Sekitar Jam 12 Siang

M.D. Atmaja

Ini cerita di waktu yang tidak pasti. Bisa jam 12 kurang sekian-sekian menit, atau jam 12 lebih sekian-sekian menit. Tapi jarang, terjadi di jam 12 tepat. Dhimas Gathuk, dipertemukan pada babak kehidupan lain yang memberikan dirinya wejangan luar biasa. Wejangan akan kehidupan seorang yang selama dikenal sebagai seorang teladan di STS Sinar Terang. Continue reading “Sekitar Jam 12 Siang”

Para Pengikut Nabi

M.D. Atmaja

Di suatu hari yang biasa, Dhimas Gathuk mampir sejenak ke warkop, warung kopi, untuk melepaskan kejemuan akan rutinitasnya. Warung kopi yang telah mempertemukan dirinya dengan banyak orang dihari itu tidak terlalu ramai. Orang-orang yang datang pun beberapa dia kenal dengan baik. Beberapa yang lain sering bertemu dalam tatapan mata dan senyuman. Dhimas Gathuk duduk pada kursi panjang, sendirian saja sambil menikmati rokok filter berlogo sembilan bintang itu. Continue reading “Para Pengikut Nabi”

Di Atas Bukit Di Bawah Langit

M.D. Atmaja

Anak manusia, lelaki, tapi dasar dia adalah seorang Lelaki Pendosa. Dia memang lelaki, namun tubuhnya tidak sekuat jiwanya dalam menempuhi hari. Lelaki kurus yang diberati timbangan dosa. Sepertinya dia tidak pernah perduli akan itu. Dia terus mengembara, menempuhi perjalanan yang terasa semakin semakin memukau semenjak kedatangan Perempuan Pendoa di dalam langkah perjalanan sunyi. Kakinya berkelana, tangannya yang lentik bermain kata menyeret seorang perempuan yang telah memenjara jiwanya. Perjalanan Lelaki Pendosa harus ada Perempuan Pendoa di sana, sebab jiwa sang lelaki telah terlumpuhkan begitu saja. Terlumpuhkan tanpa peperangan. Menyerah tanpa pemberontakan. Continue reading “Di Atas Bukit Di Bawah Langit”

Dunia yang Tertolak

M.D. Atmaja

Di atas bukit, setelah melalui jalan memutar di samping tebing-tebing, si Lelaki Pendosa dan Perempuan Pendoa kini berdiri. Mereka berdua sama-sama memakukan pandangan pada pantai yang mendebur, ombak yang mengiris berkidungkan alam-raya. Batas-batas dunia telah mereka berdua lewati sebagai pengembara. Kini mereka diputari oleh semerbak bunga dunia, dipacu kehangatan matahari malam. Saat itu, belum ada yang terlena. Belum ada yang terlelap. Keduanya saling menjaga malam agar tidak ditelikung setan jalanan. Continue reading “Dunia yang Tertolak”

Bahasa ยป