Requiem untuk Aceh

Idrus F. Shahab, Mustafa Ismail, Yuswardi A. Suud, Nurdin Kalim, F. Dewi Ria Utari
http://majalah.tempointeraktif.com/

Allah hai do do da idi/ Boh gadong biye boh kaye uteun/ Rayeuk si nyak hana peu ma bri/ Aib ngon keji ureung donya keun. (lirik Do do da idi)

Suara perempuan itu seperti semilir angin: bertiup perlahan, hilang perlahan. Di layar kaca, tubuh-tubuh bocah berjajar rapi, mata dan rahangnya terkatup. Tubuh-tubuh kecil yang tak lagi bergerak, beku, tapi suara Cut Aja Rizka Syarfiza, personel kelompok Nyawoung, mendendangkan sebuah lullaby, satu dendang pengantar tidur, Do do da idi. Kita tahu, Do do daidi bukan lagu sedih. Nada-nadanya bergerak lambat dalam skala mayor, tapi pesannya mendalam: jangan pernah takut pada kematian, jika itu merupakan pengorbanan untuk tanah air.

Do do da idi lahir jauh hari sebelum tsunami raksasa menggulung Aceh, akhir tahun 2004. Malah, kata sebuah kisah, berabad lalu, lagu itu sering dilantunkan ibu susu Sultan Iskandar Muda untuk menidurkan bayi kecil yang kelak jadi sosok perkasa itu. Ya, Do do da idi adalah lagu yang lahir dari tradisi panjang. Kelompok Nyawoung tak melakukan banyak hal, seraya membiarkan suara Cut Aja memimpin di depan, bergerak dengan repetisi-repetisinya, sementara denting piano dan alat gesek mengiringi sekali-sekali dari belakang?juga perlahan, seakan-akan takut mengusik melodi utama lagu yang istimewa itu.

Pesannya satu: ajal di tangan Tuhan, tapi kalau manusia bisa memilih, mempertahankan tanah air adalah jalan terbaik. “Sejak awal jiwa patriotik sudah ditanamkan pada anak-anak,” kata Nurdin Daud, penulis lagu komunitas Nyawoung. Hikayat Prang Sabi karya Teungku Cik Pantekulu yang kesohor mendorong manusia memilih jalan tersebut. Teungku Cik Pantekulu menyebut Ainul Mardhiah, ratu bidadari di surga, bakal menyambut mereka yang mati syahid. Alkisah, demikian Hikayat Prang Sabi, seorang pemuda yang hendak ambil bagian dalam perang tersentak dari tidurnya, lalu larut dalam sedu-sedan. Ia bermimpi bertemu ratu bidadari di surga. Tapi itulah pertemuan yang membuat ia merana: sang ratu menampik cintanya. Ia mendengar ratu itu mengucap bahwa yang berhak atas dirinya hanya pemuda yang syahid di medan tempur. Pemuda itu akhirnya mati di medan perang dan langsung disambut Ainul Mardhiah di surga.

Hikayat Prang Sabi menggambarkan Ainul Mardhiah sebagai bidadari yang istimewa di surga. Tafsir yang?di mata sebagian orang?tentu terlampau profan. Kelompok Nyawoung, dalam lagu Prang Sabil dan Panglima Prang, misalnya, menghindari penggambaran seperti itu. Perjuangan Sultan Aceh pada abad ke-16 dalam dua lagu tersebut dianggap suatu perang suci untuk mendapatkan perkenan ilahi (Dudo Tuhan Bri Ainul Mardhiah).
Lebih dari seratus tahun setelah itu, kita mendengar betapa tipisnya kebebasan memilih di Serambi Mekah. DOM (daerah operasi militer 1989-1998) diberlakukan, dan kelompok musik Nyawoung merekam sebuah kejadian mencekam.

Suara Cut Aja Rizka Syarfiza terdengar deras tapi jernih di antara bunyi serune kale (sejenis seruling) yang berisik dan gendang rapa’i yang bertalu-talu. Ha-ro Hara lagu bertempo cepat, irit nada dan jelas sekali melodinya memang tidak ditujukan buat mengelus-elus telinga pendengarnya. Kita tahu, Cut Aja menyanyi, tapi juga bersaksi tentang suatu peristiwa di Desa Beutong Ateuh, Aceh Barat, pada 1999. Saat itu desa hikuk-pikuk oleh suara letusan. Haro Hara tak memerinci sumber bunyi. Kita tahu, Cut Aja serta kelompoknya hanya menyebut pendek: meuketum beude teungoh cot aroe, melukiskan bunyi-bunyi letusan di siang itu. Mereka hanya menyinggung “akibat” kejadian yang berpuncak pada kematian seorang ulama beken di desa itu, Teungku Bantaqiah, di halaman rumahnya.

