
Maman S. Mahayana * Continue reading “AIR BAH DALAM NOVEL CANTIK ITU LUKA, EKA KURNIAWAN”
PETA PERJALANAN SASTRAWAN SUMATRA*
Maman S. Mahayana **
Kelahiran sastra Indonesia modern pada hakikatnya dilatarbelakangi oleh tiga hal.
Pertama, sastra Indonesia modern lahir sebagai hasil pertemuan dengan budaya Barat yang lalu wujud dalam bentuk sastra tulis. Perhubungan dengan agama Islam yang melahirkan tulisan Jawi merupakan awal tradisi lisan (oral tradition), mulai tersisih oleh berbagai ragam sastra tulis dalam bentuk cetakan dengan menggunakan huruf Latin. Continue reading “PETA PERJALANAN SASTRAWAN SUMATRA*”
MENGGUGAT SEJARAH SASTRA: MENELUSURI JEJAK CERPEN INDONESIA
Maman S. Mahayana *
Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir? Demikian judul buku yang ditulis Ajip Rosidi. Di dalam salah satu artikelnya, Ajip berpendapat bahwa kesusastraan Indonesia lahir sekitar tahun 1920. Alasannya: pada saat itulah para pemuda Indonesia (Yamin, Hatta, dll.) mengumumkan sajak-sajak mereka yang bercorak kebangsaan. Dalam hal ini, yang dimaksud kesusastraan Indonesia (modern), menurut Ajip, adalah karya-karya yang berkaitan dengan semangat dan elan nasionalisme keindonesiaan.[1] Continue reading “MENGGUGAT SEJARAH SASTRA: MENELUSURI JEJAK CERPEN INDONESIA”
MISTERI LAUT—PESONA LAUT
Maman S Mahayana *
Laut adalah sebuah dunia yang penuh misteri. Ia kadang diperlakukan sebagai sesuatu yang kejam, dahsyat, dan membinasa. Dalam posisi yang demikian, hamparan lut laksana merepresentasikan kekuasaan Tuhan, dan manusia menjadi makhluk maha-Liliput di tengah dunia raksas Gulliver. Manusia menjadi sebutir pasir di hadapan hamparan pantai mahaluas. Continue reading “MISTERI LAUT—PESONA LAUT”
TAUFIQ ISMAIL: MEMBACA ISYARAT, MENYAPA KATA HATI
Maman S. Mahayana *
Sastra adalah catatan sebuah kesaksian atas satu atau serangkaian peristiwa yang terjadi pada saat dan zaman tertentu. Sebagai sebuah kesaksian, sastra boleh jadi sekadar mencatat segala peristiwa itu tanpa pretensi. Atau, mungkin juga ia mencoba melakukan pemaknaan atas hakikat di balik peristiwa itu.Itulah sebabnya, dari karya sastra, kita (: pembaca) kerap menemukan berbagai hal yang baik atau yang buruk; yang tersirat atau tersurat. Jadi, sebagai catatan sebuah kesaksian, sastra menghasilkan rekaman situasi sosial pada zamannya. Ia menampilkan semacam potret sosial. Dari sana, terungkap situasi sosial, di dalamnya sekaligus tersembunyi semangat zaman, bahkan juga luka sejarah yang terjadi pada masa tertentu. Continue reading “TAUFIQ ISMAIL: MEMBACA ISYARAT, MENYAPA KATA HATI”
