Tag Archives: Mohamad Ali Hisyam

Spiritualisme Sastra

Mohamad Ali Hisyam *
Seputar Indonesia, 3 Okt 2009

BOLEH dibilang, terorisme adalah bagian dan hasil dialog dan perjumpaan antaragama yang belum sepenuhnya berhasil. Padahal, upaya untuk mengakrabkan setiap agama sudah lama diretas.

Panorama perjumpaan antaragama secara formal memang sudah kerap terjadi dalam kaleidoskop sejarah. Guna meredam gejolak konflik serta menautkan muatan luhur di tubuh tiap-tiap agama,pertemuan formal semacam ini penting dilakukan dan seyogianya terus dilestarikan.

Ritus Mudik dan Sastra Transkultur

Mohamad Ali Hisyam*
Seputar Indonesia, 7 Okt 2007

TAK ada karnaval budaya apa pun yang rasanya lebih semarak dan masif dibandingkan kebiasaan masyarakat Indonesia mudik lebaran ke kampung halaman.

Tradisi mudik sudah menjadi ritus tahunan yang menjelma sebagai perayaan keagamaan,sekaligus euforia sosial yang menguras banyak belanja kapital serta energi kemanusiaan. Secara sosiologis,mudik merupakan ajang tamasya budaya dan dalam berbagai sisi memunculkan sirkulasi tata kehidupan.

Malaysia di Mata Jurnalis Indonesia

Mohamad Ali Hisyam*
http://www.jawapos.com/

Kasus Manohara, model cantik berdarah Sulawesi yang tak pernah sepi diekspos media massa, menjadi bumbu menarik dinamika hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia. Konflik Manohara dengan mantan suaminya, Tengku Fahri, pangeran Kerajaan Kelantan, yang terus berlarut, melengkapi serangkaian dentuman kasus yang selama ini mewarnai ”panas dingin” relasi kedua negara serumpun itu.

Redesain Seni-Budaya Jatim

Mohamad Ali Hisyam
http://www.surya.co.id/

Seni dan budaya memang erat dan senapas dengan pengembangan pariwisata daerah. Terlebih untuk simbol kebudayaan yang selama ini menjadi ikon utama Jawa Timur, semisal seni ludruk, tari topeng dan sapeh sono? Madura, hingga reog Ponorogo.

ADA sejumlah agenda krusial yang harus segera direalisasikan, baik di sektor ekonomi, politik, keamanan, hingga sosial-budaya. Publik Jatim masih ingat dengan jargon strategis yang pernah digencarkan pasangan cagub-cawagub dalam kampanye mereka.

Ayo Jadi Penulis Go Blog

Mohamad Ali Hisyam*
http://www.jawapos.com/

Sambung-sinambung gagasan dalam tulisan Muhidin M. Dahlan, Saatnya Bikin Buku TV (Jawa Pos, 29 Juni 2008) serta esai Azrul Ananda, Newspaper is Dead (Jawa Pos, 1 Juli 2008), menjadi seuntai benang merah dari asumsi mendasar bahwa masa depan dunia cetak, termasuk di dalamnya dunia perbukuan, saat ini sedang berada di persimpangan. Jauh sebelum itu, harian inilah yang pertama kali memperkenalkan kesimpulan bernada ramalan ini ke tengah publik.