Wawancara Asrul Sani: “Angkatan 45 Membebaskan Bahasa Indonesia”

Dwi Arjanto, Hermien Y. Kleden
Majalah Tempo, 8 Nov 1999

TIDAK mudah menampilkan sosok Asrul Sani, penyair, sutradara, dan penulis skenario yang oleh orang film kini dianggap legenda. Asrul juga dokter hewan lulusan Institut Pertanian Bogor dan pernah menjadi anggota DPR selama tiga masa jabatan. Pengetahuannya sebagai dokter hewan hampir tidak dipraktekkan. Namun, selaku sastrawan dan seniman film, Asrul Sani tak pernah berhenti berkarya. Continue reading “Wawancara Asrul Sani: “Angkatan 45 Membebaskan Bahasa Indonesia””

Wawancara Sitor Situmorang: “Penandatanganan Manikebu Adalah Tindakan Politik”

Sitor Situmorang (30 Agustus 1999)
Pewawancara: Dwi Arjanto, Hermien Y. Kleden
http://majalah.tempointeraktif.com/

BUKAN hanya puisi yang bisa dibicarakan dari seorang Sitor Situmorang. Hidupnya yang banyak dilewatkan dalam pengembaraan di luar negeri dan komitmen politiknya yang menyebabkan ia berada dalam posisi berseberangan dengan banyak seniman Indonesia pada awal 1960-an, semua itu merupakan dimensi yang tak dapat diabaikan dari ketokohannya yang penuh warna. Continue reading “Wawancara Sitor Situmorang: “Penandatanganan Manikebu Adalah Tindakan Politik””

Wawancara Paramoedya Ananta Toer: “Yang Tidak Setuju, Ya minggir Saja”

Mustafa Ismail, Arif Zulkifli, Hermien Y. Kleden, Mardiyah Chamim
http://majalah.tempointeraktif.com/04 Mei 1999

SEBELUM berangkat, Pram bersedia menerima Mustafa Ismail, Arif Zulkifli, Hermien Y. Kleden, Mardiyah Chamim, dan fotografer Robin Ong dari TEMPO hingga beberapa kali. Sembari mengenakan kaus putih dan kain sarung, Pram, ketika menjawab pertanyaan TEMPO, sesekali suaranya meninggi dan keras tatkala menjawab pertanyaan agak sensitif. Continue reading “Wawancara Paramoedya Ananta Toer: “Yang Tidak Setuju, Ya minggir Saja””

Merenungi Mimpi Si Pendobrak Zaman

Hermien Y. Kleden
http://majalah.tempointeraktif.com/

”…Aku akan mati di puncak kejayaanku. Tanpa cinta. Tanpa rindu?,”demikian tutur dramawan Bertolt Brecht, seperti dikutip Ronald Hayman dalam Brecht, A Biography.

Ini sebuah nada depresi. Tetapi Brecht, seperti juga drama-dramanya, adalah simbol dari pemberontakan dalam nada balada. Puluhan opera dan baladanya adalah serangkaian nyanyian pemberontakan yang menampilkan kritik sosial yang tajam. Dan, tampaknya, itulah sebabnya naskah Brecht selalu menarik hati para dramawan Indonesia, seperti halnya N. Riantiarno, yang dikenal selalu menampilkan kritik sosial melalui pertunjukannya. Continue reading “Merenungi Mimpi Si Pendobrak Zaman”

Umar Kayam: “Saya Merasa Jadi Bagian dari Dagelan”

Umar Kayam
Pewawancara: I G.G. Maha Adi, Wicaksono, Hermien Y. Kleden,
http://majalah.tempointeraktif.com/

Umar Kayam adalah gambar multidimensi. Dilihat sepintas, boleh jadi menarik, dipandang lama-lama, yang lebih menarik ternyata ada di bawah permukaan. Di dalam diri pria ini, yang sedang menyongsong hari jadinya yang ke-67, berpadu berlapis-lapis matra yang kualitasnya telah teruji oleh waktu, pengalaman, dan juga, mestinya, kematangan. Continue reading “Umar Kayam: “Saya Merasa Jadi Bagian dari Dagelan””