MENGGIRING KE WILAYAH TANDA TANYA

Monolog untuk Buku MMKI – Nurel Javissyarqi
Iskandar Noe

Ya, awalnya catatan saya untuk MMKI bersifat teknis. Yang saya kritisi itu fisiknya kerna yang saya lihat dan pahami lebih dulu kan sosok fisiknya. Itu mulai dari Cover, Sub-titles, Pengantar dan Bagian- Bagian. Dan simpulan saya pada catatan waktu itu ya lebih bersifat umum. Saya juga berpesan pada penulisnya bahwa saya belum selesai membacanya.

Lantas ada perubahan catatan?

Nah, Nurel lewat messenger meminta saya membuat catatan lagi. Memang tidak mudah mencerna MMKI secara keseluruhan. Buku itu seperti lukisan dengan lapis-lapis (layers) yang tidak dipisahkan. Membacanya harus jeli juga, bak menatap selembar peta besar dengan berbagai simbol-simbol disana dan harus dibaca legendanya. Tetapi sebagai pembaca, saya mencoba dua hal: Pertama mencoba menyelesaikan bacaan dan memahami sejauh kemampuan saya. Yang kedua, mencoba memberikan catatan seperti yang saya uraikan sekarang ini. Tentu saja kemudian saya mengirimkannya kepada Nurel, dengan harapan semoga ini semua ada manfaatnya bagi kita.

Menggiring ke Wilayah Tanda Tanya. Apa maksudnya?

Ya, itu permintaan untuk catatan yang saya buat kemudian: Mari kita giring semuanya ke ranah tanda tanya (?) Karena baru disitu kita bebas memahami totalitas makna teksnya. Seraya saya mengutip Rendra: Didalam ilmu surat, tak ada juara nomor satu, oleh sebab masih ada ribuan teks yang tersembunyi atau gampang-gampangan dilewati begitu saja. Awalnya sebelum pembacaan selesai, saya berpendapat: Ini teks kok arahnya kemana-mana, terkesan nggladrah. Pendapat itu sebenarnya justru muncul ketika kurang meneliti gaya bahasa yang digunakan. Kesan itu muncul pada pihak pembaca, kerna tanpa adanya pembaca, sebuah teks tak mempunyai pengaruh apa-apa. Ia hanya bayang-bayang yang tak dapat berbicara. Hubungan teks dan makna tidaklah begitu sederhana. Tidak sesederhana seperti mengibaratkan kopi didalam cangkir yang dapat dituang begitu saja tanpa kita menambahkan sesuatu pada isinya. Dalam pengertian ini… (Dan kalau saya boleh mengutip catatan Sunu Wasono tentang MMKI sebagaimana dikutip oleh Siwi D Saputroi ): ….. walau karya ini masih di wilayah abu-abu. Dianggap Analisa Wacana bukan, dianggap Novel juga bukan. Kalau beberapa subyektivitas Nurel (tentang penjelajahan dia kemana-mana dalam proses menulis buku itu dihilangkan) dan diskursus terhadap karya SCB dibangun lebih kuat maka akan menghasilkan rekomendasi yang mantab. Wilayah abu-abu sebagaimana dikemukakan oleh Sunu Wasono menurut saya hanya mencerminkan batas ketegasan antara polarisasi hitam-putih. Bagi saya wilayah itu boleh jadi adalah yang saya maksudkan sebagai wilayah tanda tanya (?). Semua pernyataan di situ harus diakhiri dengan tanda tanya. Saya pikir Nurel akan setuju, senada dengan pengakuannya: … Sebab tulisan saya bukan jawaban finis, tetapi tetapi serupa jawaban Jung bersama Freud atau bentuk lain dalam bersikap. Olehnya, rasa teggang juga sama berkesempatan, tidak menutup ruang bantahan yang terurai kini. Tentu diterjemahkan sendiri lebih lapang isinya daripada pengelanaan ini. Maka yang tertanda bisa disebut dugaan awal, yang sudi didialogkan jikalau hadir sanggahan…ii. Menurut saya, jika wilayah tanda tanya itu dibuka (atau pinjam istilah Nurel: Sudi didialogkan), semua hal didalam MMKI bisa diteruskan dalam ruang yang lebih bebas.

Mengapa anda mengatakan di situ ada ruang lebih bebas?

