Marquez, Kartini, Buku, Chairil

Marhalim Zaini *

APRIL, agaknya bolehlah kita sebut sebagai bulan literasi. Setidaknya, empat momentum ini menandainya: Gabriel García Márquez wafat (17 April), Hari Kartini (21 April), Hari Buku Sedunia (23 April), dan Hari Chairil Anwar (28 April). Sederet peristiwa itu, adalah penanda, ihwal detak jantung dunia literasi kita. Dunia keberaksaraan kita. Keberaksaraan, yang tak semata bicara soal dunia cetak (print literacy) yang ditengarai sebagai penanda dunia modern, akan tetapi juga soal aksara sebagai—apa yang disebut Sweeney —stylized form. Dan, “bentuk yang istimewa” itu, adalah puisi, adalah sastra. Maka, bicara dunia keberaksaraan (literacy), tak bisa lepas dari dunia sastra. Continue reading “Marquez, Kartini, Buku, Chairil”

Mendengar dan Membaca Puisi di Cafe

Marhalim Zaini *
Riau Pos, 23 Feb 2014

KETIKA saya (bersama Komunitas Paragraf) turut mendukung dan menggerakkan iven Malam Puisi Pekanbaru (14 Februari 2014) dengan membaca puisi bersama anak-anak muda di sebuah cafe, di kepala saya berputar-putar sebuah pertanyaan: apa yang sedang dicari oleh anak-anak muda ini ketika mereka memilih kegiatan malam liburnya dengan mendengar dan membaca puisi di cafe? Saya menduga, boleh jadi, mereka sedang mencari kesenangan. Continue reading “Mendengar dan Membaca Puisi di Cafe”

Penyair dan Puisinya

Marhalim Zaini *

“Apakah kita masih percaya pada keniscayaan kata?
Pada hanya sebuah kata?”

Baris terakhir puisi Rida K Liamsi yang saya kutip di atas berjudul “Surat kepada GM.” Dalam puisi itu, dua kali, Rida bertanya, ihwal “apakah kita masih percaya pada keniscayaan kata?” Andai yang bertanya semcam itu bukan seorang penyair, dan bukan dalam sebuah puisi, agaknya kita boleh maklum. Continue reading “Penyair dan Puisinya”

Riau Pos dan Generasi Baru Penyair Riau

Marhalim Zaini
Riau Pos, 1 Juni 2014

Di awal tahun 2008, saya pernah menulis esai cukup panjang di media ini, berjudul “Ihwal Regenerasi Sastra Riau.” Esai ini, kemudian direspon oleh seorang sastrawan dari Sumatera Barat, Zelfeni Wimra, dengan judul, “Setelah Regenerasi Sastra, Apa Lagi?” Karena saya anggap perlu merespon balik esai itu, lalu saya menulis lagi dengan judul yang agak provokatif, “Ayo, Lupakan Saja Indonesia!” Fokus dari tulisan saya itu sebetulnya lebih bersifat catatan dokumentatif ihwal bagaimana dinamika pergerakan sastra Riau (modern) sejak awal kelahirannya. Namun, menjadi agak meluas ke wilayah “ideologi sastra” setelah direspon Zelfeni. Continue reading “Riau Pos dan Generasi Baru Penyair Riau”

Bahasa »