Benda-benda Urban sebagai Basis Bahasa Puitika

Binhad Nurrohmat
http://www.sinarharapan.co.id/

Puisi-puisi Afrizal Malna dari buku puisi Abad yang Berlari (1984) hingga buku puisi mutakhirnya Dalam Rahim Ibuku Tak Ada Anjing (2002) telah memberikan suatu gambaran, citraan, atau sosok yang lain dari berbagai kecenderungan yang pernah berlangsung dan menonjol dalam arus utama khazanah perpuisian Indonesia modern yang telah umum dikenal masyarakat kita selama ini. Perhatikan judul-judul puisi yang disusun dari diksi dan idiom yang tak lazim sepanjang sejarah bahasa penulisan puisi modern kita selama ini, misal ?Kota-kota dalam Tas Koper?, ?Aku Terbang Bersama Kipas Angin?, atau ?Hujan dari Sebuah Dapur?. Continue reading “Benda-benda Urban sebagai Basis Bahasa Puitika”

Berharap kepada Perempuan Penulis

Imam Cahyono
sinarharapan.co.id

Fenomena mutakhir pergumulan sastra kita yang diwarnai dengan tema seks, tak habis-habisnya menjadi pergunjingan. Berbagai media massa, ramai membincangnya, berusaha membedah fenomena itu. Hal yang sama juga terjadi di berbagai forum diskusi dan kajian, seperti Diskusi Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Seks dalam Sastra Kita Kini, di Taman Ismail Marzuki (TIM), 21 Oktober 2003 lalu, yang diramaikan oleh tiga pembicara, Sirikit Syah dari Surabaya, Apsanti Djokosujatno dari Jakarta dan Faruk dari Yogyakarta. Continue reading “Berharap kepada Perempuan Penulis”

Teater sebagai Gerak Budaya

S. Yoga
sinarharapan.co.id

Menurut Subagio Sastrowardoyo, Dalam Bakat Alat dan Intelektualisme, seni merupakan unsur ekspresi yang paling penting di dalam budaya. Seni bahkan sering juga disamakan belaka dengan budaya. Budaya sendiri memiliki makna yang lebih luas dalam bidang lingkupnya daripada seni belaka, tetapi dalam fungsinya mengucapkan pengalaman kemasyarakatan dan kemanusiaan, senilah yang paling sanggup menyuarakan pengalaman itu dengan lebih langsung, menyeluruh dan lengkap. Ekspresi seni, apa pun bentuk dan gayanya, adalah total, sekaligus dan tanpa sisa. Continue reading “Teater sebagai Gerak Budaya”

Konsolidasi Publik Teater Modern, Siapa Peduli?

Maria Magdalena Bhoernomo
sinarharapan.co.id

Memperjuangkan teater modern di Indonesia agar dapat hidup sebagai seni panggung (yang dibutuhkan dan membutuhkan publik atau penonton) memang bukan pekerjaan sederhana. Diperlukan napas panjang, kesabaran dan ketekunan yang prima dalam kurun waktu yang bisa saja tak terbatas. Beberapa tahun lalu, seorang pekerja teater, yang juga dikenal sebagai penyair, Sosiawan Leak, pernah berkata bahwa dirinya sedang suntuk melakukan semacam konsolidasi publik teater modern di Solo (Taman Budaya Surakarta), dengan memprakarsai pertunjukan teater yang telah “mapan” dengan teater kampus dan teater sekolahan secara bergiliran di hari yang sama. Continue reading “Konsolidasi Publik Teater Modern, Siapa Peduli?”

Bahasa ยป