Seperti Do do daidi, Haro Hara juga punya pijakan sejarah panjang. Diperkirakan, kedatangan tentara asinglah yang ikut andil melahirkannya. Mungkin saat Prang Aceh dimulai, kala 3.000 pasukan Belanda mendarat di Kutaraja, April 1873. Mungkin saat multinasional VOC dan British East India Company, disusul kompeni (pemerintah Nederlandsche-Indie) mencoba menguasai kekayaan alam Aceh, akhir abad ke-19, awal abad ke-20.

Haro Hara muncul kembali dengan aransemen baru, lirik lama yang dibubuhi bingkai masa kini (kematian Teungku Bantaqiah). Mungkin sebuah era baru dalam perjalanan musik Aceh telah lahir?generasi baru sesudah lagu-lagu manis macam Bungong Jeumpa yang populer pada era 1980. Bungong Jeumpa, lagu dengan lirik yang memperlihatkan pesona pegunungan Aceh Besar. Liriknya tentang bunga yang berwarna-warni, putih, kuning, dan merah. Melodinya sangat manis, ringan, cepat memukau orang dewasa, mudah disenandungkan buat menidurkan anak.

Kita tahu, ada cara lain lagi memandang perbedaan Haro Hara dan Bungong Jeumpa. Memang tak ada pembatasan yang benar-benar mutlak. Tapi sepintas lalu bisa disimpulkan bahwa Haro Hara mencerminkan karakter musik pesisir yang ritmis, dan kaya perkusi, sedangkan Bungong Jeumpa adalah musik pedalaman yang cenderung melodius.

Jauhari Samalanga, seniman produser Komunitas Nyawoung, punya penjelasan lebih bagus. Musik dari daerah pesisir Aceh biasanya lebih kencang, beat-nya cepat, temanya patriotik, dan cengkok vokalnya lebih kuat. Sebelum menjadi vokalis yang baik, teriakannya harus mampu mengalahkan suara deru ombak di pantai. Sedangkan musik dari daerah pegunungan seperti didong lebih lembut, dan melankolis. Tema yang dibawakannya biasanya juga tak segarang musik pesisir. Tapi keduanya menuntut kemampuan vokal istimewa. Untuk menjadi vokalis didong yang baik, seseorang harus berendam dalam air dan berteriak sekuat tenaga. Jika suaranya terdengar sampai ke luar, ia punya potensi bagus. “Tapi cengkok pesisir tetap lebih kuat,” kata Jauhari Samalanga.

Musik Aceh adalah musik dengan sebuah interupsi panjang, hasil intervensi kebijakan pemerintah pusat. Daerah operasi militer, kebijakan politik tangan besi pemerintahan Jakarta yang brutal itu, muncul pada 1989. Ketika itu musik Aceh tidak juga menunjukkan perkembangan luar biasa. Pada 1980-an musik Aceh banyak membahas hal biasa: perangai manusia yang berubah, pujian keindahan alam, dan perjalanan. Tapi, dalam perjalanannya, DOM yang begitu ketat mencekik kemudian mengakhiri perkembangan perlahan itu. Industri musik berhenti, dan tidak ada kreativitas yang pantas dicatat.

DOM dicabut pada 1998, setahun berselang Komunitas Nyawoung berdiri. Ada dua titik bersinar dalam musik Aceh pasca-DOM: satu, Komunitas Nyawoung dengan segala kecenderungannya pada musik pesisir utara, Langsa dan Meulaboh; satu lagi, Rafly, bekas guru mengaji yang banting setir menjadi penyanyi. Ia membawakan syair-syair dari Aceh Selatan yang punya tradisi zikir kuat. Sementara Komunitas Nyawoung punya album Nyawoung, World Music from Aceh, Rafly punya Hassan-Hussein, Ainal Mardhiah dan satu albumnya yang istimewa, The Fighting Spirit. Keduanya sama-sama mengukuhkan sebuah tradisi baru: musik yang bisa berdiri sendiri, tanpa menjadi bagian dari tari. Selama ini musik Aceh seolah-olah figuran dalam seni; pelengkap tari seudati ataupun tari saman yang terkenal.

