Palestina dan Konflik Timur Tengah dalam Bingkai Sastra

Nurani Soyomukti *
http://daiensparant.blogspot.co.id

Konflik dalam bentuk perang terbuka kembali di Timur Tengah setelah Israel melakukan serangan bertubi-tubi terhadap pejuang dan mujahidin di Palestina. Serangan juga meluas dan gemanya ke dunia internasional juga kian mengeras. Konflik yang berlangsung selama berabad-abad ini tak kunjung selesai karena bersifat dimensional dengan melibatkan sentimen keagamaan, ekonomi, kebudayaan, dan politik. Bagaimana reaksi terhadap konflik itu dalam ranah sastra?

Di Indonesia, solidaritas terhadap korban perang juga dilakukan baik oleh pemerintah maupun oleh masyarakat. Memang dibutuhkan kepekaan dan cara pandang yang humanis terhadap persoalan kemanusiaan tersebut. Sayangnya dalam ranah kesusastraan tanggapan para sastrawan tentang persoalan tersebut masih sangat minim. Entah karena kekurangan informasi atau karena kehampaan ide, kisah Palestina dan Timur Tengah dalam sastra Indonesia memang nyaris tidak terdengar. Barangkali juga karena di negeri ini terlampau banyak kontradiksi yang butuh banyak pemikiran dan tanggapan, hingga membicarakan Timur Tengah dianggap terlalu jauh.

Di manakah universalisme sastra yang konon mengatasi batas-batas itu? Penyair muda Indonesia yang termasuk pendatang baru, Rieke Dyah Pitaloka, sempat merekam secuil peristiwa di Palestina ketika ia menuliskan puisi untuk mengenang wafatnya pemimpin organisasi pembebasan Palestina (PLO, Palestine Liberation Organisation) pada tahun 2004 lalu. Meskipun tentang seorang tokoh, puisi yang merupakan salah satu dari puisi-puisi dalam buku kumpulan puisinya “Ups!” (Gramedia, 2005) harus kita apresiasi sebagai sebuah kepekaan tentang apa yang terjadi di Timur Tengah.

Puisi yang berjudul “Doa dari Palestina (detik-detik terakhir sebelum Arafat wafat)” itu berkisah: “dan Ramadhan bulan penuh berkah//dan Mahmoud Abbas memandang kursi kosong di sisinya/Allah, kembalikan kawanku!//dan orangorang di Gaza city mengusung foto lelaki itu//Allah, hembuskan kebaikan pada pemimpin kami//Allah, tukar nyawaku dengan jiwa bapak!//dan Arafat masih tertidur di bawah menara Eiffel”.

Harus diakui bahwa hubungan antara tradisi sastra Indonesia dengan tradisi sastra Timur Tengah atau dunia Arab sudah lama terputus sejak kolonialisme mendominasi Dunia Ketiga. Akibatnya sangat sedikit kaya sastra Dunia Arab yang masuk ke negara-negara lainnya termasuk ke Indonsia. Karya sastra yang masuk ke Indonesia umumnya adalah karya yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris, sehingga memerlukan banyak waktu untuk mengupayakan penerbitan karya tersebut. Dari kenyataan itu dapat dipahami kenapa karya sastra dunia Arab selalu terlambat dalam merekam apa yang terjadi di dunia Arab, terutama di daerah yang dilanda konflik dan kekerasan seperti antara Palestina dan Israel.

Dulu pernah ada kumpulan cerpen “Lorong Masjid” dari Timur Tengah yang baru dapat dinikmati oleh komunitas sastra Indonesia di tahun 1990. Pada hal buku itu adalah karya cerita pendek yang ditulis oleh para sastrawan di sana antara tahun 1945 hingga tahun 1965. Artinya, karya itu adalah rekaman peristiwa yang direkam dan dipersepsikan para sastrawan Timur Tengah yang hidup pada kurun waktu tersebut. Dengan demikian, “Lorong Masjid” sebagai hasil karya sastra Dunia Arab terlambat dibaca di Indonesia setelah 30 tahun kemudian.

