Tag Archives: Marhalim Zaini

Panggung Jatilan di Traffic-Light

Marhalim Zaini *
Riau Pos, 27 Maret 2011

SETIAP kali saya berhenti di perempatan traffic-light, di simpang Khentungan jalan Kaliurang, Sleman-Yogyakarta, setiap kali itu pula saya menyaksikan pertunjukan seni tradisional Jawa, Jatilan, beraksi. Seiring bunyi gong dan bendhe (gamelan) yang seperti bergema di telinga para pengendara, para penari pun muncul dengan kostum dan make-up yang khas;

Identitas Kultural (Melayu) Itu, Tak Akan Pernah Selesai… (1)

Marhalim Zaini *
http://www.riaupos.co/

Saya menulis esai ini dengan segenap rasa bahagia, karena orasi saya dalam helat Anugerah Sagang 2011 berjudul “Akulah Melayu yang Berlari, (Percakapan-percakapan yang Tak Selesai Tentang Ideologi dan Identitas Kultural),” yang dimuat di Riau Pos, 13 November 2011, direspon dengan amat referensial dan konstruktif oleh sahabat karib saya Syaukani Al Karim.

Identitas Kultural (Melayu) Itu, Tak Akan Pernah Selesai…(2)

Marhalim Zaini
http://www.riaupos.co/

Putra Daerah dan Politik Identitas

Selepas berbicara tentang kacukan, dan memberi kesimpulan di akhir paragraf dengan kalimat, “Melayu, dengan demikian tak lagi soal tubuh, tapi lebih mengarah pada variabel dalaman,” Syaukani membahas pula tentang “identitas jasadi makhluk Riau.” Ia menyebut, “ketika provinsi Riau berdiri pada tahun 1957, juga telah dibuat rumusan tentang siapa putra daerah, yang memuat tiga ukuran, yaitu:

Akulah Melayu yang Berlari (Percakapan-percakapan yang Tak Selesai tentang Ideologi dan Identitas Kultural)

Marhalim Zaini *
Riau Pos, 13 Nov 2011

HARI INI, Riau, adalah juga sebuah negeri yang sedang sibuk menyusun katalogus identitas dirinya. Seolah ada kesadaran baru yang bangkit dari ‘katil tua’ masa silam untuk kembali menegakkan tonggak-tonggak sejarah. Dan Melayu, adalah sebuah tonggak peradaban yang hendak (kembali) ditegakkan itu.

Mal Permainan Simbol Sosial, Pembentukan Identitas Kultural

Marhalim Zaini
Riau Pos, 26 Juni 2011

HARI ini, banyak orang seperti keranjingan mall. Pusat perbelanjaan modern abad ke-21 itu, yang tumbuh menjamur di kota-kota, tampaknya telah demikian memikat hasrat banyak orang untuk mengunjunginya. Tidak hanya pada hari libur, tapi hampir setiap saat mall senantiasa ramai. Meskipun mall adalah sebuah pasar, tapi mereka yang datang ke mall tidak semata bertujuan melakukan transaksi jual-beli. Sebab rupanya, konsep jual-beli yang dimiliki oleh pasar alamiah telah dilampaui oleh konsep pasar yang dikembangkan mall.