MENGGIRING KE WILAYAH TANDA TANYA

Monolog untuk Buku MMKI – Nurel Javissyarqi
Iskandar Noe

Ya, awalnya catatan saya untuk MMKI bersifat teknis. Yang saya kritisi itu fisiknya kerna yang saya lihat dan pahami lebih dulu kan sosok fisiknya. Itu mulai dari Cover, Sub-titles, Pengantar dan Bagian- Bagian. Dan simpulan saya pada catatan waktu itu ya lebih bersifat umum. Saya juga berpesan pada penulisnya bahwa saya belum selesai membacanya. Continue reading “MENGGIRING KE WILAYAH TANDA TANYA”

Membaca Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia:


Membaca Subyektivitas (Nurel) atas Subyektivitas (Ignas Kleden dan Sutardji Calzoum Bachri)
Siwi Dwi Saputro *

Telah hadir buku Esai (mungkin kritik juga) yg berjudul Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia yang ditulis oleh Nurel Javissyarqi. Buku setebal 500 halaman ini semakin mengukuhkan pandangan bahwa kritik sastra itu merupakan karya kreatif juga.

Sastrawan menafsirkan hidup dan lalu menuliskan ke dalam karya sastra. Kritikus sastra menafsirkan karya sastra dan lalu menuliskannya dalam bentuk kritik sastra.
Jadilah kritik sastra sebagai karya re-kreasi. Kreasi atas kreasi, tafsir atas tafsir. Continue reading “Membaca Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia:”

Clifford Geertz, Teori Kebudayaan, dan Studi Indonesia

Ignas Kleden *
jehovahsabaoth.wordpress.com

Pada 31 Oktober 2006 Clifford Geertz meninggal dunia dalam usia 80 tahun. Menurut pengakuannya sendiri, dari usia yang panjang itu 10 tahun lebih dihabiskannya dalam penelitian lapangan (di Jawa, Bali, Maroko) dan 30 tahun digunakannya untuk menulis tentang hasil-hasil penelitiannya, dengan tujuan menyampaikan pesona studi kebudayaan kepada orang-orang lain. Continue reading “Clifford Geertz, Teori Kebudayaan, dan Studi Indonesia”

Sutan Sjahrir: Etos Politik dan Jiwa Klasik

Orasi mengenang Sutan Sjahrir, 8 April 2006, TIM, Jakarta
Ignas Kleden

Dalam dua pucuk suratnya yang ditulis dari penjara Cipinang dan dari tempat pembuangan di Boven Digoel, Sjahrir mengutip sepenggal sajak penyair Jerman, Friedrich Schiller. Dalam teks aslinya kutipan itu berbunyi: und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein— yang maknanya: hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan. Menurut pengakuannya, kalimat-kalimat yang indah itu dikutipnya dari luar kepala, jadi kita dapat menduga petikan tersebut sangat disukainya dan besar artinya buat hidupnya. Continue reading “Sutan Sjahrir: Etos Politik dan Jiwa Klasik”