak hadir. Salah satunya adalah penyair dari Jeruk Macan, Mojokerto, Kiai Khamim Khohari. Continue reading “Puisi dan Anak-anak Sejarah Zainal Arifin Thoha”

Bahasa »