Estetika Sastra Buruh

Mustafa Ismail*
Seputar Indonesia, 20 Juli 2008

PENYAIR yang aktivis sastra buruh,Wowok Hesti Prabowo, menulis puisi seperti ini, pulang kerja shift dua/istriku membuka pintu dengan air mata/…//aku jadi ingat/ malam Minggu kemarin anakistriku kuajak putar-putar Karawaci/ sehabis nonton kembang api dari luar negeri/tentu kami tak beli apa-apa selain Indomie… Baca selengkapnya “Estetika Sastra Buruh”

Requiem untuk Aceh

Idrus F. Shahab, Mustafa Ismail, Yuswardi A. Suud, Nurdin Kalim, F. Dewi Ria Utari
http://majalah.tempointeraktif.com/

Allah hai do do da idi/ Boh gadong biye boh kaye uteun/ Rayeuk si nyak hana peu ma bri/ Aib ngon keji ureung donya keun. (lirik Do do da idi)

Suara perempuan itu seperti semilir angin: bertiup perlahan, hilang perlahan. Di layar kaca, tubuh-tubuh bocah berjajar rapi, mata dan rahangnya terkatup. Tubuh-tubuh kecil yang tak lagi bergerak, beku, tapi suara Cut Aja Rizka Syarfiza, personel kelompok Nyawoung, mendendangkan sebuah lullaby, satu dendang pengantar tidur, Do do da idi. Kita tahu, Do do daidi bukan lagu sedih. Nada-nadanya bergerak lambat dalam skala mayor, tapi pesannya mendalam: jangan pernah takut pada kematian, jika itu merupakan pengorbanan untuk tanah air. Baca selengkapnya “Requiem untuk Aceh”