Ihwal Biografi Sastrawan Riau Modern

(Apresiasi Atas Buku Leksikon Sastra Riau)

Marhalim Zaini
riaupos.com

Betapa pun pakar semiotika Roland Barthes (1915-1980) menggemaungkan, “the death of the author,” saya yakin, kita masih sangat percaya bahwa sosok sastrawan (pengarang) tak dapat dengan mudah “terpisah” dengan karyanya.

Dan tentu, kita juga tahu bahwa Roland Barthes memang tidak sedang hendak “memisahkan” keduanya, meski dia menandaskan tentang “matinya seorang pengarang.” Continue reading “Ihwal Biografi Sastrawan Riau Modern”

Pemberontakan Pamuk dan Kecamuk Dua Dunia

Anton Kurnia *
serambi.co.id
pikiran-rakyat.com

TAK bisa dimungkiri, Orhan Pamuk adalah salah satu sastrawan terdepan dunia saat ini. The New York Times Book Review yang berwibawa itu menulis tentang Pamuk dengan pujian melangit, “Bintang baru telah terbit di Timur: Orhan Pamuk, seorang penulis Turki.”

Reputasi internasional sastrawan Turki pemenang Hadiah Nobel Sastra 2006 ini melambung terutama setelah terbitnya Benim Adim Kirmizi (1998, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Erdag M. Goknar sebagai My Name Is Red pada 2001). Continue reading “Pemberontakan Pamuk dan Kecamuk Dua Dunia”

Nobel Sastra, antara Pram dan Doris

Alimuddin
blog.harian-aceh.com

PENYERAHAN nobe sastra selalu memunculkan perdebatan setelahnya. Pro kontra bermunculan. Siapa yang lebih berhak dan apa alasannya menjadi tema ulasan

Beberapa tahun belakangan, menjelang pemberian hadiah nobel sastra, nama Pramoedya Ananta Toer santer dibicarakan. Pramoedya menjadi satu-satunya sastrawan dar Indonesia yang menjadi nominasi beberapa kali untuk memdapatkan hadiah sastra paling prestisius itu. Akan tetapi, meski sering diunggulkan untuk mendapatkan nobel sastra, Pramoedya tidak pernah mendapatkan nobel itu sampai menghembuskan nafas terakhir di tahun 2006. Continue reading “Nobel Sastra, antara Pram dan Doris”

GERAKAN SASTRAWAN “YOGYA”

Maman S. Mahayana
mahayana-mahadewa.com

Hery Mardianto, dkk. (editor), Pagelaran: Antologi 17 Cerpen
(Bentang Intervisi Utama, Yogyakarta: 1993) xxxiv + 152 halaman.

Ada kecenderungan baru dalam perkembangan cerpen Indonessia belakangan ini: munculnya antologi cerpen karya beberapa pengarang yang terbit di luar Jakarta. Surabaya menerbitkan Cerita Pendek dari Surabaya (1991) dan Limau Walikota (1992), Riau, Teh Hangat Sumirah (1992), dan kini Yogyakarta, Pagelaran (1993). Keadaan tersebut tentu saja menyemarakkan antologi cerpen terbitan Jakarta, antara lain Kado Istimewa dan Pelajaran Mengarang (Redaksi Kompas, 1992, 1993). Continue reading “GERAKAN SASTRAWAN “YOGYA””

Seni Abstrak (Bali) Bangkit Lagi?

I Wayan Seriyoga Parta*

Beranda

KESADARAN para seniman Bali akan ruang dan komposisi sangat lekat dari karya-karya tradisi atau pramodern hingga saat ini. Jika umumnya dalam karya seni tradisional Bali kesadaran itu bersifat unconscious, terejawantahkan secara langsung dalam gerak aktivitas kesenian yang mereka laksanakan. Umumnya ruang dan komposisi bersifat simbolik dalam artian memiliki nilai. Continue reading “Seni Abstrak (Bali) Bangkit Lagi?”

Bahasa ยป