Mengenang Kampung Halaman

Satmoko Budi Santoso *
jawapos.co.id

PAMERAN tunggal seni rupa bertajuk (C)artography karya Julnaidi M.S. di Emmitan CA Gallery Surabaya pada 11-25 Oktober 2009 dengan segera sangat mengesankan bahwa Julnaidi berusaha merefleksikan ingatan kolektif atas kampung halamannya, yakni Sumatera Barat. Memang pameran ini tak berhubungan dengan peristiwa gempa bumi di wilayah itu baru-baru ini. Semua lukisannya dipersiapkan sebelum bencana alam itu terjadi. Dengan kata lain, pameran tersebut bukan pameran amal. Continue reading “Mengenang Kampung Halaman”

Mendebat Misogyni

Fathurrofiq
http://www.jawapos.co.id/

Budaya masyarakat bisa jadi menunjukkan praktik-praktik tidak senonoh pada harkat manusia, termasuk perempuan. Tak pelak, pengarang yang kritis-prihatin berusaha mendebatnya. Makanya, Alan Swingewood menganggap pemahaman yang mengatakan bahwa sastra (novel) merupakan cermin budaya masyarakat sebagai pemahaman yang rancu. Pemahaman itu ditekankan oleh Swingewood, mengabaikan peran otonom pengarang dalam kontruksi wacana budaya. Horizon atau wawasan pengarang bisa bekerja secara otonom dalam budayanya. Pengarang sudah lazim mendebat, bahkan menolak sama sekali praksis budaya yang melatari novelnya. Continue reading “Mendebat Misogyni”

Kursi dan Peradaban

Wawan Setiawan*
http://www.jawapos.co.id/

ADANYA pesuruh, pegawai, guru, kepala sekolah, dan ketua yayasan dalam sebuah lembaga pendidikan adalah sesuatu yang alamiah. Mereka telah menduduki posisi yang memang selayaknya ada di sana. Fenomena alamiah ini wajar, tetapi setelah proses interaksi nilai-nilai, posisi-posisi itu kemudian menjadi terasa sangat terbedakan dan bahkan seolah-olah kurang terhubungkan. Continue reading “Kursi dan Peradaban”

Setetes Air di Lokalisasi

Sirikit Syah*
http://www.jawapos.co.id/

Membaca kumpulan puisi Setetes Air di Lokalisasi, terbitan Balai Bahasa Surabaya dalam rangka Bulan Bahasa 2009, membuka mata hati kita tentang para perempuan penghuni lokalisasi. Tak terlalu mengherankan bila ide puisi-puisi di buku ini agak kering. Harap maklum, kehidupan para PSK memang amat terbatas. Secara sosial, politik, dan ekonomi mereka terpinggirkan. Secara fisik pun mereka dibatasi tembok-tembok hunian. Continue reading “Setetes Air di Lokalisasi”

Melakoni Teater

Fahrudin Nasrulloh
jawapos.co.id

Memasuki ruang itu, rasa temaram hadir lalu meruang. Degup jantung masih tertahan dan gemerisik penonton satu per satu mengisi kursi yang kosong. Hening.

Pementasan monolog Shimpony Patet Pat pun dibuka Studiklub Teater Bandung (STB). Aktor Ayi Kurnia Iskandar tampil. Dia memerankan seorang aktor tua yang merasa nelangsa sendiri dalam hidup karena memilih melakoni hidup sebagai pemain teater. Continue reading “Melakoni Teater”

Bahasa ยป