MENULIS SEBAGAI SILATURAHMI

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Memasuki era kesejagatan, kini, makin disadari betapa informasi menempati kedudukan penting. Siapa yang menguasai informasi, dia yang niscaya dapat memainkan peranannya; mempengaruhi dan sekaligus juga ?menciptakan? opini publik, dan menjual informasi untuk kepentingannya atau untuk kepentingan siapa saja. Sebaliknya, siapa yang ketinggalan informasi, dialah yang kelak akan tergusur dan terus-menerus menjadi objek eksploitasi atau menjadi penonton yang pasif, tanpa dapat melibatkan diri dalam arus deras perubahan zaman ini. Atas kesadaran itulah, lalu orang berlomba-lomba mencari, menemukan, dan menguasai informasi. Continue reading “MENULIS SEBAGAI SILATURAHMI”

Sumbang Saran Kritik Seni

Baridul Islam Pr
sinarharapan.co.id

Membaca kritik sastra yang ditulis Binhad Nurrohmat, Budi Darma, Satmoko Budi Santoso dan Edy AFN yang termuat dalam segmen Seni di Harian Kompas minggu di bulan Mei-Juni 2003 membuat perdebatan sastra dan kritiknya kembali menarik untuk dilakukan. Begitu juga dengan tulisan penyair Ajip Rosidi yang berjudul: “Hanya Dijadikan Obyek” (Kompas, 29/6/2003). Dari kedua macam kritik sastra dan seni tersebut penulis mencoba menarik dua kesimpulan awal. Continue reading “Sumbang Saran Kritik Seni”

Teater Indonesia Harus Menciptakan Tradisinya Sendiri

Edy Suyanto
http://www.sinarharapan.co.id/

?Perkembangan teater saat ini adalah perkembangan teater post-Stanislavsky. Setelah Stanislavsky, tumbuh teater baru yang mementingkan sutradara,? begitu kata Asrul Sani ketika saya mewawancarainya dalam satu kesempatan di pertengahan tahun 2000 lalu. Dikatakannya pula, ?Di Eropa, orang sudah enggak perlu surealisme lagi. Sudah jenuh. Mereka mencari bentuk yang lain. Tapi kita baru mulai, akibatnya biarpun lama berteater, tapi tidak melahirkan aktor yang baik.? Continue reading “Teater Indonesia Harus Menciptakan Tradisinya Sendiri”

Sajak Tersesat di Lebat Hutan

Sajak Gamang di Keramaian Orang

Binhad Nurrohmat *
sinarharapan.co.id

(Satu)
Awal 1998 saya kebetulan terlibat dalam sebuah tim relawan lingkungan hidup di kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas Lampung. Bagi saya pribadi keterlibatan itu lebih sebagai tamasya tak disangka-sangka, sumber kebahagian alami yang kian langka. Tapi kawan-kawan lain menganggap keterlibatan itu begitu serius dan tegang: proyek. Continue reading “Sajak Tersesat di Lebat Hutan”

Kartini, Ahmad Wahib, dan Soe Hok Gie

Imam Cahyono
http://www.sinarharapan.co.id/

Hikmah apa yang bisa kita petik dari Raden Ajeng Kartini, Ahmad Wahid dan Soe Hok Gie? Ketiga nama itu sepertinya tak pernah habis menjadi bahan pembicaraan. Padahal, ketiganya adalah sosok yang jelas-jelas berbeda, hidup dalam zaman yang berbeda pula. Kartini hidup semasa kolonialisme Belanda sedang berjaya di persada nusantara. Soe Hok Gie hidup dalam zaman peralihan, masa kemunduran Soekarno transisi menuju era Soeharto. Sementara Wahib, hadir di zaman awal pemerintahan Orba, saat umat Islam mengalami posisi marginal dan stagnan. Continue reading “Kartini, Ahmad Wahib, dan Soe Hok Gie”

Bahasa ยป