Havel

Goenawan Mohamad
tempo.co

Sastrawan Cekoslovakia (lahir 1936, wafat 2011), Presiden Republik Cekoslovakia (1989-1992), Presiden Republik Cek (1993-2003)

Havel adalah saksi yang langka. Padanya puisi dan kekuasaan bisa bertaut sebentar di abad politik yang gemuruh, abad ke-20. Ya, sebentar—jauh lebih ringkas ketimbang umurnya yang berakhir pekan lalu, pada tahun ke-75. Continue reading “Havel”

Sang pemikir diambang revolusi [Ali Shari’ati]

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

ON THE SOCIOLOGY OF ISLAM ceramah-ceramah Ali Shari’ati, diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan pengantar Hamid Algar, Mizan Press, Berkeley, 1979, 125 halaman.

TIAP revolusi di abad ini nampaknya dituntut untuk punya pemikir. Pada revolusi Oktober di Rusia 1917, kita melihat Marx serta Lenin. Kemudian, di Cina, Mao. Maka bila di Iran terjadi revolusi, siapa gerangan yang jadi sang filosof dan ideolog? Continue reading “Sang pemikir diambang revolusi [Ali Shari’ati]”

Indonesia: Sebuah Kejutan

Goenawan Mohamad
Antara, 19 Okt 2011

“…sabuk zamrud di khatulistiwa” —Multatuli (1820-1887)

Sebuah metafora bisa memikat, juga ketika ia meleset. Gambaran Multatuli tentang kepulauan ini (ia belum menyebutnya “Indonesia”) berulang-ulang dikutip para pemimpin pergerakan nasional di awal abad ke-20. Tapi kiasan adalah kiasan, bukan batasan. Continue reading “Indonesia: Sebuah Kejutan”

Van Gogh

Goenawan Mohamad
http://majalah.tempointeraktif.com/

Bagaimana kita bisa bicara tentang Mohammad B.? Pada suatu hari di bulan November 2004 yang dingin, ia membunuh Theo Van Gogh dengan tenang dan brutal di sebuah jalan di Amsterdam. Ketika seniman film itu bersepeda, Mohammad B. menghadangnya, dan menembakkan pistolnya delapan kali. Terkena lutut, Van Gogh terjerembap. Ia diseret. Dalam keadaan luka itu ia memandang orang yang menembaknya dan mencoba berbicara. Tapi Mohammad B. tak menyahut. Continue reading “Van Gogh”

Caping, ‘Kutukan’ yang Mencerahkan

Amarzan Loebis
http://majalah.tempointeraktif.com/

AMAHUSU, Amboina, 29 Juli 2007.

Restoran itu menghadap ke laut. Malam baru saja bangkit. Di langit ada bintang, kemudian lampu-lampu pada kapal yang berlayar perlahan. Di dalam restoran, di semacam latar yang kepanggung-panggungan, satu band oom-oom Ambon memainkan lagu-lagu lama peninggalan big band Glenn Miller dan Benny Goodman. Continue reading “Caping, ‘Kutukan’ yang Mencerahkan”