Menari di Mentari

Gde Agung Lontar*
http://www.riaupos.com/

Lelaki itu terus menari, di atas mentari. Dari kejauhan seringkali tubuhnya kelihatan seperti hanya selarik siluet, yang tersamar dalam cerlang cahya perak. Terus saja ia menari, dalam komposisi yang barangkali hanya ia sendiri yang mengerti. Wajahnya pasi, seperti tanpa ekspresi. Sesekali nunduk, lalu tiba-tiba menyentak hingga tengadah ke langit, sehingga rambutnya yang panjang selewat bahu itu tergerai dalam rentak gelombang yang magis, lalu menimbulkan percik-percik bara kembang api kala bersinggungan dengan riak mentari. Sementara, kedua tangannya yang semula menangkup di depan bidang dadanya tipis, serentak serempak terpentang dalam posisi horisontal yang nyaris sempurna. Gelombang hawa panas pun lalu berhamburan, bagai disapu sepasang sayap maharaksasa, dan lalu kita di bumi pun menyebutnya sebagai lidah matahari.

Lelaki itu terus menari, di atas mentari. Tak peduli ia pada panas lima ribu lima ratus lima puluh lima derajat celsius permukaan mentari yang menyala melelehkan menjalar dari telapak kakinya. Tak peduli ia pada cahaya keperakan yang begitu cemerlang menyilaukan retina matanya. Ya. Panas itu tak lebih leleh dari beku es yang membatu dalam hatinya sebesar minus lima ribu lima ratus sembilan puluh dua derajat celsius. Cahya perak itu tak lebih silau dari kemilau bola matanya yang hijau menghijau. Semuanya bagai biasa saja baginya. Ia telah melintasi segala rasa pedih itu. Ia telah melewati semua daya tipu itu. Karena itu baginya yang terpenting sekarang adalah terus menari, terus menari, terus menari: di atas mentari.

Lelaki itu telah melewati masa enam ribu enam ratus enam puluh enam tahun; masa yang begitu purba, dengan berbilang peristiwa. Ia telah melewati Ziggurat. Ia telah mendaki piramid. Ia telah merasuki Lembah Indus. Ia telah menghitungi pilar-pilar Parthenon. Ia telah menjadi suar Menara Alexandria. Ia telah menjelajahi tembok Chin Shi Huang Ti. Ia telah menyelami Atlantis. Ia telah menapaki Borobudur. Ia telah melihati World Trade Center ambruk. Ia telah tahu semua. Tapi yang ia dapati hanya luka.

Luka.
Bercampur duka.
Menjadi derita.
Derita.

Jeritan mentari, barangkali hanya di dalam hati. Lalu ia mengibaskan rambutnya kembali, berputar menjadi badai. Mentari berlari. Meredup. Merecup derita di hati.

Adakah yang lebih berarti selain menari? Ia berbisik di tepi hati, yang sunyi. Karena hidup ini seperti berlari, dari kakinya yang kurus seperti tulang yang kering. Payah ia menyeret. Tapi ia harus terus berlari. Menari. Berlari. Menari. Di mentari.

Puluhan tahun sudah ia menyapa diri, tapi seperti tak pernah mendapat jawab. Awan gelap seakan selalu menyaput mengabut mengelabu. Bagai badai yang tak pernah letih, berputar pusing dalam memuting. Beliung. Yang membusai tubuhnya menjadi serpihan-serpihan. Awan yang menyerpih. Mengapas perih. Mengabar rintih.

Lelaki itu terus menari, di atas mentari. Panas lima belas juta lima belas ribu lima belas derajat celsius di ceruk diri: hanya membakar hati. Tapi tak hangus! Tapi terbakar! Tapi tak bara! Tapi terbakar! Tapi tak abu! Tapi terbakar! Yang memedihkan, justru membuat tariannya kian lebih gemulai, seperti helai jelai dituai badai.

Padahal payah sudah ia mencoba pergi dari diri yang tak terpahami ini. Siapa yang dapat memberi arti? Ia sering terbelah-belah sendiri ? seperti amuba saja; pikirnya dalam hati, tapi yang bisa kembali. Separuh ingin pergi menyepi, sebagian hendak melajak ombak, sebelah hendak memacak kehendak, yang lainnya hendak yang lainnya pulak. Padahal ia hanya sendiri. Apakah ia harus berbagi? Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.1) Karena itulah ia harus terus menari. Menari. Agar terjaga harmoni.