Kelangkaan informasi tentang sastra Timur Tengah menyebabkan karya sastra Indonesia yang mencoba merekam kejadian di Timur Tengah juga sangat sedikit. Akhirnya juga sedikit sekali kepekaan yang muncul dari sastrawan Indonesia tentang masalah-masaah kemanusiaan yang ada di Timur Tengah terutama konflik dan kekerasan di wilayah Palestina yang membutuhkan uluran tangan kemanusiaan dari komunitas internasional. Sebagai komunitas masyarakat yang terus saja didera konflik dan kekerasan, banyak aspek-aspek kehidupan yang bisa diangkat dan dibahas dan dijadikan bahan masukan bagi upaya untuk menyusun relasi sosial yang lebih beradab.

Fungsi sastra untuk mengantarkan masyarakat menuju humanisasi kehiupan tentunya harus terus ditegaskan. Sastra besar karena mampu mengangkat kontradiksi kemanusiaan menjadi kisah yang membangkitkan semangat manusia. Konflik dan Dinamika Kesusatraan Palestina Dulu di tahun 1990-an, puisi-puisi Timur Tengah pernah dimuat di majalah Sastra “Horison”. Tetapi karena hanya beberapa puisi saja yang dimuat, akhirnya tidak begitu banyak berpengaruh dalam meningkatkan kecintaan komunitas sastra Indonesia terhadap karya sastra Timur Tengah.

Bagi mereka yang menginginkan sastra Indonesia berkiblat ke Timur Tengah, apa yang diinginkan masih jauh panggang dari api. Dinamika kesusastraan di Timur Tengah sendiri juga menentukan bagaimana sastra di sana dapat mempengaruhi komunitas internasional. Banyak yang beranggapan bahwa corak kesusastraan di sana tidak berkembang karena kondisinya yang tidak kondusif bagi tumbuh-kembangnya kesusastraan.

Bagaimana orang disana dapat berkarya dalam keadaan perang yang terjadi tiap waktu tanpa dapat diduga, serangan roket dan ledakan bom yang selalu terjadi kapan saja baik dari pihak Israel maupun pihak Palestina. Anggapan seperti itu tentunya tidak sepenuhnya tepat karena menyangkal suatu tesis bahwa seni dan sastra tidak akan pernah mati dari kehidupan manusia dalam kondisi apapun. Apalagi dalam keadaan masyarakat yang menderita, esetika sangat dibutuhkan untuk meromantisir keadaan dan menyuarakan kepedihan-kepedihan.

Puisi di Palestina jelas tidak dapat dikatakan mati suri karena sebagai sebuah tempat Jalur Gaza dan Tepi Barat adalah sebuah kontradiksi. Bahkan kontradiksi yang panjang dan mempunyai pengaruh yang besar bagi dinamika internasional. Sebuah kontradiksi adalah bahan yang potensial untuk memunculkan ide-ide estetis. Memang, dalam suasana perang seakan waktu untuk menulis barangkali sangat terbatas, bahkan dapat dikatakan hampir tidak ada. Tapi bukankah tidak semua orang harus memegang senjata dan bom untuk melakukan perjuangan.

Dalam suasana perang yang selalu sulit didorong ke arah perdamaian, ideologi permusuhan di wilayah ini terus berkobar. Doktrinasi, sistem komando gerilya, intrik politik seakan menjadi pemandu pola pikir dan perilaku masyarakat di sana sehari-harinya; yang memolakan nuansa kemanusiaan yang sulit diarahkan pada tujuan estetis dan humanis. Seni perang yang terus menajam merupakan romantisasi hidup dan mati.

