Dhimas Gathuk Ketemu Pungli

M.D. Atmaja

Pada siang hari, ketika Dhimas Gathuk sedang bekerja untuk salah satu Padepokan milik Pendopo Matahari Pengikut Nabi, yang sering kita dengar dengan nama PMPN itu, dia sedang membersihkan salah satu tiang pendopo dekat dengan kerumunan para santri yang tengah mengobrol. Para santri itu berkerumun, sambil sembunyi-sembunyi menikmati rokok, yang menurut orang-orang tua di Pendopo bahwa rokok itu haram. Hal itu lah yang membuat para santri menikmati rokok dengan sembunyi, takut, malu, karena menikmati barang yang telah telah diharamkan orang-orang tua di Pendopo walau pun sebenarnya Nabi yang mereka ikuti tidak mengharamkan itu. Continue reading “Dhimas Gathuk Ketemu Pungli”

Perempuan yang Mensepuhkan Tombak

M.D. Atmaja

Suatu sore di Tamansari ketika hati sedang diliputi prahara, kecemasan, ketakutan, dan kegamangan arti, Lelaki Pendosa berjalan menyusur setiap puing-puing reruntuhan yang tertinggal. Dia melangkah sunyi dalam hati yang semakin kelam oleh kekosongan, namun di sana dia juga menanggung rindu yang telah lama tak tertahan. Sekali ingin berlari di dalam suatu malam, melompati Sindoro-Sumbing dari Barat, lalu menghempaskan panasnya kawah Merapi yang kini telah sunyi. Continue reading “Perempuan yang Mensepuhkan Tombak”

Kakang Gothak, Dhimas Gathuk dan ULTAH

M.D. Atmaja

Petang hari setelah dua lelaki, kakak beradik yang berperawakan sama menegakkan kewajiban, mereka berjalan beriringan di dalam gelap jalan pedesaan. Mereka berjalan yang awalnya dengan diam, begitu senyap. Langkah kaki pun tak terdengar di dalam udara. Tiba-tiba saja, lelaki muda yang bernama Dhimas Gathuk mengamit tangan kakaknya, Kangmas Gothak. Continue reading “Kakang Gothak, Dhimas Gathuk dan ULTAH”

Pecahannya Merekahkan Pelangi

M.D. Atmaja

Siang hari, sewaktu matahari baru saja merangkaki langit, pada kehangatannya, dua manusia, lelaki-perempuan berjalan menyusuri pasir yang gemerisik membisik. Mereka bergandengan tangan, saling merekatkan diri agar salah satunya tidak terseret begitu saja. Agar keduanya dapat berjalan seiring, di jalan yang sama untuk saling mereguk hasrat, kemurnian asa, renyahnya pemahaman atau manisnya daging yang basah. Dan, mereka pun terus berjalan dengan sama-sama menggelayut ke mega-mega hati yang di sana terdapat sungai harapan yang mengalir di tengah malam. Continue reading “Pecahannya Merekahkan Pelangi”

Bahasa ยป