Tag Archives: Gde Agung Lontar

Sebuah Catatan, Lomba Cerpen DKR 2013

Gde Agung Lontar *
Riau Pos, 8 Des 2013

SETELAH beberapa tahun sepi dari perhelatan lomba, maka pada tahun ini, Dewan Kesenian Riau (DKR) kembali menaja Lomba Menulis Cerpen DKR 2013 dan beberapa kegiatan kreatif lainnya. Kegiatan-kegiatan yang digelar DKR ini tentu menjadi torehan penting dalam kegiatan kebudayaan, khususnya kreativitas sastra di Riau. Namun, dalam beberapa hal diberi catatan, paling tidak dalam hal lomba cerpen.

Tuhan@el-langit.com

Gde Agung Lontar
http://www.riaupos.com/

Tiba-tiba saja sebuah alamat yang asing masuk ke dalam kotak masuk surelku. tuhan@el-langit.com.

Apa pula ini?; pikirku. Apakah ada seseorang yang tengah iseng? Dini hari itu aku belum lagi mengantuk, karena itu komputer kuhidupkan dan berselancarlah aku ke dalam dunia maya internet. Beberapa situs segera kubuka secara bersamaan, dan tentu saja satu di antaranya adalah laman-laman lampu merah. Maklumlah, lagi pusing begini. Apalagi beberapa hari belakangan ini dunia maya sedang heboh sekali dengan video-video yang berisi adegan-adegan syur dari orang-orang yang katanya mirip tokoh selebriti. Dan aku hanyalah salah satu dari sekian puluh juta yang akhirnya ikut tergoda.

Kupu-kupu Kawat

Gde Agung Lontar
http://batampos.co.id/

Gadis kecil itu bernama Nirina. Usianya mungkin 8 atau 9 tahun. Wajahnya tirus, putih kepucatan, dengan tatap mata yang sayup. Tetapi, ia suka tersenyum. Dan ketika itu, tatapannya jadi berbinar seperti matahari di cerah pagi hari. Ia duduk di kursi roda yang dapat dilipat, yang disepuh krom mengilat, dengan tempat duduk kulit yang dilapis sebantal tipis. Sepasang kakinya kecil, dan lumpuh. Kata dokter, ia mengidap polio. Sudah berbilang tahun.

Menari di Mentari

Gde Agung Lontar*
http://www.riaupos.com/

Lelaki itu terus menari, di atas mentari. Dari kejauhan seringkali tubuhnya kelihatan seperti hanya selarik siluet, yang tersamar dalam cerlang cahya perak. Terus saja ia menari, dalam komposisi yang barangkali hanya ia sendiri yang mengerti. Wajahnya pasi, seperti tanpa ekspresi. Sesekali nunduk, lalu tiba-tiba menyentak hingga tengadah ke langit, sehingga rambutnya yang panjang selewat bahu itu tergerai dalam rentak gelombang yang magis, lalu menimbulkan percik-percik bara kembang api kala bersinggungan dengan riak mentari.