Naskah Teater: PUNK

Zaman Pasca Reformasi sampai Pasca Pilpres
Viddy AD Daery *

(Untuk pementasan dengan durasi 30-45 menit).
Sinopsis:
Segerombolan anak-anak Komunitas Punk bernama “Nam-Punk,” karena menyukai angka 6, diserupakan dengan lambang 69 di bendera mereka -pada suatu hari sehabis berapresiasi seni di markasnya yang kumuh dan pesing- didatangi beberapa tokoh partai politik tua maupun muda. Mereka ingin merekrut kaum Punkers untuk konstituen mereka yang baru, menyambut pemilu yang akan datang. Anak-anak Punk yang anti-kemapanan diajak berpolitik? Maukah mereka? Lalu apa yang terjadi? Continue reading “Naskah Teater: PUNK”

GEGER I

Bismillah
Perform of Poem

Naskah Teater karya : Rakai Lukman *

PEMAIN
1. SATU PRIBADI
2. ENAM PEMBISIK

SINOPSIS

Dunia berputar bagai sukma diri, sedih-bahagia, cemas-damai, semua pada rotasinya. Lingkar takdir berpusar dalam diri, menerka-nerka ke mana alur cakrawala, kadang sesat di jalan buntu. Acapkali bermula dari tangan jahil sukma sendiri, demi menggapai hidup berlebih. Dan kini diri bergolak, menari-nari tanpa batas, terhempas badai, sesak dada tertusuk asap serakah, bisik-bisik tak henti memaksa diri mencabik semesta dan sanubari. Continue reading “GEGER I”

LASKAR BERSARUNG

Naskah Teater karya : Rakai Lukman *

SINOPSIS

Kemerdekaan Indonesia telah diproklamirkan. Tahun 45, tahun dimana bangsa ini merdeka. Mempertahankan kemerdekaan lebih susah dari pada menyatakanya. Bangsa ini telah siap, siap bertempur sampai titik darah penghabisan. Dengan Slogan “Merdeka ato Mati” hal ini terwujud dalam perjuangan yang dilakukan arek-arek suroboyo dengan gigih dan bangga mereka mengusir pasukan sekutu dari tanah pertiwi. Continue reading “LASKAR BERSARUNG”

DELIMA SEPARUH

Naskah Teater karya : Rakai Lukman *

SINOPSIS

Sulaiman yang telah memakan separuh buah delima yang ditemukannya di bantaran sungai. Kemudian sulaiman sadar, ia telah memakan buah belum halal, lalu ia cari pemiliknya. Ternyata seorang kiai, yang mana kiai ini memberi syarat kehalalan delima dengan menggembalakan kambingnya tiga tahun tanpa upah, berziarah wali songo dengan jalan kaki, dan sarat yang terakhir harus mempersunting putri sang kiai, yang buta, tuli, bisu dan pincang. Continue reading “DELIMA SEPARUH”