Sebuah ‘Jembatan’ Bernama Chicklit

F. Dewi Ria Utari
http://majalah.tempointeraktif.com/

Sebuah menara bernama Eiffel. Seorang gadis manja. Seorang pria remaja yang jatuh cinta. Siapa yang tak ingin menjelma menjadi mereka? Rahma Arunita membuat para remaja (perempuan) bersedekap dengan novel Eiffel, I’m in Love dengan rumusan yang sebetulnya sudah lama kita kenal: remaja perempuan yang dirundung cinta, lantas datang seorang lelaki yang semula tampak menyebalkan. Konflik kecil-kecilan yang akan berakhir dengan ciuman (atau paling tidak pelukan atau tiga kata penting itu). Continue reading “Sebuah ‘Jembatan’ Bernama Chicklit”

Requiem untuk Aceh

Idrus F. Shahab, Mustafa Ismail, Yuswardi A. Suud, Nurdin Kalim, F. Dewi Ria Utari
majalah.tempointeraktif.com

Allah hai do do da idi/ Boh gadong biye boh kaye uteun/ Rayeuk si nyak hana peu ma bri/ Aib ngon keji ureung donya keun. (lirik Do do da idi)

Suara perempuan itu seperti semilir angin: bertiup perlahan, hilang perlahan. Di layar kaca, tubuh-tubuh bocah berjajar rapi, mata dan rahangnya terkatup. Tubuh-tubuh kecil yang tak lagi bergerak, beku, tapi suara Cut Aja Rizka Syarfiza, personel kelompok Nyawoung, mendendangkan sebuah lullaby, satu dendang pengantar tidur, Do do da idi. Kita tahu, Do do daidi bukan lagu sedih. Nada-nadanya bergerak lambat dalam skala mayor, tapi pesannya mendalam: jangan pernah takut pada kematian, jika itu merupakan pengorbanan untuk tanah air. Continue reading “Requiem untuk Aceh”

Dari Toko Buku Hingga Layar Kaca

F Dewi Ria Utari
http://majalah.tempointeraktif.com/

Chicklit dan teenlit adalah cerita tentang keajaiban di pasar buku. Tentang sebuah novel dengan judul berbahasa Inggris, Nothing But Love?diindonesiakan menjadi Semata Cinta?yang meledak. Novel yang langsung ludes dalam dua minggu setelah dicetak 3000 eksemplar.

Itulah yang terjadi pada Juli 2004. Penyair Sitok Srengenge, pendiri penerbitan KataKita, tertegun, lebih-lebih penulis novel itu adalah putrinya sendiri. Namun, sukses Nothing But Love memantapkan hatinya untuk menerbitkan buku selanjutnya. Teenlit kedua berjudul Conchita, Pembajak Cinta. Bukan karya Laire, putri tunggalnya. Continue reading “Dari Toko Buku Hingga Layar Kaca”