Tag Archives: Jamal D. Rahman

Berthold Damshäuser: Wisata Intelektual Seorang Indonesianis

Jamal D. Rahman
https://jamaldrahman.wordpress.com

“Ada banyak kesungguhan dalam main-main, dan banyak main-main dalam kesungguhan.”
(Berthold Damshäuser)

Di tahun 2011, seusai mengikuti acara Jakarta-Berlin Arts Festival yang diprakarsai penyair Jerman Martin Jankowski di Berlin, kami melakukan perjalanan darat selama 8 jam dari Berlin ke Bonn, Jerman. Kami berempat: Berthold Damshäuser, Mbak Dian Apsari (istrinya), Joni Ariadinata, dan saya sendiri.

Pemerintah Telantarkan Komisi Indonesia-Jerman

Jamal D Rahman*
Media Indonesia, 21 Feb 2008

PEMERINTAH Indonesia menelantarkan Komisi Indonesia-Jerman untuk Bahasa dan Sastra. Komisi itu praktis tidak menghasilkan apa-apa, kecuali sedikit hal yang tidak berarti dilihat dari tujuan dibentuknya komisi tersebut. Keberadaan Komisi itu kini tidak jelas, bahkan secara de facto sudah mati. Padahal, komisi itu dibentuk pemerintah RI bersama pemerintah Jerman. Bagaimana mungkin pemerintah menelantarkan lembaga yang dibentuknya sendiri dan membiarkannya mati?

Paus Merah Jambu Zen Hae, Puisi di Luar dan di Dalam Sistem Bahasa

Jamal D Rahman*
Media Indonesia, 29 Sep 2007

PUISI-PUISIi Zen Hae adalah percobaan membangun struktur puisi di dalam dan di luar sistem bahasa. Disadari atau tidak, beberapa puisi Zen Hae yang terhimpun dalam Paus Merah Jambu (Yogyakarta: Akar Indonesia, 2007) menyediakan sarana yang memadai bagi pembaca untuk mendekatinya, tetapi sebagian puisinya hanya menyediakan sarana yang amat terbatas untuk mendekatinya.

Kenapa Jurnal Sajak?

Judul buku : Puisi Perempuan, Perempuan Puisi
Penulis : Jurnal Sajak
Penerbit : The Intercultural Insitute dan Komodo Books Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : 148 halaman
Peresensi : Jamal D. Rahman *
http://www.balipost.co.id/

KINI adalah zaman ketika puisi bisa ditemukan di mana-mana, sekaligus sulit ditemukan di mana pun. Di era internat, facebook, twiter, blog, dan sebagainya, puisi bisa muncul dengan mudah di mana-mana.

Bagaimana Sastrawan Menyikapi Antologi Sastra?

(Catatan untuk S. Sinansari ecip dan Aspar Paturusi)
Jamal D. Rahman *
http://www.infoanda.com/ korantempo.com

Dari beberapa kritik terhadap antologi Horison Sastra Indonesia, yang pantas saya tanggapi sejauh ini hanya tanggapan S. Sinansari ecip (Koran Tempo, 26/1) dan Aspar Paturusi (Koran Tempo, 18/2), dengan memberikan penghargaan kepada Purhendi atas tulisannya di Republika (10/2), terutama karena ecip dan Aspar adalah sastrawan yang tak diragukan. Pada mereka saya melihat celah untuk diskusi lanjutan yang lebih produktif, khususnya menyangkut pandangan dan sikap sastrawan terhadap sebuah antologi sastra yang berwibawa–tanpa harus melarikan diri dari pokok masalah yang mereka persoalkan.