KRITIK PSIKOLOGI TELAAH EMPAT SASARAN

Maman S. Mahayana
http://mahayana-mahadewa.com/

Sejak awal abad ke-20 kritik sastra berkembang dengan pesat. Dibidani oleh pemikiran Ferdinand De Saussure lewat Cours de Linguistique Generale, yang seolah-olah, mengukuhkan formalisme Rusia yang dirintis kelompok linguistik Moskow (The Moscow Linguistics Circle, 1915) serta kelompok Opojaz (The Society for the Study of Poetic Language 1916) dan mencapai kecermelangan melalui gagasan stukturalisme Roland Barthes.

Masa itu, kritik sastra yang menekankan pada sejarah dan biografi pengarang boleh dikatakan tergusur oleh pendekatan yang menempatkan karya sastra sebagai sebuah perangkat yang dibangun oleh unsur-unsur yang fungsional; karya sastra sebagai struktur yang memiliki kelengkapannya sendiri. oleh karena itu, tidak lagi diperlukan penjelasan lewat unsur lain yang berada di luar struktur. Itulah dasar pemikiran strukturalisme.

Dalam perkembangannya, pengaruh psikoanalisis Sigmund Freud ternyata ikut menyeruak yang juga mempunyai pengikutnya sendiri. paling tidak, belakangan ini Jacques Lacan mencoba memanfaatkan gagasan Freud dan menghubunggabungkannya dengan konsep Saussure. Bahasa ditafsirkan berdasarkan gagasan Freud. Usaha memanfaatkan gagasan Freud untuk menjelaskan karya sastra, dilakukan juga Max Milner. Malahan ia menggunakan hampir keseluruhan karya Freud dalam usahanya menafsirkan karya sastra dan karya seni lain. Di samping itu, tidak sedikit pula yang memanfaatkan gagasan Carl Gustav Jung untuk kepentingan yang sama. Hal ini melibatkan bidang di luar sastra terutama psikoanalisis Freud dan psikologi analitik Jung, penting artinya dalam penyelidikan karya sastra. Gagasan Jung belakangan digunakan sebagai landasan pendekatan arketipe (keinsanan purba) dan mitos dalam kesusastraan.

Secara ringkas dapat dirumuskan bahwa pendekatan psikologi, baik yang bersumber dari gagasan Freud maupun Jung, mencangkup empat penyelidikan yakni: 1) psikologi pengarang sebagai tipe dan individu; 2) bagaimana terjadinya proses penciptaan karya sastra; 3) sejauh mana psikologi diterapkan dalam karya sastra; dan 4) pengaruh karya sastra pada pembacanya.

Mengenai penyelidikan yang dapat dipandang sebagai bentuk lain dari ketaksadaran satrawan; atau penyelidikan karya sastra berdasakan teori mimpi Freud, seperti yang dikatakan Max Milner atau penyelidikan karya sastra dalam kaitannya dengan masa lalu dan proses pembentukan psikis manusia, sebenarnya bukan wilayah ilmu sastra dalam pengertian yang khusus. Penyelidikan tersebut termasuk ke dalam wilayah psikologi.

Demikian juga masalah yang menyangkut pengaruh karya sastra kepada pembaca dapat dimasukkan ke dalam psikologi jika pusat perhatiannya menyangkut reaksi psikis pembaca; tetapi dapat pula dimasukkan ke dalam sosiologi sastra (sosiologi pembaca), jika pusat perhatiannya pengaruh karya itu pada masyarakat pembaca. Lalu, dalam wilayah mana psikologi sastra dapat beroperasi dengan tetap menempatkan karya sastra secara proposional dan wajar. Sedangkan psikologi hanya sebagai alat ?bantu? ?
* * *

Sebelum masuk dalam pembicaraan di atas, ada baiknya dipaparkan sekilas perjalanan sejarah psikologi sastra.

Sejak zaman Yunani Kuno, sudah banyak yang menaruh perhatian terhadap kebesaran para ahli pikir dan pujangga waktu itu. Mereka dianggap sebagai orang-orang yang luar biasa, yang berbicara dan bertingkah laku di luar kesadarannya. Lalu, banyak diantaranya yang menghubungkannya, bahwa yang dialami para pujangga itu adalah keadaan antara neurotik dan psikosis.

Konon, tokoh yang pertama memperkenalkan dasar pendekatan psikologi ini adalah Aristoteles (384-322 SM). Kendati lebih ia dikenal sebagai filsuf dan tokoh formalisme, dalam karya Poetica ia telah memakai istilah katharsis untuk menggambarkan luapan emosi pengarang yang terungkapkan dalam karyanya. Gejala psikis ini yang lalu dipakai salah satu penyelidikan psikologis sastra.