Karena diruang tanda tanya (?) itu saya sebagai pembaca bisa agak kreatif. Sebagai pembaca kan saya harus memahami corak teksnya. Saya pikir di ruang itu saya akan mampu merasakan hubungan pribadi dengan lebih mendalam bagaimana teks itu dituliskan. Beda halnya kalau saya mengambil jarak dan menentukan kaidah-kaidah sebagaimana catatan saya yang awal kepada Nurel: Seharusnya bagian itu ya harus begini, harus begitu, editing itu ya harus begini-begitu. Namun setelah membacanya hingga selesai, teks MMKI (menurut saya) tidak bisa diperlakukan begitu. Sebuah teks akan menjadi karya, kalau teks itu bekerja pada diri seseorang. Hal yang saya lupakan waktu itu adalah bahwa petualangan Nurel tidak berhenti disitu. Serupa itu pula, saya sebagai pembaca juga berusaha menempatkan diri sepanjang pembacaan teks dalam posisi petualang yang rela menangguhkan sebentar pandangan sendiri, karena hanya dengan cara begitu teks akan muncul dan mengatakan sesuatu yang lain daripada yang kita duga sebelumnya. Maka dalam proses tafsir (Eksegesi: Yunani; yang berarti: mengeluarkan), adalah sesat jika kita menganggap bahwa “makna” adalah sejumlah pernyataan yang sifatnya “tetap dan obyektif” dan yang harus dikeluarkan dalam teks. Pada kenyataannya teks baru akan menjadi hidup kalau ada pembaca yang mendengarkannya dengan baik.

Anda ingin mengatakan bahwa penulis dan pembaca harus bekerja sama dengan baik?

Tentu saja: Ya. Sebagai pembaca (mudah-mudahan pembaca yang baik), saya harus menghormati kata-kata dan struktur teks bacaan. Sebenarnya teks dan struktur itu benar-benar memerlukan peranan kita ketika membaca, memahami dan menemukan keterkaitannya. Membaca lantas bukan pasif. Ia adalah kegiatan batin yang khas: Tindakan memberi makna pada teks. Pembaca yang berlaku sebagai pembaca adalah sebuah unsur struktural dalam teks yang hidup dan berbicara. Oleh karena itu pemberian makna pada teks pun pada gilirannya berpindah dari keadaan yang tersembunyi menjadi subyek yang berbicara: Apa yang terselubung menjadi aktual. Itulah sebuah penyingkapan, itulah perwahyuan. Sebuah teks (cerita, syair) hanya dapat berkembang melalui pembaca yang mampu membacanya dengan baik. Tanggung jawab lebih diberikan kepada “makna teks” daripada “teks itu sendiri”.

Kalau begitu, teks bernada Historis-Kritis pada MMKI sudah pada posisinya yang paling tepat?

Bukan paling tepat, oleh sebab perlu pemahaman pada lingkup waktu yang tersendiri. Jika kita amati pada kondisi pembacaan saat ini, kita memberikan makna pada teks yang disusun untuk membahas teks tentang kisah yang terjadi beberapa tahu silam, meskipun nampaknya kisah itu sudah pernah beredar dan sudah diketahui sebelumnya. Namun kisah itu tetap harus dikemukakan dengan jelas. Yang menjadi masalah di sini adalah jika ada gaya penulisan yang tidak memperhitungkan bahwa kegiatan membaca atau menafsirkan teks memiliki sumbangan yang sangat berarti dalam hal pemberian makna. Pendekatan yang saya maksudkan di sini adalah pendekatan yang mau “memahami” sekumpulan teks (baca: MMKI) dalam lingkup waktunya sendiri. Hal ini akan mengasumsikan bahwa teks-teks itu datang dalam waktu dan barangkali juga kultur yang mungkin sudah berbeda. Sebaiknya memang kita tidak meremehkan perbedaan-perbedaan ini, sekalipun itu barulah separuh dari kenyataan yang sebenarnya. Kita tidak bisa memutlakkan hal itu karena tanpa kita sadari bisa jadi telah menyesatkan kita. Kebenaran dasar yang kita pegang adalah keyakinan bahwa teks-teks itu (baca: MMKI) ditulis dengan baik. Nah, jika kemudian teks-teks itu beruntung mendapatkan pembaca-pembaca yang baik, maka tidak diperlukan kategori-kategori: “Meleset”, “sudah lama lewat” ataupun “sangat berbeda”. Maka sebagai produk dari suatu upayaiii perumusan yang teliti, dimana teks-teks itu sendiri telah disusun sedemikian rupa, teks telah mampu untuk berbicara bagi dirinya sendiri. Karena teks-teks apapun dapat menyatakan dan menjelaskan diri dengan baik, asal ada sedikit latihan dari pihak pembaca untuk membacanya dengan baik.

Dalam kaitan dengan MMKI, seberapa jauh teks itu hidup?

Teks yang dilahirkan oleh penulis dan dipublikasikan akan mengalami perjalanan jauh dari asalnya, dan ia tidak akan bisa diputar kembali. Ia seperti bayi yang baru lahir, dan semenjak tali pusarnya dipotong, ia mulai perjalanan itu. Ia akan mengarungi waktu, ruang dan kultur yang jadi tempat hidupnya. Boleh jadi, suatu kali ia akan sampai juga di tempat yang jauh dari tahun kelahiran dan konteks pemahaman masyarakat yang berbeda dari tempat ia dilahirkan. Toh apabila suatu kali kepada teks-teks itu dilakukan dekontekstualisasi, dikeluarkan dari konteksnya (sebuah istilah yang kurang enak didengar) teks-teks itu masih juga hidup sekalipun penulis, pendengar dan konteks tempat teks itu lahir sudah tiada. Teks yang baik tentu sudah dirancang harus bekerja sendirian dan dapat berdiri sendiri. Sudah dirancang untuk dapat melampaui konteksnya yang asli. Penulis teks tentu tahu bahwa ia bisa berjalan mengawal teksnya untuk memberikan penjelasan, menghilangkan salah paham dan hal-hal lain yang melingkupinya. Tetapi di sisi lain ia harus meninggalkan produknya bahkan secara radikal supaya teks itu dapat mengurus dirinya sendiri. Dengan ini penulis akan memutuskan untuk melengkapi teksnya agar teks tetap hidup, melalui sarana-sarana, tanda-tanda dan nuansa-nuansa yang mampu bertahan dalam perjalanan waktu. Sekali teks-teks itu dilepaskan, teks-teks itu akan berkelana dalam waktu dan konteks yang senantiasa berubah. Ia berjumpa dengan publik yang senantiasa baru, ia menerima penjelasan lain yang selalu baru, pembaca baru. Terjadi pula nantinya perubahan makna yang diberikan pembaca kepada teks. Kita lantas bisa mengatakan: Teks- teks itu tidak mati, tetap sama dalam perjalanan waktu, tetapi ia selalu berubah: Itulah teks yang hidup ketika dibaca. Ia akan menerima sejarah yang panjang dan isi yang semakin kaya. Ia secara terus menerus mengisi ruang tanda tanya (?) dengan pertanyaan yang senantiasa baru dengan isi yang semakin kaya…

Melihat bahwa teks akan selalu hidup, apakah anda masih bersikeras menyarankan perubahan sosok fisik MMKI dalam tampilannya?

Sebenarnya saya rasa kalau diupayakan tampilan baru, itu secara teknis sangat memungkinkan dan tidak ada persoalan. Tetapi memang perlu kerja keras bak merobah lay-out bangunan. Mengenai hal ini sudah dijawab oleh Nureliv. Misalnya tentang pemisahan catatan kaki: Baginya 97% tulisannya sudah mengandung referensi berupa catatan perut di tubuh esai itu sendiri sisanya 3% tidak mengandung referensi. Pemisahan itu memang kenyamanan baca menurut versi saya sebagai pembaca yang juga tidak mewakili pembaca yang lain. Sebagai pembaca tentu perubahan akal budi akan selalu ada, dan perubahan makna yang diberikan pada teks boleh saja berbeda termasuk tata cara lay-out yang saya sebutkan tadi. Hal itupun boleh jadi tidak menjadi skala prioritas utama, tetapi bagi saya seni membaca adalah ketika penulis melahirkan teks-teksnya justru supaya mereka dapat terus hidup. Sementara di sisi pembaca tidak berusaha menutupinya baikpun dari cakrawala asal usulnya, sebab hal itu akan menjadi pendekatan yang berat sebelah kalau tidak mau dibilang pemerosotan. Memang mengetahui banyak mengenai diri penulis, maksud dan keadaanya itu menarik, tetapi itu bukan hal terpenting. Yang terpenting adalah hal yang dikatakan oleh teks-teks itu sendiri, yakni dunia yang ia munculkan, nilai-nilai yang ia sandang, dan kemudian setelah itu disusul dengan konfrontasi, pengaruh timbal balik, ketegangan dan kadang pertentangan-pertentangan dari semua hal itu dengan kenyataan dan nilai-nilai dari pembacanya. Jika boleh mengutip Riceoeurv, secara harafiah dikatakannya bahwa kekuatan dari hal-hal yang dituliskan itulah yang menggerakkan penulis. Sejatinya penulis teks tertangkap dan terdorong oleh masalah yang ingin ia ungkapkan. Pada sisi yang bersebelahan, pembaca dapat tertangkap dan terdorong oleh hal yang sama. Penulis mendapatkan ilham secara langsung oleh apa yang ingin ia ungkapkan, sementara kenyataan bahwa ia telah mempublikasikan teksnya adalah bukti bahwa ia puas dengan hasil perumusannya. Bila di wilayah ini pembaca cukup memahami cara-cara yang terwujud dalam teks, maka pembaca juga dapat berhubungan langsung dengan apa yang dimaksudkan. Hal ini disebabkan oleh sesuainya daya kekuatan dan arahan dari pengungkapan itu. Dalam pikiran pembaca, setiap kali akan tercipta dunia yang dimunculkan oleh teks. Dunia di sini adalah dunia kata-kata yang muncul dihadapan mata batin kita, sekaligus dunia yang dimunculkan pada masa kini. Jadi kembali ke pertanyaan di atas, apakah saya (sebagai pembaca) bersikeras menyarankan perubahan sosok fisik MMKI dala tampilannya: Jawaban tetap: “ya” tetapi itu bukan yang terpenting, yakni ketika setelah saya selesai membaca dan cukup memahami cara-cara yang terwujud dalam teks.

Jika MMKI adalah subyektivitas Ignas Kleden berhadapan dengan subyektivitas Nurel dan anda kini terlibat sebagai pembaca dengan subyektivitas anda, bagaimana anda menerangkan wahana intersubyektivitas ini?

Sebenarnya keinginan saya sebagai pembaca adalah menempatkan diri terhadap jangkauan historis teks yang disusun dalam buku tersebut, tetapi jangkauan ini tidak terlalu baik jika dibanding dengan daya kekuatan yang diungkapkan oleh teks itu sendiri dan kontak dengan masa kininya. Karena teks hanya hidup di dalam dan oleh proses pemberian makna. Kepada makna teks, kita dapat memberikan ungkapan begini: Pertama, Teks dapat dimengerti (this text make sense). Kedua, Saya mencoba memahami teks ini (We try to make sense of this text). Ungkapan yang pertama tadi berasal dari teks, yaitu subyek yang berbicara dan ungkapan kedua adalah dari subyek yang mendengar dan yang memberi makna yaitu pembaca. Dalam ilmu tafsir/ hermenutik, percakapan kedua sisi ini adalah wahana intersubyektivitas. Saya juga ingin mengatakan bahwa sumbangan produktif dari pembaca masih dapat dikemukakan dari sisi lain: Apabila kita membuka buku, kita tidak lagi bisa bersikap netral, tidak bisa lagi obyektif. Pada saat itu kita sebagai pembaca telah memperlihatkan suatu pertimbangan nilai. Sederhananya: Kita berharap menemukan sesuatu yang berharga dalam buku tersebut. Jadi membaca itu didahului oleh suatu keputusan: Keputusan untuk membaca. Kemudian terjadi proses membaca. Disitulah ada sisi subyektivitas, kerna itulah satu-satunya cara menghidupkan teks. Tentu pembacaan itu tidak berarti untuk bisa berfantasi seenaknya. Bisa saja hal itu dilakukan tetapi hanya merugikan teks. Oleh karena itu selama pembacaan memerlukan sikap menjaga keseimbangan diri secara terus menerus, berusaha untuk mempertanggungjawabkan kecenderungan untuk tidak menyisipkan atau memberi warna dan tekanan yang terlalu banyak dalam bacaan. Dengan kata lain, pembaca perlu mengendalikan subyektivitasnya. Sejujurnya di tahap ini saya sendiri dengan kegemaran saya membaca, agak lama untuk belajar tidak mengingkari subyektivitas semacam itu. Tetapi menurut hemat saya kemudian, kita tidaklah perlu merasa malu karenanya, bahkan sebaliknya justru memanfaatkannya dengan baik demi teks yang dibaca. Demikian pula ketika pertama kali berhadapan dengan MMKI: Wah, ini bacaan berat, begitu kesan awal saya. Ini subyektivitas versus subyektivitas dan harus dibaca dengan subyektivitas lain. Namun dengan niatan yang cukup baik (semelah mbah buyut, kalau pinjam istilah Siwi D Saputro) saya toh mulai membacanya. Dan ketika dibaca, makna-makna di dalamnya akan muncul berkat adanya daya khayal yang kita gunakan dalam menjumpai teks. Keteribatan kitalah yang menciptakan intersubyektivitas, dan dengan demikian aktualitas pesan teks itu tidak lagi menjadi masalah.

Setelah intersubyektivitas itu anda sadar, lantas bagaimana anda menikmati keseluruhan buku MMKI. Saya kira anda tidak menyelesaikan pembacaan buku itu tuntas secara keseluruhan karena waktu baca yang demikian singkat. Tetapi bagaimana anda menggambarkan kejadian pembacaan itu secara keseluruhan?

Memang benar, terlalu berat untuk menyelesaikan MMKI. Saya meloncat-loncat. Sekali lagi saya setuju dengan sinyalemen Sunu Wasono: “Kalau beberapa subyektivitas Nurel tentang penjelajahan dia kemana-mana dalam proses menulis buku itu dihilangkan dan diskursus terhadap karya SCB dibangun lebih kuat maka akan menghasilkan rekomendasi yang lebih mantab”… yang saya tidak sependapat dari catatan Sunu adalah penghilangan riwayat proses menulis buku. Saya lebih sependapat kalau bagian itu direlokasikan ke bagian lain misalnya sebagai lampiran agar kita mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Pertama, Diskursus perdebatan tentang karya SCB menjadi lebih fokus. Kedua, Kisah proses menulis buku itu bisa dinikmati dengan ruangnya sendiri yang jauh lebih anggun, karena kisah itu juga menarik. Ada alasan kuat mengapa pertanyaan “Bagaimana tepatnya riwayat teks itu tersusun?” itu pertanyaan yang baik dan berguna dalam menghadapi isi buku. Alasan pertama adalah menasihatkan agar kita tidak secara langsung memberikan jawab atas pertanyaan: “Apa sih isinya?” karena pertanyaan ini menghadapi jebakan yang berbahaya. Bahaya yang pertama dapat digambarkan seperti ini: “Oh ya, saya tahu, saya menangkapnya. Teks itu berisi tentang hal ini dan hal itu”. Itulah jebakan pertama: Kita terlalu yakin telah menemukan makna teks. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah kita menangkap beberapa isyarat dari teks yang dalam batin lantas kita kelompokkan menjadi tema-tema tertentu tetapi tanpa memperhitungkan berbagai isyarat yang belum kita sadari. Selanjutnya, tanpa kita sadari sebagai pembaca yaitu ketika telah dipengaruhi oleh harapan dan prasangka dan pandangan sendiri, Itulah jebakan kedua. Maka adalah sangat bermanfaat bila pembaca belajar secara sadar membongkar gambaran yang dibentuk melalui teks dan kembali kepada keadaan awalnya, atau bersikap sama sekali sebagai pemula dengan memperlakukan teks tanpa rasa curiga. Tentu sebagai pembaca tidaklah mudah bersikap kreatif sekaligus waspada atau benar-benar memahami kecenderungan diri sendiri. Orang yang sangat terbuka sekalipun seringkali gagal dalam hal ini. Maka karena yang kita baca adalah produk literer, konsekwensi yang paling dekat adalah tuntutan mutlak untuk memperlakukan teks-teks itu secara serius dari awal sampai akhir dalam keberadaan literernya, karena makna cerita hanya akan muncul melalui proses percakapan antara pembaca dan teks…. Dari situlah saya membagi MMKI dalam tiga bagian penting yang sebenarnya masing-masing berdiri sendiri: Pertama adalah naskah yang ditulis oleh Ignas Kleden sebagai naskah yang nantinya akan dikritisi oleh Nurel, kedua, naskah yang ditulis oleh Sutardji C Bahri sebagai bagian dari Kritik Ignas Kleden (pun sebagai naskah yang berdiri sendiri milik Sutardji) dan ketiga adalah MMKI yang ditulis oleh Nurel. Maka andai tiga naskah ini masing-masing dibundel dan diletakkan dalam rak buku, saya akan bisa meringkaskan ceritanya: Ignas Kleden memberi apresiasi pada Sutardji, itu ada di buku yang ini. Naskah yang diapresiasi oleh Ignas adalah buku ini, yaitu puisi- puisi Sutardji. Dan kedua buku itu didedah lagi oleh Nurel dalam MMKI, yaitu buku yang ini. Maka suatu ketika jika saja orang berbicara tentang puisi Sutardji, saya bisa bilang: Oh, itu pernah diapresiasi oleh Ignas, dan beberapa tahun kemudian dibedah kembali oleh Nurel.

