Bagaimana Sastrawan Menyikapi Antologi Sastra?

(Catatan untuk S. Sinansari ecip dan Aspar Paturusi)
Jamal D. Rahman *
http://www.infoanda.com/ korantempo.com

Dari beberapa kritik terhadap antologi Horison Sastra Indonesia, yang pantas saya tanggapi sejauh ini hanya tanggapan S. Sinansari ecip (Koran Tempo, 26/1) dan Aspar Paturusi (Koran Tempo, 18/2), dengan memberikan penghargaan kepada Purhendi atas tulisannya di Republika (10/2), terutama karena ecip dan Aspar adalah sastrawan yang tak diragukan. Pada mereka saya melihat celah untuk diskusi lanjutan yang lebih produktif, khususnya menyangkut pandangan dan sikap sastrawan terhadap sebuah antologi sastra yang berwibawa–tanpa harus melarikan diri dari pokok masalah yang mereka persoalkan. Continue reading “Bagaimana Sastrawan Menyikapi Antologi Sastra?”

Cinta, Tuhan, Indonesia

Jamal D. Rahman*
http://www.kabarmadura.com/

Puisi adalah pesona bahasa. Puisi yang baik pastilah menyuguhkan keindahan bahasa yang membuat kita terpukau dan terpesona. Ia membuktikan bahwa bahasa memiliki keindahannya sendiri. Lewat puisi kita bisa menikmati salah satu kekuatan bahasa, yaitu nuansa estetis yang mungkin mengharu-biru perasaan dan hati kita. Tidak mengherankan kalau ada kalanya kita begitu terpesona pada sebuah puisi bukan karena makna yang disampaikannya, melainkan karena pilihan kata dan metafor yang digunakannya. Continue reading “Cinta, Tuhan, Indonesia”

Melayu, Puisi, Mantra

Jamal D Rahman*
http://cetak.kompas.com/

Usaha merevitalisasi kebudayaan Melayu akhir-akhir ini berlangsung cukup marak, terutama di Riau. Berbagai kegiatan berkaitan dengan usaha menghidupkan atau menyemarakkan kembali kebudayaan Melayu kerap dilakukan, mulai dari penerbitan buku, festival, seminar, sampai pemberian penghargaan kepada individu-individu yang memainkan peran tertentu dalam memajukan kebudayaan Melayu. Continue reading “Melayu, Puisi, Mantra”

D. Zawawi Imron: Duta Madura untuk Sastra Indonesia Modern

Jamal D. Rahman
Sumber, http://jamaldrahman.wordpress.com/

Dia adalah manusia ajaib dalam khazanah sastra Indonesia. Dari mana datangnya penyair ini? Apa yang bisa menjelaskan bahwa dari Batangbatang, sebuah desa sekitar 20 km sebelah timur kota Sumenep, Madura, lahir seorang penyair penting Indonesia yang sangat produktif, tanpa pendidikan dan pergaulan intelektual yang memadai? Tidak seperti banyak pernyair Indonesia, D. Zawawi Imron tetap memilih tinggal di desa kelahirannya, tempat inspirasi bergumul dengan imajinasi yang kemudian diolahnya menjadi konstruksi estetis yang relatif memukau. Continue reading “D. Zawawi Imron: Duta Madura untuk Sastra Indonesia Modern”

Malin Kundang Bernama Indonesia: Puisi dan Kesadaran Berbangsa

Jamal D. Rahman
Sumber, http://jamaldrahman.wordpress.com/

Judul yang diajukan panitia Kongres Bahasa Indonesia VIII1 kepada saya mengandaikan dua persoalan tentang kedudukan sastra dalam masyarakat kita. Persoalan pertama menyangkut pandangan bahwa apresiasi masyarakat kita terhadap sastra masih relatif rendah, dan karena itu perlu ditingkatkan melalui program yang amat konkret, yaitu Continue reading “Malin Kundang Bernama Indonesia: Puisi dan Kesadaran Berbangsa”