PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (III)

Jawaban untuk bagian A. Pengantar esainya (makalahnya) Sofyan RH. Zaid

Nurel Javissyarqi

III
Edisi adalah bentuk buku yang diterbitkan, dikeluarkan, istilah saya merek. Dan kata “revolusi” mengabarkan perubahan sosial budaya yang berlangsung cepat menyangkut pepokok kehidupan. Maka “edisi revolusi” itu, sebentukan buku yang mengarah pada perubahan sosial, perombakan dasar demi mencapai kebutuhan yang diingini jaman; Continue reading “PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (III)”

PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (I-II)

Jawaban untuk bagian A. Pengantar esainya (makalahnya) Sofyan RH. Zaid

Nurel Javissyarqi

I
Selamat pagi Sastra Indonesia, KBBI online, Kamus W.J.S. Poerwadarminta, Hari Puisi Indonesia, MASTERA, Dewan Kesenian Riau. Pagi pula yang mengatakan “MMKI Ngawur.” Padahal bungkus plastik bukunya belum dibuka. Sakti kan? Namun bertindak tidak ilmiah. Tak lupa, pagi serta kepada pemateri yang belum memberi/mengirim makalahnya sampai acaranya kelewat jauh. Akhirnya, selamat pagi yang bungkam atas kritik. Continue reading “PENGHILANGAN KATA DALAM KRITIK SASTRA INDONESIA (I-II)”

Kritik

Jakob Sumardjo

Kata kritik bagi kita mempunyai konotasi tidak menyenangkan. Orang tidak senang dinilai oleh orang lain. Akan tetapi, orang senang melihat orang lain menilai orang lain. Jadi, kritik itu hanya mengasyikkan sebagai ‘tontonan’.

Kritik memang tradisi baru dalam masyarakat Indonesia. Istilah kritik sendiri jelas tak ada padanannya dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Istilah itu berasal dari zaman Yunani Purba, dan hidup dalam tradisi kebudayaan Barat sejak zaman renaisans, awal zaman modern. Continue reading “Kritik”

Bahasa »