Ya, ia harus terus menari, agar tetap terjaga harmoni. Tetapi, sampai kapan? Apakah sampai letih diri ini? Tetapi letih sudah berkekali. Apakah sampai luka diri ini? Tetapi luka sudah berkekali. Apakah sampai duka diri ini? Tetapi duka sudah berkekali. Apakah sampai mati diri ini? Tetapi mati pun sudah berkekali. Apakah sampai hati diri ini?

Tetapi hati tak sampai-sampai.

Kadangkala ia suka berdiri-diri.

?Hidup mungkin membenci diri ini,? kataku kepadaku. ?Seperti telah meninggalkanku. Dahulu, diriku seperti selalu dikelilingi oleh serangkaian keajaiban. Tetapi bertahun-tahun belakangan ini tak lagi. Aku tak bisa lagi mengharapkan hujan turun ketika ranting hati sedang kering. Aku tak bisa lagi mengharapkan purnama cemerlang ketika mata sedang buta. Aku tak bisa lagi mengharapkan desau hembusan angin ketika tuli membajak telinga. Apakah yang telah terjadi? Kenapa ia seperti meninggalkan diri? Apakah ada kesalahan yang telah kuperbuat kepadanya??

?Hidup barangkali tidak meninggalkanmu,? kataku pula kepadaku, ?tetapi kaulah yang meninggalkan hidup. Hidup dan kehidupan. Kau dan hidup seharusnya saling berkelindan, saling jalin menjalin, hingga menjadi satu, menjadi kehidupan. Kehidupan.?

?Tetapi, aku tidak pernah meninggalkannya. Aku hidup.?

?Hidup dan hidup, seringkali dua hal yang berbeda. Barangkali kau hidup, bernyawa, tetapi kau tidak menjalankannya. Seperti sebuah kendaraan, kau tidak pernah mengendarainya, kecuali hanya menghidupkannya di dalam garasi. Kau mungkin terlalu takut bila kendaraan itu dijalankan ia akan tergores atau rusak, atau setidaknya kotor. Kau terlalu menyayanginya, hingga ia tidak bermanfaat bagimu, tidak bermanfaat pula bagi orang lain. Atau, mungkin saja karena kau sendiri yang tidak tahu cara mengendarainya? Kalau itu yang terjadi, mungkin masih bisa dimaafkan. Tetapi, bagaimana mungkin orang yang tahu Ziggurat hingga Atlantis bisa senaif itu? Bukankah hanya akan menjadi sebuah anekdot yang menggelikan??

?Diam kau!? tiba-tiba aku mendengkingi diriku. ?Ketika berbicara tentang hidup dan kehidupan, semua orang akan menjadi naif. Orang butalah yang akan melangkah ke jalan bara, orang tulilah yang akan berdiri di sisi nafiri. Orang bisulah yang akan berbicara di kuburan.?

?Air beriak tanda tak dalam. Tong kosong nyaring bunyinya.?

?Tetapi, yang kurasakan barangkali ?tidak seperti yang dua kaukatakan tadi? tetapi lebih kepada kepercayaan diri; bukan karena terlalu sayang atau tidak mengerti. Atau barangkali lebih buruknya adalah ketakutan. Aku takut orang tidak akan bertepuk-tangan usai lagu kunyanyikan. Aku takut orang tidak akan memberi puji usai puisi kusajakkan. Aku takut orang tidak akan mengangkat salut usai pidato kupodiumkan.?

?Barangkali kau takut kepada dirimu sendiri!? ejekku.

?Tidak. Aku tidak takut kepada diriku sendiri,? bantahku. ?Perkataan tolol apa itu? Kau bahkan barangkali tidak tahu tentang apa yang kau katakan!?

?Penakut!? seruku lagi. ?Penakut yang paling penakut! Bahkan kepada dirinya sendiri!?

?Diam kau!?

Aku terdiam.