Pada abad ke-3, Dyonisius Cassius Longinus (210-273 M), dalam karyanya On The Sublime, juga memuat konsep-konsep dasar psikologi pengarang. Menurutnya, hasil cipta pengarang dapat membangkitkan emosi-emosi pendengar atau pembacanya. Pendapat ini diperkuat pula oleh Sir Philip Sidney (1554-1588). Kritikus Inggris ini, lewat karyanya, Apologie For Poetrie ?Pembelaan Puisi? (Defence of Poesie), menyatakan bahwa karya sastra (puisi) dapat membangkitkan dan memberi kepuasan emosional bagi pembaca. ?Penyair adalah pembawa obor agar tidak berbuat sesat dan keangkaramurkaan. Puisi dan penyair tak boleh disepelekan !?

Dua abad kemudian (1757) terbit karya David Hume (1711-1776), Of Tragedy. Penelitiannya tentang bagaimana orang merasa senang mendengar atau membaca kisah-kisah tragedi. Dipelajarinya fakta kodrat manusia (psichological date). Ia beranggapan, ego (self consciousness ?kesadaran diri?) adalah suatu kepercayaan yang dapat dijelaskan melalui analisis perbuatan mental manusia.

Dasar-dasar kritik psikologi tampak pula dari perbedaan istilah reason (alasan) dan understanding (pemahaman) yang dikemukakan Samuel T. Coleridge (1772-1854). Dalam uraian tentang peranan imajinasi dalam proses kreatif penyair, ia menekankan, bahwa bahasa manusia yang terbaik adalah bagian yang timbul dari renungan atas tindak hati nurani ? bagian-bagian yang terbesar ini yang tidak pernah berkesan dalam kesadaran orang-orang yang buta huruf. Ditegaskannya pula bahwa puisi haruslah sensitif (peka) dan melalui imajinasinya puisi dapat pula mengungkapkan kebenaran. Puisi juga harus mampu merangsang pembaca.

Di samping Coleride, William Wordsworth (1770– 850) juga dianggap banyak menyinggung keadaan jiwa dalam diri penyair yang dianggapnya sebagai sumber kebenaran dalam puisi. Dalam ?Kata Pengantar? dalam Lyrical Ballads (1800), ia mengungkapkan, bahwa ?Penyair adalah manusia yang bicara pada manusia lain. Manusia yang benar-benar memiliki rasa tanggal yang lebih peka, kegairahan dan kelembutan jiwa yang lebih besar. Manusia yang memiliki pengetahuan yang lebih mendalam tentang kodrat manusia dan memiliki jiwa yang lebih tajam daripada manusia yang lainnya.?

Hubungan antara sastra dan psikologi atau antara sastrawan dan gejala-gejala kejiwaan, baik yang mendahuluinya maupun yang kemudian terungkapkan dalam karyanya seolah-olah dikukuhkan penemuan psikoanalisis Sigmund Freud (1856–1939). Bersamaan dengan itu, C.G Jung (1875–1961) lewat psikologi analitiknya, juga menyinggung masalah psikologi dalam hubungannya dengan sastra. Baginya, arketipe adalah imaji asli dari ketidaksadaran, penjelmaan pengalaman yang turun temurun sejak zaman purba. Penyair adalah manusia kolektif, pembawa, pembentuk dan pembina dari jiwa manusia yang aktif secara tak sadar.

Sementara itu dengan psikoanalisis sebagai dasar penyelidikannya, Freud menyatakan; ?Seniman itu sesungguhnya orang yang lari dari kenyataan; ia tidak dapat memuaskan kebutuhan instinknya. Ia lari ke alam fantasi, mencoba memuaskan harapan-harapannya, kemudian kembali menghadapi kenyataan.? Karya sastra merupakan refleksi hidupnya. Dengan itu, seniman akan merasa dirinya menjadi pahlawan, raja, pencipta dari apa yang diinginkan tanpa perlu mengubah alam sekitarnya. Seniman tak lebih dari seorang pelamun yang disahkan masyarakat. Ia tidak berusaha mengubah wataknya, tapi mewujudkan watak dan fantasinya itu.

Pendapat Freud itu banyak mendapat kecaman. Di antaranya dari Wellek dan Warren. Keduanya tak setuju, ?Apakah pengarang dapat disamakan dengan seorang yang mengalami halunisasi. Artinya apakah dengan begitu pengarang tak bisa lagi membedakan kenyataan — khayalan, harapan — kekhawatiran. Yang diungkapkan pengarang bukanlah halunisasi, melainkan kemampuan berimajinasi?.