Ya, tetapi sampai terakhir anda tidak menyinggung sama sekali substansi per bagian dari MMKI. Mengapa begitu? Padahal itu substansi intinya.

Memang saya tidak terlalu berhenti berlarut-larut pada dua puluh lima bagian yang ditulis oleh Nurel. Saya memang berjalan menapaki tiap bagian-bagian, tetapi saya hanya berhenti sejenak di situ. Barangkali disitu saya bisa pinjam istilah Nurel: Abstraksi miring agar menerima jalan-jalan yang ada. Bayangkan pembacaan MMKI ini sebuah perjalanan melalui dua puluh lima stasi. Saya harus berhenti di tiap stasi dan melihat apa yang ada di sana sebelum beranjak berangkat ke stasi berikutnya. Bayangkan juga saya berjalan bersama Nurel melalui stasi-stasi itu, sementara Nurel menceritakan setiap bagian dengan detail, dan saya kewalahan menangkapnya, meskipun ia supah berupaya menceritakan dengan irama yang disesuaikan dengan daya tangkap saya. Dua stasi pertama ia bercerita tentang kata menerobos. Kenyataanya sisa di benak saya tetap kaku dan tak kuncung cair karena di benak saya kata menerobos sepadan dengan “short cut”, menyudet, serupa dengan sudetan sungai Bengawan Solo di daerah Bojonegoro yang disudet supaya aliran air lebih menempuh jalan pendek dan tidak berbahaya bagi luapan air ke desa-desa sekitarnya. Di sinilah, saya menggiring argumen Nurel ke wilayah tanda tanya (?) biarlah suatu kali ada pengertian baru yang “nyungsep” ke benak saya sampai terjadi pencerahan baru. Di dua stasi berikutnya Nurel mempersoalkan kata “upaya” dengan semua argumen kritisnya. Saya tetap saja berkutat pada terjemahan upaya dari kata “effort”. Dan saya giring juga semua argumen Nurel setidaknya dalam dua bagian itu kedalam ranah tanda tanya (?) semoga nantinya juga ada peluang pengertian baru. Bagian enam, Nurel memakai perumpamaan tipuan optis: Kalau sebuah pensil dimasukkan kedalam air, ia nampak bengkok dan nampak lebih pendek, sebagaimana di bagian berikutnya Ia mempersoalkan kekaburan arti (vagueness). Lantas yang ada di benak saya pun saya giring ke wilayah tanda tanya: Kalau begitu, bagaimana dengan musikalisasi puisi? Puisi Taufiq Ismail yang dinyanyikan oleh Bimbo atau Ahmad Albar, yang dengan meriah diikuti para penggemarnya menggemakan sepotong bait syair itu: Mengapa kita bersandiwara? Adakah itu sebuah vagueness? Jika sepotong karya literasi muncul dalam kultur pop, bolehkah?. Kalau puisi SCB dimiring-miringkan lalu meloncat jadi hentakan rap: zz bck zb zb zb dst dst, lantas? Apakah lantas ini yang dibilang oleh Nurel di bagian delapan: Bagaimana Jika intan keluar dari mulut anjing, apakah ia tetap mulia?. Bagaimana pula jika sebuah ungkapan “paribasan” lama: Air Susu dibalas dengan air tuba, diplesetkan menjadi Air susu dibalas dengan Air Asia, karena kemarin saya mentraktir segelas susu dan kawan saya membalasnya dengan membelikan tiket sebuah maskapai penerbangan yang kebetulan namanya pakai air juga. Saya masih tetap berkutat dengan apa yang saya pikir bahwa nenek moyang kita tidak bodoh dengan paribasan. Ungkapan dalam paribasan itu cuma “mrucut”vi dan itu harus dievaluasi, di sunting ulang, bukan untuk mengembalikan kepada genggaman lagi supaya tidak “mrucut ulang” tetapi menghargai proses mrucut yang manusiawi itu sebagai bagian dari proses sebuah sejarahvii. Dalam hal semacam slogan saya pikir budaya nenek moyang cukup “wise/wicaksana” menempatkan katup pelepas, misalnya penempatan “punakawan” pada repertoir wayang kulit semalam suntuk pada wilayah adegan khusus yang disebut “goro-goro”. Wajah-wajah para panakawan yang bermuka “ngguyokna” dan dialog mereka adalah perwakilan argumentatif terhadap apa yang ditulis Nurel pada bagian sepuluhviii. Ia bukan “Nrimo ing pandum” tetapi justru mengapresiasi keadaan sesuai dengan posisi dan kodratnya sebagai punakawan (baca: rakyat kebanyakan). Semua itu tetap saya giring ke wilayah anda tanya (?)

