Raut Sajak yang Tenang

Beni Setia *
suarakarya-online.com

Struktur pikiran dari Salimi Ahmad (seterusnya: SA) itu rumit meski dalam keseharian ia sangat sederhana. Setidaknya itu terlihat di dalam “kata pengantar” dan lembaran riwayat hidup dalan kumpulan puisinya, Di Antara Kita, tanpa tahun tanpa penerbit. Dalam “kata pengantar”, untuk mengatakan ia menulis puisi untuk menjaga keseimbangan hidup dan memelihara nurani ia harus berkata panjang lebar. Continue reading “Raut Sajak yang Tenang”

Fenomena Penyair Facebook Indonesia

Kurniawan Junaedhie *
suarakarya-online.com

Akhir tahun lalu, saya menjadi kurator buku antologi berjudul Merah Yang Meremah. Buku yang laris manis dijual Facebook itu memuat hampir 100 puisi yang ditulis oleh 10 penyair perempuan yang biasa menulis di situs perkawanan yang sedang ngetrend itu. Kesepuluh penyair itu adalah Dewi Maharani, Faradina Izdhihary, Helga Worotitjan, Kwek Li Na, Nona Muchtar, Pratiwi Seyaningrum, Shinta Miranda, Susy Ayu, Tina K, dan, Weni Suryandari. Continue reading “Fenomena Penyair Facebook Indonesia”

Sastra Sunda di Mata Seorang Batak

Wilson Nadeak *
cetak.kompas.com

Ketika Shahnon Ahmad (sastrawan Malaysia) memberi ceramah di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, sekitar tahun 1970-an dalam pertemuan sastrawan Indonesia, Rustandi Kartakusumah yang duduk di sebelah kanan saya tiba-tiba berdiri dan berkata dengan lantang, “Jika Anda ingin mengetahui sastra dunia, pelajarilah sastra Sunda!” Shahnon yang agak terkejut lantas bertanya, “Anda siapa?” “Saya Rustandi Kartakusumah.” “Oh, sama dengan nama anak saya!”. Continue reading “Sastra Sunda di Mata Seorang Batak”

Bahasa ยป