Salah seorang perintis psikologi sastra adalah I.A. Richard. Karyanya yang berjudul Principles of Literary Cristicism (1924) sering digunakan sebagai sumber rujukan tokoh angkatan sesudahnya. Ia amat menekankan pentingnya hakikat pengalaman sastra terpadu (unified nature of literary experience), seperti yang dilakukan psokologi gestalt. Di sisi lain, ia menentang anggapan seni untuk seni. Alasannya, bahwa seni hanya akan dapat bermakna jika ia mampu berkomunikasi dengan pembacanya.

Pengaruh kuat psikologi gestalt tampak pada Herbert Read. Karyanya, Phases of English Poetry (1928), Poetry and Anarchism (1938), dan The Philosophy of Modern Art (1952). Di Indonesia, Goenawan Mohamad dan Arief Budiman pernah memperkenalkan kritik ini saat terjadi diskusi kritik sastra dengan aliran Rawamangun.

Tokoh lain yang menonjol adalah Norman H Holland. Sejumlah karyanya antara lain The First Modern Commedies (1959), The Sakespeare Imagination (1964), Psycoanalysis and Shakespeare (1965) –konon– tampak jelas dipengaruhi psikologi dalam (depth psychology), yang juga tampak pada Leslia A Fiedler dalam karya pentingnya, Love and Depth in the American Novel (1960).

Sementara yang banyak terpengaruh aliran fenomenologis eksistensial adalah George Poulet. Karya kritikus asal Prancis ini berjudul Studies in Human Time (1950) dan Interior Distance (1952). Adapun Kenneth Burke, yang menurut Hardjana mengikuti jejak Maud Bodkin, lebih banyak dipengaruhi psokologi eklektika, terutama dalam tulisannya yang berjudul Charthasis: Second View. Pada karyanya yang lain, A Grammar of Motives (1945) Burke menafsirkan Ode on a Gracian Urn karya Keats sebagai tindak bermakna pralambang (symbolic action).
* * *

Psikologi sastra melakukan pendekatannya dengan melibatkan tiga unsur, yaitu pengarang sebagai pencipta, karya sastra dan pembaca selaku penikmat. Pada tahap awal karya sastra dianggap sebagai proyeksi pengarang. Aspek-aspek emosi yang terdapat dalam karya itu dianggap mewakili emosi-emosi pengarang. Dengan begitu latar belakang pribadi pengarang yang menjadi beban penyelidikannya. Lewat pendekatan psikologi, diharapkan dapat terungkapkan bagaimana pengalaman pengarang amat menentukan isi karyanya, seperti gaya, tema, dan penggambaran watak para tokoh ciptaannya.

Pada tahap kedua, adakah karya sastra itu mengandung data-data psikologi. Kritikus melacak dan mengungkapkan kebenaran teori psikologi yang diterapkan pengarang menunjukkan persamaan dan memisahkan hubungan antara pengarang dan karyanya.

Kritikus umumnya cenderung memilih dan memakai pendekatan ini. Soalnya dengan cara ini karya sastra tetap dianggap sebagai objek telaah utama. Sedangkan teori psikologi hanyalah sebagai alat bantu dalam melakukan penyelidikannya. Di Indonesia, M.S. Hutagalung dan Boen S Oemarjati pernah memperkenalkan pendekatan ini. Keduanya menelaah karya Mochtar Lubis (Jalan Tak Ada Ujung) dan Achdiat K Mihardja (Atheis) lewat pendekatan psikologi.

Pada tahap ketiga, kritikus berusaha menyelidiki ?misi? pengarang yang terkandung dalam karyanya dalam hal ini pembaca dianggap sebagai objek sasaran pengarang. Kritikus bertugas menunjukkan unsur-unsur yang memberikan kepuasan dan daya pikat karya sastra yang bersangkutan dan mengapa karya itu memberikan pengaruh tertentu kepada pembacanya. Bagaimanapun karaya sastra mengandung aspek magis. Aspek inilah yang mebuat pembaca terpikat dan merasa puas. Lebih lanjut lagi, kritikus berusaha mendedah dan memahami alam magis yang dihadirkan karya itu. Demikianlah yang mesti dilakukan kritikus sastra dengan pendekatan ini adalah menempatkan psikologi sebagai alat bantu; karya sastra itu sendiri yang menjadi objek penelitiannya yang utama.

SUARA KARYA, Minggu, 20 Maret 1994

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *