ESTETIKA WAYANG CERPEN AHMADUN Y HERFANDA

Maman S. Mahayana
mahayana-mahadewa.com

Ketika berbagai saluran komunikasi terhalang tembok besi kekuasaan, sementara segala aspirasi dan harapan mampat di tengah jalan, kesenian “khasnya sastra” kerap digunakan sebagai alternatif. Di sana, dalam balutan estetika, sastra coba bermain dan mempermainkan saluran yang mampat itu. Tembok besi kekuasaan dan pandangan orang terhadapnya, dapat disulap menjadi lelucon atau kisah-kisah yang terjadi di dunia entah-berantah. Jadi, sastra berpeluang memasuki wilayah apa saja, tanpa harus dibayangi kecemasan menghadapi kegagalan mencapai sasaran. Continue reading “ESTETIKA WAYANG CERPEN AHMADUN Y HERFANDA”

WARNA-WARNI WANITA PENYAIR*

Maman S. Mahayana**
http://mahayana-mahadewa.com/

Penyair sejati adalah pewarta yang menyampaikan sesuatu tidak untuk dirinya sendiri. Ia bukan sosok penyanyi di kamar mandi. Maka kegelisahan individu yang mengganggu seorang penyair, mesti berbuah menjadi problem yang menyangkut dan berkaitan dengan dunia sekitarnya. Kegelisahan seorang penyair ?atau sastrawan dan seniman pada umumnya?mestilah merepresentasikan problem individu dalam berhadapan dengan situasi sosio-kultural yang melingkarinya. Continue reading “WARNA-WARNI WANITA PENYAIR*”

KRITIK PSIKOLOGI TELAAH EMPAT SASARAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sejak awal abad ke-20 kritik sastra berkembang dengan pesat. Dibidani oleh pemikiran Ferdinand De Saussure lewat Cours de Linguistique Generale, yang seolah-olah, mengukuhkan formalisme Rusia yang dirintis kelompok linguistik Moskow (The Moscow Linguistics Circle, 1915) serta kelompok Opojaz (The Society for the Study of Poetic Language 1916) dan mencapai kecermelangan melalui gagasan stukturalisme Roland Barthes. Continue reading “KRITIK PSIKOLOGI TELAAH EMPAT SASARAN”

POLITIK BUNGLON

Maman S. Mahayana *

Siapa yang tak mengenal bunglon; makhluk sebangsa bengkarung yang piawai menyesuaikan diri dengan alam di sekelilingnya? Binatang melata berdarah dingin yang termasuk ordo lacertilia ini, tentu saja berbeda dengan kutu loncat, ngengat– sang koruptor atau kutu busuk, musuh dalam selimut si pengisap darah. Continue reading “POLITIK BUNGLON”

Bahasa ยป