Sampai di Bagian Duabelas, saya harus berhenti di sini. Karena saya temukan apa yang jadi pikiran Nurel: Dugaa-dugaan awal yang sudi didialogkan. MMKI tidak berhenti di sini. Pengelanaan ini sampai di wilayah tanda tanya (?) seperti saya usulkan sebagai judul catatan saya ini. Bagian yang menarik dan membutuhkan pembacaan tersendiri (Bagian 20 sampai dengan 24) membutuhkan frekuensi batin yang lebih tenang untuk dapat dibaca kembali, selain juga pengalaman-pengalaman batin yang membutuhkan keseimbangan saya sebagai pembaca dan “timeline” yakni waktunya untuk perwahyuan teks-teks itu bisa “kawedar” lebih dalam. (Bagian 20 dan 23). Dan harap bersabar karena bagian itu bukan bacaan “biasa”…. ***

Menutup catatan ini, saya ingin sampaikan bahwa sebagai pembaca (mudah-mudahan sebagai pembaca yang baik), sedikit banyak saya meniru penulis MMKI dengan cara menyukai bahasanya dan menggumulinya selama beberapa hari. Bagi saya, ini sebuah kesenangan memecahkan teka-teki pada sebuah bacaan. Mungkin saja saya tidak dapat menikmati seluruh keindahan MMKI, tetapi tentu tidak akan berakibat fatal seandainya tetap dibuka “Wilayah Tanda Tanya (?)” sebagaimana usulan saya. Tentu tidak sepenuhnya saya memahami dan memberi makna yang tepat pada teks yang tersebar di sekujur MMKI, namun saya percaya bahwa seluruh teks MMKI telah disusun sedemikian rupa untuk menyampaikan pesannya tersendiri. Dan jika tidak berhenti atau semakin berupaya memahami bagaimana, sarana-sarana apa saja yang dipakai, maka kita akan semakin melihat struktur, teknik dan menembusnya ke dalam. Demikianlah harapan….

Wassalam
Noe – Depok, Tanah Baru 2104/2018

Catatan Akhir/ End Notes:

i Siwi D Saputro, Dari Yang Terekam Di Acara Bedah Buku Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia : Sebuah Catatan Tengah; Facebook 18 April 2018

ii MMKI halaman 63, paragraf 3

iii Nurel tidak begitu berkenan dengan istilah upaya, ia membenturkannya dengan istilah: Semangat atau perjuangan. MMKI halaman 20 paragraf 1 atau halaman 24, paragraf 5. Saya tetap memakai istilah “upaya” atas padanan terjemahan dari effort (Inggris)

iv Pada: Lamunan ke Brunel University ataukah di UI; Nurel Javissyarqi FB 19/04/2018

v Jean Paul Gustave Ricoeur (1913-2005) Phenomenology & Hermeneutic – “Paul Ricœur”. Inamori Foundation. Archived from the original on 23 May 2013. Retrieved 15 December 2012.

vi Tak sengaja lepas dari genggaman

vii  MMKI halaman 40 paragraf 1

viii  MMKI halaman 47 paragraf 2

Catatan sebelumnya http://sastra-indonesia.com/2018/04/catatan-dari-seorang-pembaca-mmki/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*