Lubuk Kontemplasi Arus Dangkal Hedonisme

J Sumardianta*
Kompas, 30 Sep 2007

“Bukalah mata tuan dan lihatlah. Di tempat petani meluku tanah yang keras. Di tempat pembuat jalan meratakan batu. Di situlah Tuhan. Bersama mereka Tuhan berpanas dan berhujan. Turunlah ke tanah berdebu itu, seperti Dia. Bangkitlah dari samadi. Hentikan meronce bunga dan membakar setanggi. Meski pakaian tuan lusuh dan kotor. Cari Dia dalam bekerja, dengan keringat di kening tuan.” Continue reading “Lubuk Kontemplasi Arus Dangkal Hedonisme”

Serutan Mozaik Novelis Prodigi

J. Sumardianta
http://www.jawapos.com/

”Inilah kekuatan susastra. Ia menceritakan kesenangan sehingga membuat jiwa menari kegirangan. Ia menuturkan kesedihan sampai menangis tersedu sedan. Ia mengabarkan cinta hingga memaksa orang jadi lemah lembut. Ia mengatakan bahaya dan membuat orang bergidik. Ia melampiaskan kemarahan yang meluap hingga membuat orang jadi waspada. Ia mengatakan kecongkakan sampai membuat orang menghunus badik. Ia mengatakan hasutan dan membuat orang terprovokasi. Ia mengatakan sesuatu yang melambungkan jiwa hingga membuat orang terangkat ke langit tujuh. Ia mengatakan kerendahan hati dan membuat orang luruh egonya. Sastra mengguncangkan hati dan membuat mata berkilauan.” Continue reading “Serutan Mozaik Novelis Prodigi”

Rumput Belukar Barack Obama

J. Sumardianta *
jawapos.co.id

”Bila engkau tidak bisa jadi pohon cemara di bukit, jadilah belukar yang indah di parit. Bila tidak bisa jadi belukar indah di parit, jadilah rumput yang membuat jalan-jalan semarak. Bukan kemasyhuran yang menentukan seseorang jadi pemenang, melainkan kewajaran.”

Aforisme Douglash Malloch itu sengaja dipilih untuk mengapresiasi masa lalu Barack Obama. Obama, cemara di puncak bukit itu, di masa mudanya tak ubahnya belukar parit dan rumput jalanan. Continue reading “Rumput Belukar Barack Obama”