Wawancara Paramoedya Ananta Toer: “Yang Tidak Setuju, Ya minggir Saja”

Mustafa Ismail, Arif Zulkifli, Hermien Y. Kleden, Mardiyah Chamim
http://majalah.tempointeraktif.com/04 Mei 1999

SEBELUM berangkat, Pram bersedia menerima Mustafa Ismail, Arif Zulkifli, Hermien Y. Kleden, Mardiyah Chamim, dan fotografer Robin Ong dari TEMPO hingga beberapa kali. Sembari mengenakan kaus putih dan kain sarung, Pram, ketika menjawab pertanyaan TEMPO, sesekali suaranya meninggi dan keras tatkala menjawab pertanyaan agak sensitif. Continue reading “Wawancara Paramoedya Ananta Toer: “Yang Tidak Setuju, Ya minggir Saja””

Seni, Identitas, dan Wawasan Estetik

Mustafa Ismail
http://www.suarakarya-online.com/

Penyair Sapardi Djoko Damono dalam sebuah sesi kuliah di pascasarjana Intitut Kesenian Jakarta melontarkan sebuah pertanyaan menarik: jika seniman berkarya mengadopsi/bertolak atau menyerap wawasan estetik dari karya asing apakah bisa disebut karya seni Indonesia? Menurut Sapardi, seniman, secara politik, identik dengan kewarganegaraan tertentu. Seseorang disebut sebagai seniman Indonesia karena ia warga negara Indonesia. Continue reading “Seni, Identitas, dan Wawasan Estetik”

Kabar Kematian

Mustafa Ismail
http://www.suarakarya-online.com/

Abu mengingau. Aku yang malam itu tidur di rumah kontrakan abu, tersentak bukan kepalang. Abu berteriak-teriak sendiri. “Kalau Bang Suman berani mengancam lagi, saya akan laporkan ke polisi.” Kata-kata itu diucapkan berulang-ulang. Kudengar umi di dalam kamar membaca beberapa ayat-ayat Quran sambil membangunkan abu dan membimbingnya mengucapkan ayat-ayat yang dilafalkannya. Continue reading “Kabar Kematian”

Puisi Perahu

Mustafa Ismail
tempointeraktif.com

Hujan belum sepenuhnya berhenti ketika puluhan sastrawan satu persatu meninggalkan kafe. Mereka melangkah ke dermaga kecil yang terbuat dari kayu yang menyatu dengan cafe itu. Di sana, sebuah perahu besar dan sejumlah perahu kecil telah menunggu. Para sastrawan lalu meniti anak tangga masuk ke dalam kapal besar.

Tak lama, irama rapa’i mengalun ditabuh oleh sejumlah lelaki berpakaian hitam-hitam bermotif Aceh, ditingkahi suara serune kale — alat musik tiup khas Aceh. Continue reading “Puisi Perahu”