Pendidikan Sex Lewat Sastra Jawa

Widodo DS

SERAT Centhini adalah salah satu naskah sastra Jawa yang bermutu tinggi dan lengkap. Buku kuno ini setebal 4.200 halaman terbagi dalam 12 jilid. Dia sekaligus merupakan asset budaya Jawa yang tak ternilai harganya. Ditulis tahun 1814 – 1823 M. Tim penulis dipimpin oleh Kangjeng Adipati Anom Amangkunegara III, yang kemudian menjadi raja Surakarta, dengan gelar Sinuhun Pakubuwana V (1820 – 1823 M). Para penulisnya adalah para pujangga keraton. Mereka adalah R. Ng. Ranggasutrasna, R.Ng. Yasadipura II, dan R.Ng. Sastradipura atau Kiyai Haji Muhammad Ilhar. Continue reading “Pendidikan Sex Lewat Sastra Jawa”

Sastra dalam Desain Sistem Pendidikan Nasional

Kalis Mardi Asih *

”Pendidikan itu tidak cuma untuk menciptakan anak pandai, tetapi juga harus membentuk warga yang berkarakter” (Nasution, 2010)

Beberapa hari lagi, pada tanggal 2 Mei nanti kita akan kembali memperingati Hari Pendidikan Nasional. Pada tahun- tahun lalu biasanya hari ini diwarnai dengan selebrasi meriah berupa lomba- lomba di bidang pendidikan seperti lomba siswa teladan, lomba guru teladan dan lain sebagainya. Continue reading “Sastra dalam Desain Sistem Pendidikan Nasional”

Membongkar Tradisionalisme Pendidikan Pesantren

; Sebuah Pilihan Sejarah

Hammam Fathulloh

Pendidikan di tengah medan kebudayaan (culture area), berproses merajut dua substansi aras kultural, yaitu di samping terartikulasi pada upaya pemanusiaan dirinya, juga secara berkesinambungan mewujud ke dalam pemanusiaan dunia di sekitarnya (man humanizes himself in humanizing the world around him) (J.W.M. Bakker, SJ; 2000: 22). Continue reading “Membongkar Tradisionalisme Pendidikan Pesantren”

Kembalinya Kebudayaan dalam Pendidikan

Hazwan Iskandar Jaya
lampungpost.com

MEMISAHKAN pendidikan dan kebudayaan hanya akan mencetak manusia tanpa karakter. Anak didik tumbuh dan berkembang intelektualitasnya, tapi tidak merdeka lahir-batinnya!

Pendidikan tak sekadar mengejar ilmu pengetahuan, teknologi, dan intelektual. Sebab itulah pendidikan senantiasa beriringan dengan gerakan kebudayaan untuk mencapai kemuliaan hidup. Continue reading “Kembalinya Kebudayaan dalam Pendidikan”

Revitalisasi Ajaran Sutasoma Pendidikan Demokrasi

Berharap Mengakui sebuah Perbedaan

I Putu Sudibawa *
balipost.co.id

PENDIDIKAN demokrasi yang ingin dideklarasikan, telah terjadi kegagalan yang mengerikan – disadari atau tidak – terutama ditunjukkan oleh superioritas kesombongan intelektual kita dewasa ini, sebagai sesuatu yang menggejala sangat umum. Tidak sedikit dari mereka telah tergerus jatuh menjadi hamba sahayu, yang oleh Ida Wayan Oka Granoka disebut dengan ”keangkeran” perangkat simbolis ”logika-artificial” (materi-formal). Continue reading “Revitalisasi Ajaran Sutasoma Pendidikan Demokrasi”

Bahasa »