?Tetapi, ketakutan bukanlah sesuatu yang memalukan,? kataku lagi beberapa saat setelah berselang. ?Untuk banyak kasus, rasa takut justru merupakan alarm alam. Kita takut kobaran api, karena kita tahu ia akan membakar kita. Kita takut kepada harimau karena kita tahu ia akan dengan mudah melukai kita. Kita takut pada badai topan karena kita tahu ia akan menghumbalangkan tubuh kita. Tetapi, ada ketakutan yang lebih buruk dari itu semua: itulah ketika ia berubah menjadi pengecut!?

?Aku bukan pengecut!? aku memburangsang tersinggung. ?Kaujaga mulut kau kalau bicara! Mulut kau harimau kau, ia akan menerkam kau kalau kaul epas sembarangan. Mulut kau juga adalah sebilah pedang, yang akan menebas leher kau sendiri kalau kau lalai.?

?Jangan marah begitu.?

Aku menarik napas jengkel.

?Aku sudah berdiri-diri kepadamu, tetapi kau menghinaku.?

?Api harus keluar dari percikan bara peraduan batu api.?

?Untuk apa api; aku sudah menari di atas mentari.?

?Ya, mentari yang kau sulam sendiri, dalam belacu benakmu.?

?Setidak-tidaknya, itulah mentariku.?

?Begini. Kau ingin berdiri-diri, mengadu kepadaku, bertanya apa pendapatku. Begitu katamu tadi. Tetapi kau seperti tidak sedang berbicara kepadaku. Entah kau tidak mendengarku, atau tidak ingin. Aku rasa ini tidak akan berguna. Aku pergi saja.?

Aku terkejut.

?Eh, jangan merajuk begitu. Nampak Melayu kau kalau begitu.?

?Sudahlah. Ini tidak akan berguna. Hanya jadi permainan kata-kata, yang di negeri ini sudah sedemikian sesak. Salah-salah, aku hanya akan saling menyakiti hati.?

?Kau kelihatannya semakin pintar.?

?Sudah kubilang, permainan kata-kata.?

?Aku tahu, karena itu aku memujimu.?

?Kau juga semakin pintar.?

?Ya??

?Ya.?

?Itulah kebodohan kita.?

?Ya.?

Aku tersesenyum.

Aku tersesimpul.

Lalu lelaki itu terus menari, di atas mentari.

Yang paling berarti bagi seorang lelaki, adalah bagaimana caranya ia bertindak.2) Tetapi ia tidak pernah melakukan apa-apa. Hanya perdebatan dalam diri yang tak berarti. Hanya pertelingkahan dalam masturbasi. Ziggurat dan segalanya hingga Atlantis, hanya memenuhi laci dalam kepalanya; seperti tumpukan arsip tua di sebuah perpustakaan tepi kota. Atau seperti setumpukan ensiklopedi, yang dibeli hanya untuk memenuh-menuhi lemari kebanggaan diri. Berguna, tetapi tidak ada manfaat baginya. Tidak juga bagi yang lainnya. Tak ada yang berkunjung, tak ada yang bertanya. Hingga hanya kian memberatkan kepala.

Karena itulah lelaki itu terus menari, di atas mentari. Tak peduli ia pada panas lima ribu lima ratus lima puluh lima derajat celsius permukaan mentari yang menyala melelehkan menjalar dari telapak kakinya. Tak peduli ia pada cahaya keperakan yang begitu cemerlang menyilaukan retina matanya.

Ya, ia harus terus menari, agar tetap terjaga harmoni. Tetapi, sampai kapan? Apakah sampai letih diri ini? Tetapi letih sudah berkekali. Apakah sampai luka diri ini? Tetapi luka sudah berkekali. Apakah sampai duka diri ini? Tetapi duka sudah berkekali. Apakah sampai mati diri ini? Tetapi mati pun sudah berkekali. Apakah sampai hati diri ini?

Tetapi diri tak sampai-sampai.

Ke hati.
***

Pekanbaru, 00 Maret, 2008

Catatan:
*)Judul cerita pendek ini dipetik dari lagu ?Kisah? yang dinyanyikan oleh Boomerang.
1)Chairil Anwar.
2)Yukio Mishima.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *