Tag Archives: Nurani Soyomukti

Palestina dan Konflik Timur Tengah dalam Bingkai Sastra

Nurani Soyomukti *
http://daiensparant.blogspot.co.id

Konflik dalam bentuk perang terbuka kembali di Timur Tengah setelah Israel melakukan serangan bertubi-tubi terhadap pejuang dan mujahidin di Palestina. Serangan juga meluas dan gemanya ke dunia internasional juga kian mengeras. Konflik yang berlangsung selama berabad-abad ini tak kunjung selesai karena bersifat dimensional dengan melibatkan sentimen keagamaan, ekonomi, kebudayaan, dan politik. Bagaimana reaksi terhadap konflik itu dalam ranah sastra?

Nurani Soyomukti, Penggiat Literasi di Trenggalek

Defri Werdiono
Kompas, 11 Desember 2015

Sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, ia sudah menulis puisi dan dimuat di media berbahasa Jawa. Beberapa waktu kemudian, dia mendirikan komunitas pencinta sastra, arisan sastra, hingga lembaga berbadan hukum yang fokus mengawal literasi. Sebanyak 28 buku tentang politik, filsafat, dan pendidikan telah dihasilkannya, plus lima buku yang ditulis secara bersama.

TUBUH RATU KECANTIKAN VS TUBUH BURUH FREEPORT

Nurani Soyomukti *
Jawa Pos, 16 Okt 2011

Ini adalah era krisis kapitalisme yang dipenuhi krisis moral—dan yang penting adalah adanya krisis (eksistensi) diri. Bagaimana seseorang memaknai keberadaan dirinya, kapitalisme telah membentuk sedemikian rupa sehingga eksistensi diri sesuai dengan kebutuhan masyarakat pasar.

SASTRAWAN JANGAN HANYA DIJAJAH KEINDAHAN!

Nurani Soyomukti *

Tidak sedikit sastrawan yang mabuk keindahan. mereka terjebak pada “imperium keindahan”—dan lupa bahwa persoalan sastra adalam masalah humanisme: Sastra-Humaniora! Karenanya sastra(wan) harus punya nyali untuk bicara pada kemanusiaan. Kemanusiaan, dan bukan hanya keindahan dan permainan katakata, adalah kunci dari kegiatan kesusastraan. Masalahnya, jika persoalan sastra harus lebih ditekankan pada keindahan, mengapa penghargaan sastra (seperti Nobel Sastra) selalu saja diberikan pada sastrawan yang bicara banyak hal dan mengeluarkan pandangannya—yang penuh nilai dan berpihak—tentang manusia, masyarakat, dan sejarah?

Puasa dan Kesadaran Hakikat Kehidupan

Nurani Soyomukti
http://www.suarakarya-online.com/

Hakikat puasa sebenarnya adalah menempa batin agar kita peka terhadap kehidupan. Selama satu bulan, aktivitas berserah diri kepada Allah diharapkan akan membawa pada kesadaran baru tentang hakikat kehidupan di dunia. Menahan rasa lapar, haus dahaga, dan menjauhkan nafsu badaniah merupakan suatu mekanisme pelatihan untuk merasakan bagaimanaa rasanya menderita dalam kekurangan ekonomi (kemiskinan), sebagaimana dialami oleh bangsa ini.