Goenawan Mohamad: “MANIKEBU TIDAK RELEVAN LAGI”

A. Kurnia
http://komunitassastra.wordpress.com

Di bawah ini adalah petikan wawancara tertulis yang saya lakukan dengan Goenawan Mohamad, yang jawabannya saya terima pada tanggal 25 Agustus 2007 lalu. Rencananya akan saya gunakan sebagai bahan tesis saya, akan tetapi petikan wawancara ini saya kira bemanfaat untuk dibaca, mengingat debat ramai di beberapa mailing list di internet akhir-akhir ini. Continue reading “Goenawan Mohamad: “MANIKEBU TIDAK RELEVAN LAGI””

11/9

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

SAYA melihat New York 11 September 2001. Sampai lewat tengah malam, yang mengepung adalah suasana murung dan cemas, berkabung dan waswas. Orang di pelbagai penjuru terperanjat. Dunia tersentuh: me-reka ingin menemani kota itu, bersama ribuan kandil yang dinyalakan di sudut-sudut jalan, seakan-akan mau ikut mencari mereka yang tak pulang dari puing. Continue reading “11/9”

Havel

Goenawan Mohamad
tempo.co

Sastrawan Cekoslovakia (lahir 1936, wafat 2011), Presiden Republik Cekoslovakia (1989-1992), Presiden Republik Cek (1993-2003)

Havel adalah saksi yang langka. Padanya puisi dan kekuasaan bisa bertaut sebentar di abad politik yang gemuruh, abad ke-20. Ya, sebentar—jauh lebih ringkas ketimbang umurnya yang berakhir pekan lalu, pada tahun ke-75. Continue reading “Havel”

Sang pemikir diambang revolusi [Ali Shari’ati]

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

ON THE SOCIOLOGY OF ISLAM ceramah-ceramah Ali Shari’ati, diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan pengantar Hamid Algar, Mizan Press, Berkeley, 1979, 125 halaman.

TIAP revolusi di abad ini nampaknya dituntut untuk punya pemikir. Pada revolusi Oktober di Rusia 1917, kita melihat Marx serta Lenin. Kemudian, di Cina, Mao. Maka bila di Iran terjadi revolusi, siapa gerangan yang jadi sang filosof dan ideolog? Continue reading “Sang pemikir diambang revolusi [Ali Shari’ati]”

Indonesia: Sebuah Kejutan

Goenawan Mohamad
Antara, 19 Okt 2011

“…sabuk zamrud di khatulistiwa” —Multatuli (1820-1887)

Sebuah metafora bisa memikat, juga ketika ia meleset. Gambaran Multatuli tentang kepulauan ini (ia belum menyebutnya “Indonesia”) berulang-ulang dikutip para pemimpin pergerakan nasional di awal abad ke-20. Tapi kiasan adalah kiasan, bukan batasan. Continue reading “Indonesia: Sebuah Kejutan”