Tag Archives: Nirwan Ahmad Arsuka

Nalar Indra dan Nalar Dunia: Krisis Penciptaan Sastra

Nirwan Ahmad Arsuka
__Kompas Cyber Media

SETENGAH abad yang silam Soedjatmoko, cendekiawan yang pernah disebut sebagai Dekan Intelektual Bebas Indonesia, mengumumkan adanya “suatu krisis dalam kesusastraan kita”. Di dalam tulisan yang merupakan “Pengantar” untuk edisi perdana majalah Konfrontasi, Juli-Agustus 1954, Soedjatmoko mengakui bahwa “banyak ciptaan yang memang berjasa serta adanya kelancaran dalam bahasa yang dipakai. Akan tetapi, ciptaan-ciptaan kesusastraan yang lebih besar masih saja ditunggu kehadirannya.”

Sensor dan Kebebasan

Nirwan Ahmad Arsuka*
Kompas, 27 Januari 2008

INDONESIA masih memerlukan sensor! Karena budaya masyarakat yang sangat beragam dan tingkat pendidikannya yang masih rendah, lembaga sensor masih perlu dipertahankan, bahkan sampai beberapa puluh tahun ke depan. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengeluarkan pernyataan ini dalam sidang pengujian Undang-Undang Perfilman yang diajukan oleh Masyarakat Film Indonesia di Mahkamah Konstitusi, Jakarta, Rabu (9/1) lalu.

“Autopoiesis” Takdir

Nirwan Ahmad Arsuka
http://nasional.kompas.com/

Sutan Takdir Alisjahbana menarik karena segugus paham yang diperjuangkannya. Paham-paham tersebut menjadi memikat bukan hanya karena bergetar dalam diri STA, tetapi karena paham-paham tersebut ternyata sungguh punya dasar yang kukuh dan jangkauan yang jauh. Yang paling berharga dari pemikiran STA tampaknya adalah prinsip autopoiesis, penciptaan dan pelampauan diri entitas, yang diterapkan pada skala yang luas. Prinsip inilah agaknya yang tak ditangkap oleh para pengritik STA, termasuk Nirwan Dewanto (dalam pidatonya yang diliput banyak media besar di Kongres Kebudayaan 1991).

Kisah “Besar” Keluarga Toer

Nirwan Ahmad Arsuka*
http://cetak.kompas.com/

? Judul: Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer ? Penulis: Koesalah Soebagyo Toer dilengkapi Soesilo Toer ? Penerbit: KPG, Jakarta, 2009 ? Tebal: 505 halaman (termasuk lampiran)

Sebagai karangan yang banyak bertumpu pada ingatan, memoar adalah ragam karya yang bergerak di antara dua kutub: sejarah dan sastra. Jika ingatan itu ditopang sekaligus dijaga ketat oleh catatan kejadian nyata, disusun mengikuti arus waktu yang bergerak lurus kronologis, karangan itu akan menjadi biografi atau otobiografi penting.

tentang Neo Pujangga Baru (dari Nirwan Ahmad Arsuka)

NB: nirwan arsuka, aku baru pulang dari acara Hut Apsas ke-4 di Jakarta, jadi gak sempat menjawabmu. aku gabungkan semua postingmu tentang Neo Pujangga Baru-ku itu di sini biar enak membaca dan meresponnya. aku kirimkan ini ke kau. silahkan kau tag siapapun yang kau inginkan ikut diskusi ini. aku juga akan melakukan yang sama. cheers!!! http://www.facebook.com/note.php?note_id=62953009697

1.
terima kasih, Saut. perumusanmu tentang “neo-pujangga baru” yang kau kecam itu cukup terang: meski pun belum tentu tepat, setidaknya ia memudahkan diskusi.