Jejak 1965: Identitas Keindonesiaan Sastrawan Eksil

Munawir Aziz *
Kompas, 16 Feb 2014

Kisah politik Indonesia dalam narasi September-Oktober, 48 tahun yang lalu, masih berdampak pada gelanggang sastra masa kini. Tidak hanya pada ranah ideologi, antara pendukung Lekra dan Manikebu, tetapi juga pada sastrawan eksil yang terkena dampak tragedi politik 1965. Kisah-kisah tentang sastrawan yang menempuh studi di luar negeri, mayoritas di negeri-negeri Balkan, menjadi narasi penting tentang pertumbuhan sastra Indonesia. Mereka yang menjadi eksil masih menyimpan harapan untuk pulang ke negeri asal. Imaji dan narasi keindonesiaan sastrawan eksil berkontribusi penting untuk merawat identitas kebangsaan dalam sastra Indonesia masa kini. Continue reading “Jejak 1965: Identitas Keindonesiaan Sastrawan Eksil”

Cinta dalam Religiusitas Gus Mus

Munawir Aziz *
Suara Karya, 9 Nov 2013

MEMBACA sajak-sajak KH Musthofa Bisri (Gus Mus) adalah seperti menyelam dalam kejernihan batin. Sajak-sajak Gus Mus merefleksikan kedalaman jiwa, olah rasa dan refleksi atas kondisi sosial yang jadi sengkarut hidup umat manusia. Sajak Gus Mus sering dianggap “balsem”, dapat menyengat untuk menawarkan panas di tubuh dan telinga, sekaligus mencipta ketenangan. Continue reading “Cinta dalam Religiusitas Gus Mus”

Imlek untuk Harmoni Indonesia

Munawir Aziz *
http://www.solopos.com/

Perayaan Tahun Baru Imlek menjadi awal bagi momentum harapan. Tahun Baru Imlek 2563 pada 23 Januari 2012 merupakan momentum kasih sayang dan pengharapan, tak hanya bagi warga Tionghoa namun juga masyarakat Indonesia lintas etnis. Tahun Baru Imlek kali ini memiliki arti strategis karena merupakan momentum untuk menyegarkan kembali kasih sayang dan persaudaraan di tengah kisruh politik serta tragedi hukum. Continue reading “Imlek untuk Harmoni Indonesia”