Ayat-ayat tentang indahnya mati berkorban dan menjadi martir, serta janji-janji pembebasan seakan menggantikan kehadiran sastra, menjadikan dentuman meriam dan ledakan bom seperti kejadian puitik yang mau tak mau harus diterima oleh anak-anak yang tumbuh dan ibu-ibu yang lebih mencintai kehidupan dari pada suami-suami yang harus berjuang melawan musuh. Tetapi apakah sastra benar-benar mati di Palestina?

Mendiang Presiden Amerika Serikat (AS) John F. Kennedy pernah mengatakan bahwa jika politik itu kotor, maka puisi akan membersihkannya. Maka, dalam kondisi perang dan konflik yang berkepanjangan di Palestina, masih ada pejuang yang di sela-sela hari-harinya menyempatkan diri menulis karya sastra.

Bisa dibayangkan bagaimana karya sastra yang lahir dari benak dan perasaan para pejuang yang membela hak-haknya dan berusaha menghancurkan musuh-muasuhnya. Musuh-musuh bangsa Palestina lebih ganas karena dilengkapi dengan persenjataan yang lebih canggih. Seakan membenarkan apa yang pernah dikatakan penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, bahwa jika penyair hanya punya kata-kata, mereka penya panser dan peluru. Tak heran jika puisi di Palestina juga menjadi senjata. Tentu saja penyair Palestina juga ada yang punya senjata yang bukan hanya kata-kata. Yang jelas puisi-puisi dari penyair Palestina benar-benar menggetarkan lawan-lawannya.

Tercatat nama penyair Afad Fatukan yang oleh seorang pengamat nilai puisinya sebanding dengan 20 pejuang yang paling militan. Memang tak ada yang menyangkal bagaimana peran puisi sebagai karya sastra dalam mempengaruhi kehidupan manusia. Apalagi, sastra dalam perjuangan rakyat bukanlah hal baru. Di India, puisi-puisi Rabindranat Tagore turut membantu mendorong rakyat India melawan penjajahan Inggris. Di Indonsia, karya Pramodya Ananta Toer, WS. Rendra, Wiji Thukul, dan sastrawan-sastrawan lainnya juga membantu mengasah inspirasi perlawanan rakyat dan mahasiswa terhadap Soeharto yang akhirnya lengser pada tahun 1998.

Puisi perlawanan di Palestina juga telah terbukti menjadi katalisator mobilisasi rakyat melawan Israel. Tak heran jika banyak penyair dan sastrawan Palestina yang menjadi tahanan rumah pada waktu masih terjadi pendudukan oleh Israel. Mereka tetap pantang menyerah. Sastrawan-sastrawan baru juga lahir. Puisi-puisi disebarkan secara sembunyi-sembunyi dalam suasana represif. Di antaranya disebarkan melalui organisasi-organisasi perjuangan dan sebagian lainnya juga disiarkan lewat stasiun-stasiun radio.

Seorang penyiar acara sastra di sebuah stasiun radio Palestina, Yahya Arabah, pernah mengatakan: “Puisi-puisi kami adalah puisi cinta kampung halaman, puisi politikal. Puisi kami merupakan gabungan narasi romantik dan monolog batin”. Puisi-puisi mereka umumnya memang menceritakan rasa keintaan pada tanah air Palestina yang direbut oleh Israel. Nasionalisme perjuangan untuk membebaskan tanahnya dari pendudukan dan penjajahan diungkapkanlewat puisi. Bisa kita kutip puisi karya seorang penyair, Harun Hasyim Rasyid, berikut ini:

Aku orang Palestina Aku orang Palestina walau mereka mengkhianatiku Dan meludahi cita-citaku Orang palestina aku, walau mereka menjualku di pasar dunia Dengan harga beribu juta. Orang Palestina aku, walau ke gantungan dihalau aku. Orang Palestina aku, walau ke dinding diikat aku. Orang Palestina aku, Orang Palstina aku, Orang Palestina walau ke api di lempar aku.

*) Esais dan penyair muda tinggal di Jember.
http://daiensparant.blogspot.co.id/2010/03/palestina-dan-konflik-timur-tengah.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*