Pertanyaan Tahun Ini: Kapan PSSI?

A.S. Laksana *
jawapos.co.id

KONON Albert Camus pernah ditanya oleh salah seorang temannya, Charles Poncet, mana yang lebih ia suka, sepak bola atau teater, dan ia menjawab, ”Sudah pasti sepak bola.”

Peraih Nobel Sastra 1957 itu lahir dari keluarga miskin di Aljazair. Di masa kanak-kanaknya, ia memainkan sepak bola dalam cara yang serupa dengan anak-anak lain di wilayah kumuh belahan dunia mana pun: di jalanan. Tetapi ia tidak banyak berlari. Continue reading “Pertanyaan Tahun Ini: Kapan PSSI?”

Negarakretagama, Sebuah Festival

Agus Bing*
http://www.jawapos.co.id/

“APA arti sebuah nama.” Begitu kata pujangga Inggris William Shakespeare mengingatkan bahwa ”nama” sejatinya tak lebih hanya ”teks” yang disandangkan pada objek. Selain tidak memiliki korelasi dengan objek yang ditandakan, ”nama” tidak mewakili esensi objek tersebut. Karena itu, tidak terlalu penting, apakah suatu objek memiliki nama atau tidak. Yang jelas, tanpa nama, segala objek tetap bisa mewakili dirinya sendiri. Benarkah demikian? Apakah kata puitis tersebut betul-betul merepresentasikan keragu-raguan Shakespeare atas eksistensi sebuah ”teks”? Continue reading “Negarakretagama, Sebuah Festival”

Hidup Adalah Permainan Rupa

Afnan Malay
http://www.jawapos.co.id/

HOMO Ludens, manusia bermain, adalah tajuk yang disodorkan kurator Wahyudin kepada 17 perupa yang sebagian besar di antara mereka berhasil menambatkan diri pada deretan papan atas seni rupa Indonesia. Mereka adalah Agus Suwage, Beatrix Hendriani Kaswara, Budi Kustarto, Dipo Andy, Erik Pauhrizi, FX Harsono, Haris Purnomo, Inge Riyanto, Julnaidi M.S., Jumaldi Alfi, Putu Sutawijaya, R.E. Hartanto, S. Teddy D., Sigit Santoso, Ugo Untoro, Wayan Suja, dan Yani Maryani. Continue reading “Hidup Adalah Permainan Rupa”

Ada Lekra dan Politik Sastra di Gedung Indonesia Menggugat

Mulyani Hasan*
http://www.prakarsa-rakyat.org/

SEBUAH malam Minggu di pengujung Maret 2010. Di gedung bekas pengadilan kolonial yang berlokasi di Jl. Perintis Kemerdekaan 5 Bandung, para pemuda dan sosok-sosok renta duduk bersama terlibat percakapan soal sastra, politik dan kehidupan. Sekarang dan masa lalu. Ada Saut Sitomorang, sastrawan yang menerbitkan buku Politik Sastra, mengkritisi bagaimana sastra dipolitisasi sedemikian rupa dari jaman ke jaman. Budayawan Jacob Soemardjo bicara soal idealisme karya sastra. Pemandu acara malam itu Yopi Setia Umbara, penyair muda dari Universitas Pendidikan Indonesia. Continue reading “Ada Lekra dan Politik Sastra di Gedung Indonesia Menggugat”

DUSTA

Saut Situmorang

Sinisme historis dalam melihat kondisi “sastra Indonesia” kontemporer sudah memenuhi kepala saya selama bertahun-tahun waktu saya membaca artikel berjudul aforistis “Karya Bagus, Argumentasi Lemah” oleh Chavchay Syaifullah di Media Indonesia, Minggu 8 Oktober 2006, tentang “kegagapan forum” orang-orang Teater Utan Kayu di arena sastra “internasional” berbahasa Inggris seperti Ubud Writers and Readers Festival. Waktu itu saya berada dalam kereta api pagi yang membawa saya pulang ke Jogja setelah diundang Dewan Kesenian Jakarta baca-puisi pada acara Tadarus Puisi di Taman Ismail Marzuki (TIM). Continue reading “DUSTA”

Bahasa »