Rafly vokalnya kuat, melodinya sederhana, syairnya dominan. Beudoh tapeutheun maruwah bangsa, seureuta doa beurayeuk saba, asoe nanggroe meutuwah, bek le? gadoh lam dawa, tajak beusare… langkah beusapeu peugah (mari pertahankan harga diri bangsa, serta doa perbesar sabar, anak negeri bertuah, jangan lagi sibuk bertengkar, mari satukan? langkah dan bicara.) Dengan serune kale dan genderang rapa’i bergemuruh, Rafly menyanyikan kerinduan akan hidup tenang, hidup damai. Suaranya lincah, bermain-main, bergerak di antara nada-nada bersahaja. Musiknya sesuatu yang dijumpai sehari-hari, persoalan kontemporer: dari dunia yang berubah pesat, pengorbanan dan kepahlawanan Hassan-Hussein, dua cucu Nabi Muhammad saw, hingga rasa jenuh yang tidak tertahankan terhadap kekerasan yang begitu betah di tanah Serambi Mekah.

Rafly melantunkan lagu berjudul Hom, artinya tak tahu. Musiknya merekam sebuah masa tidak menyenangkan: ketika kata-kata yang keluar dari mulut tiap-tiap bangsa Aceh selalu mengandung risiko. Ia terus bersenandung. Hom, katanya, terhadap aneka macam pertanyaan: siapa yang memukul? Siapa yang korupsi? Semua jawab berujung pada satu kata, hom.

Tapi sekarang layar televisi merekam kejadian-kejadian tak terbayangkan: daratan yang tertutup air berlumpur, penuh kayu dan tubuh-tubuh manusia yang berserak. Desember memang bulan yang biasanya mendatangkan banjir. Mata uroek, sijingkai ule. Tutong ka teune, hanso eks kira ?lebih kurang artinya: jarak matahari dengan kepala tinggal sejengkal, tiada lagi yang bisa menjinakkan sengatannya kecuali iman. Tapi ini dunia yang sekonyong-konyong memperlihatkan wajah paling seram. Tsunami menenggelamkan kota-kota.

Sebuku, seni ratapan masyarakat Gayo, terdengar berulang-ulang di televisi. Lagu kematian yang mengiringi seorang ibu yang mengangkat bayinya yang berlumpur dan tak bergerak, atau tangis seorang anak yang keluarganya pecah. Sebuku adalah ungkapan spontan yang mengiringi perpisahan dengan si mati.

Kita mendengar: Rafly berkejaran dengan tsunami. Bumi terguncang, ketika di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, bakal diadakan lomba maraton, dan Raf-ly salah satu yang akan menghibur. Gempa yang terjadi beberapa saat sebelum ia naik pentas. Rafly bergerak cepat, ia memutuskan pulang ke rumahnya di Lambaro Sket dengan mobilnya. Tapi di tengah jalan air menghadang. Bersama keluarganya, ia naik ke sebuah rumah berlantai dua, tak jauh dari kediamannya. “Air sempat mengenai kaki saya, saat hendak naik,” katanya kepada Tempo yang menjumpainya di posko forum LSM Aceh, Banda Aceh.

Tsunami mengejar siapa saja, termasuk para seniman Aceh. Bahkan bencana datang ketika sekitar seratus seniman Aceh berkumpul untuk memilih pengurus baru, pengurus Dewan Kesenian Aceh (DKA). Hingga tulisan ini diturunkan, penyair Maskirbi, penyair Deny Pasla, penulis cerpen Musmarwan Abdullah, seniman tari Syeh Wan, belum ketahuan di mana rimbanya. Nasib gitaris Kelompok Nyawoung, Dedy Andrian, juga sama. Itu pun belum terhitung para seniman di Kota Meulaboh, kota dengan aset seniman terbesar di Aceh.

Ya, para seniman kini tidak cuma bercerita tentang kematian. Kematian sesuatu yang dekat. Jauhari Samalanga, produser Kelompok Nyawoung, memperkirakan: tsunami memusnahkan sekitar 40 persen kesenian Aceh. Tiada yang dapat menghalangi kekuatan yang begitu besar. Ya, sejarah akan mencatat, dan requiem, lagu kematian, akan ditulis. Tapi sebelumnya, suara perempuan di layar kaca tetap seperti semilir angin: bertiup perlahan, hilang perlahan.

10 Januari 2005