Tag Archives: Geger Riyanto

Islam dan Pascamodernisme

Peresensi: Geger Riyanto*
Judul: Nietzsche Berdamai dengan Islam: Islam dan Kritik Modernisme Nietzsche, Foucault, Derrida
Pengarang: Ian Almond
Tebal: 140 halaman
Penerbit: Kepik Ungu
Waktu terbit: April, 2011
Harga: Rp 38.000
http://oase.kompas.com/

Bunuh Diri Kebudayaan

Geger Riyanto
Kompas, 4 April 2011

ADA ungkapan penyair Jerman, Heinrich Heine, ”Di mana mereka membakar buku, ujung-ujungnya mereka akan membakar manusia”. Memang demikian. Memusnahkan teks-teks historikal dan kultural bukan sekadar membakar kertas; untuk mengatakannya dengan mengerikan, ini adalah upaya satu pihak menghapus total pihak-pihak yang dibencinya.

Rumah yang Bertumbuh

Geger Riyanto
http://suaramerdeka.com/

ANEH. Aku merasa ada yang hilang pagi ini ketika lelapku terputus. Aku tak merasakan sebatang pegal yang biasa melintas di punggungku karena semalaman terimpit tubuh gemuk adikku. Kubuka mata dan kudapati adikku tak ada di sampingku, ibuku tak ada di samping adikku, dan adikku yang paling kecil tak ada di samping ibuku. Aneh. Biasanya aku yang bangun paling dini.

Luar-Dalam Sitor Situmorang, Manusia Indonesia

Geger Riyanto*
http://oase.kompas.com/
Judul: Menimbang Sitor Situmorang
Penulis: V.S. Naipaul dkk.
Penerbit: Komunitas Bambu
Waktu terbit: Oktober, 2009
Jumlah hal: xiv+283 hal
Harga: Rp 70.000,-

Dalam kesusasteraan Sitor dikenal sebagai angkatan 45, yang berarti seangkatan dengan nama-nama seperti Chairil Anwar, Idrus, dan Asrul Sani.

Di Penghujung Revolusi

Geger Riyanto
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

BAR itu jauh dari keramaian. Jauh dari lalu lalang manusia yang bermandi peluh demi sebongkah roti, jauh dari jalan utama yang merupakan ban berjalan bagi mereka ?para sekrup kecil ekonomi negara tersebut. Di ujung dalam, tampaklah seorang pria paro baya mengenakan kacamata hitam, masker, dan berjaket. Ia sedang berbicara dengan pria lain dengan topi bermoncong panjang yang nyaris menutupi matanya, dan kemeja lengan panjang bergaris-garis yang dilipat hingga siku.