Merenungi Mimpi Si Pendobrak Zaman

Hermien Y. Kleden
http://majalah.tempointeraktif.com/

”…Aku akan mati di puncak kejayaanku. Tanpa cinta. Tanpa rindu?,”demikian tutur dramawan Bertolt Brecht, seperti dikutip Ronald Hayman dalam Brecht, A Biography.

Ini sebuah nada depresi. Tetapi Brecht, seperti juga drama-dramanya, adalah simbol dari pemberontakan dalam nada balada. Puluhan opera dan baladanya adalah serangkaian nyanyian pemberontakan yang menampilkan kritik sosial yang tajam. Dan, tampaknya, itulah sebabnya naskah Brecht selalu menarik hati para dramawan Indonesia, seperti halnya N. Riantiarno, yang dikenal selalu menampilkan kritik sosial melalui pertunjukannya.

Opera Ikan Asin disadur dari naskah Brecht yang berjudul asli Die Dreigroschenoper. Naskah yang ditulis dalam bahasa Jerman itu sesungguhnya sebuah drama yang berwarna muram dan pedih. Tetapi, Riantiarno?melalui humor yang kritis?kemudian menyulapnya menjadi sebuah operetta yang tetap manis. Bagaimanapun, adalah Riantiarno yang kemudian memasyarakatkan karya-karya Brecht melalui Teater Koma.

Lahir di Augsburg, Jerman, dengan nama Eugen Berthold Friedrich Brecht, pada 10 Februari 1898, ia adalah putra pasangan kelas menengah Berthold Friedrich Brecht dan Wilhelmine Friederike Sophie Brezing. Sejak kecil, Brecht sudah menunjukkan tanda-tanda ”pemberontakan”. Ia menolak berlatih piano, biola, gitar. Ia melawan aturan-aturan rumah, dogma agama, dan tatanan sosial yang, menurutnya, berbau borjuis. Keluarganya mengenal Brecht kecil sebagai pemimpi yang gemar merenung. Bakat menulisnya sudah cemerlang sejak kecil. Ia sempat melewati hidup yang konvensional sebagai pekerja di rumah sakit tentara pada usia 20 tahun?sebelum menjadi seniman besar. Sikap antiborjuisnya makin tegas setelah Perang Dunia I. Ia mulai menulis karya yang menunjukkan warna-warna pemberontakan. Baal (1923), karya pertamanya, menimbulkan heboh pada masa itu karena ia menulis tentang petualangan seksnya melalui Baal, Dewa Kesuburan dalam Alkitab.

Brecht memang perayu ulung yang dapat menarik lawan jenisnya dengan cerdik dan elegan, dengan kecupan di punggung tangan. Dua perkawinannya?dengan Marianne Zoff dan Helena Weigel?diselingi sekian penyelewengan. Wanita yang sulit ditaklukkan adalah besi berani yang menantang energi dan imajinasinya.

Pada 1928, ia memproklamirkan diri sebagai komunis sejati dan tumbuh menjadi sastrawan dan dramawan berhaluan kiri yang paling terkenal pada zamannya. Ia membuat terobosan baru dalam seni pertunjukan teater. Karya-karya epiknya?ringan, lugas, mudah dipahami?bertentangan dengan gaya berteater Jerman umumnya pada masa itu. Ia menulis puluhan karya sepanjang hidupnya. Die Dreigroschenoper atau Opera Ikan Asin, sebuah opera balada yang ditulis 71 tahun silam, menggambarkan semangat sang pengarang memerangi kemapanan sosial. Satu hal yang nyata diperlihatkan Brecht sepanjang hidupnya adalah kemampuannya merenungi mimpi-mimpi yang jauh melampaui batas zaman: menampilkan sikap antiborjuis yang tegas di tengah lingkungan dan budaya borjuis, dan terus meyakininya sebagai kebenaran. Sebuah sikap yang ternyata tetap aktual satu abad lebih setelah kelahirannya?seperti yang diinterpretasikan Nano Riantiarno dalam Opera Ikan Asin sepanjang dua pekan, April ini.

Pada 1933, Brecht dibuang ke Skandinavia. Delapan tahun kemudian, ia diasingkan ke Amerika. Tampaknya, ia bukan sosok yang dicintai tanah airnya. Kewarganegaraannya dicabut, buku-bukunya dibakar, dan ia diasingkan dari pentas teater Jerman. Periode 1937-1941 melahirkan karya-karya terbaiknya, antara lain Mother Courage and Her Children (1940). Delapan tahun kemudian, ia kembali ke tanah airnya. Setahun kemudian, ia meninggal di Berlin Timur. Ia meninggalkan puluhan naskah drama dan sebuah konsep tentang kegetiran hidup rakyat kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*