Tuhan, Imajinasi Manusia, dan Kebebasan Mencipta

H.B. Jassin

SIFAT 20 menyebutkan bahwa Tuhan Melihat. –Apakah Ia punya Mata? Tuhan Mendengar. –Apakah Ia punya Mulut? Punya Lidah? –Kalau Tuhan bisa murka sebagaimana dikatakan dalam Al-Quran, mengapa Ia tidak bisa Tersenyum atau Tertawa?

Tidak! Tidak semua itu!! Apa pun pertanyaan kita dan apa pun jawaban kita, senantiasa Ia lebih dari mempunyai sifat dan keadaan yang bisa kita gambarkan. Ia adalah Mukhalafat lil hawadith, beda dari segala yang baru. Continue reading “Tuhan, Imajinasi Manusia, dan Kebebasan Mencipta”

MENcatat DEMAM – memendam TACAT – Produk Sayembara Puisi yang Kacau

Shiny.ane el’poesya

Mungkin saat ini kita bisa mengatakan, bahwa kita kembali tak lagi dapat percaya pada seyembara-sayembara buku puisi yang ada di dalam tubuh sejarah Sastra Indonesia. Terlalu mudah untuk melihat begitu seringnya publik sastra kecewa pada beberapa kali hasil keputusan sayembara-sayembara tersebut. Terlalu sering pula pembaca kritis bukan lagi angkat bicara atau menepuk jidat, melainkan mengelus-mengelus dada atas hasil yang dikeluarkan oleh lembaga-lembanga penyelenggara sayembara tersebut. Terhadap hasil sayembara Hari Puisi Indonesia 2019 akhir tahun kemarin, misalnya. Continue reading “MENcatat DEMAM – memendam TACAT – Produk Sayembara Puisi yang Kacau”

“Kakaren” Simposium Kritik Sastra

Achdiat K. Mihardja

Kakaren adalah kata Sunda. Artinya ‘sisa’, ‘yang tertinggal’, ‘restantjes‘ kalau kata Belandanya. Dan sufiks diminutif ‘tjes’ itu memang esensial, sebab kakaren (boleh diindonesiakan menjadi “kekaren”) semata-mata merupakan sisa-sisa makanan yang tertinggal sesudah pesta makan selesai. Sisa itu dikumpulkan untuk dimakan besoknya, atau dibuang ke tempat sampah. Continue reading ““Kakaren” Simposium Kritik Sastra”

Proses Pendangkalan dalam Pemikiran Sastra Kini

Wiratmo Soekito

Dengan pemikiran sastra bukan puisi, novel ataupun sudah tentu yang kita maksud cerpen, tetapi lebih berkenaan dengan kritik dalam berbagai bentuknya, atau dengan sendirinya tidak masuk dalam kategori seni. Sebab seni itu tidak menguraikan, melainkan menyatakan, sehingga seni itu tidak memerlukan argumen atau alasan. Seorang seniman menurut hemat kita boleh tidak logis, malahan seorang seniman dalam menyatakan seninya boleh “sinting” atau “gila”. Continue reading “Proses Pendangkalan dalam Pemikiran Sastra Kini”

Universalitas daripada “Humanisme Universal”

Bur Rasuanto

Sebuah pembahasan tentang konsep “humanisme universal” telah dibuat oleh seorang penulis Soviet Leonid Novichenko dan dimuat dalam bulanan Soviet Literature No. 8, Agustus 1963 yang lalu. Di bawah judul “Seorang Manusia, Seorang Komunis”, penulis Soviet ini menandaskan pada awal tulisannya, bahwa konsep “kemanusiaan universal” sesung­guhnya tidaklah pernah terpisah dari paham Marxisme. Continue reading “Universalitas daripada “Humanisme Universal””

Bahasa »