Saga Para Pahlawan

Zen Rachmat Sugito *
jawapos.co.id

PARA pahlawan tak pernah dilahirkan tapi diciptakan. Mereka diciptakan mula-mula dan pertama bukan untuk dijadikan role-model agar diteladani atau ditiru, melainkan untuk meneguhkan narasi ”perjuangan nasional merebut kemerdekaan”. Pendeknya: untuk kepentingan mereproduksi narasi nasionalisme secara kontinyu. Dengan itu, narasi perjuangan nasional yang terjadi pada masa lampau yang jauh bisa terus-menerus ”dihadirkan” dalam kekinian. Selanjutnya, barulah para pahlawan yang ”diciptakan” untuk kepentingan naratif itu diharapkan jadi ”role-model” yang bisa diteladani dan ditiru. Continue reading “Saga Para Pahlawan”

Menyingkap Fenomena Penyair Muda Madura

Beni Setia
suarakarya-online.com

Tulisan S Yoga, “Geliat Penyair Muda Madura” [SK, 7/4. 2007], mengapungkan sebuah tanya dan satu pseudo jawaban. Pertanyaan itu adalah, dari empat kabupaten di Madura, Bangkalan, Sampang, Sumenep dan Pamekasan, kenapa hanya Sumenep yang banyak melahirkan penyair?

S Yoga mensinyalir stimulus tidak langsung dari tradisi intelektual mengkaji kandungan Qur’an di satu sisi, dan kebiasaan tilawatil Qur”an yang mirip seni baca puisi dan kebiasaan barzanji di pesantren pada kelahiran penyair – Continue reading “Menyingkap Fenomena Penyair Muda Madura”

Sumpah Pemuda dan Nasib Bahasa Daerah

Asarpin *
lampungpost.com

BAHASA Indonesia bermula dari proyek kebangsaan. Ini setidaknya bisa dilihat sejak Sumpah Pemuda 1928, di mana harapan untuk menjadikan bahasa sebagai agenda nasionalisme di kalangan kaum pergerakan mencapai puncaknya dengan dibacakannya ikrar bersama tentang pentingnya memiliki satu bangsa, satu nusa, dan satu bahasa.

Ungkapan “bahasa menunjukkan bangsa” tampaknya mempertegas hubungan lama antara bangsa dan bahasa. Bahasa Indonesia pada mulanya berjalan seiring dengan derap-langkah pergerakan dan nasionalisme. Hubungan sastra dan politik sejak awal begitu intim dan karib. Continue reading “Sumpah Pemuda dan Nasib Bahasa Daerah”

Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia!

Sihar Ramses Simatupang
sinarharapan.co.id

Oki Toshio, seorang novelis diburu karena mengangkat tokoh Otoko, perempuan masa lalunya yang kemudian menjadi pelukis perempuan terkenal. Kisah Okio ini kemudian ditarik pada kegetiran masa lalu Oki. Oki kemudian pergi ke desa itu, mendengarkan lonceng di kuil, mengingat Otoko.

Ada lagi kisah lain, tentang seorang calon rahib di sebuah kuil mengalami pengalaman sekuler “termasuk bersetubuh dengan pelacur” lalu akhirnya mendulang kegelisahan. Di puncak kegelisahan itu. Si tokoh, kemudian membakar kuilnya dengan wajah yang teramat dingin. Continue reading “Mari Membaca Isi (Ratusan) Novel Sastra Indonesia!”

MEMBINCANGKAN TIGA CERPEN GUS MUS

Maman S. Mahayana *

Ketika tahun 1970-an sastra Indonesia dilanda semangat eksperimentasi, sejalan dengan gerakan “kembali ke akar, kembali ke tradisi” sebagaimana yang diusung Abdul Hadi WM, kisah-kisah dunia jungkir balik dalam prosa, termasuk di dalamnya cerita pendek (cerpen), seperti menemukan pembenaran estetik. Absurdisme, melalui perkenalkannya dengan filsafat eksistensialisme, dipandang sebagai representasi dunia jungkir balik itu. Continue reading “MEMBINCANGKAN TIGA CERPEN GUS MUS”

Bahasa »