TERNYATA PRAM LEBIH BESAR DARI YANG KITA DUGA

Jo Pakagula
pawonsastra.blogspot.com

Menakar seorang Pramoedya Ananta Toer tidaklah mudah. Membicarakannya, secara tak sadar juga kerap menyeret kita kepada prasangka keberpihakan. Kesan masyarakat sastra terhadap Pram pada umumnya terbagi menjadi dua kelompok. Satu pihak memujinya selangit dan memujanya bak tanpa cela, pihak lain mencercanya habis-habisan tanpa mau menyelami lebih dalam siapakah sebenarnya Pram. Namun beberapa tahun terakhir nampaknya kian kentara upaya untuk menilai nominator Nobel bidang Sastra dan penerima Hadiah Magsaysay ini secara proporsional, lebih fair dan dengan hati yang jernih. Meski maaf, penilaian semacam ini masih sangat jarang kita dengar. Continue reading “TERNYATA PRAM LEBIH BESAR DARI YANG KITA DUGA”

Lembar-lembar Gelap Seorang Pram

Andari Karina Anom
tempointeraktif.com

SECARIK surat mendarat di meja panitia hadiah Magsaysay di Manila, Filipina, pada Juli 1995. Dua puluh lima sastrawan dan budayawan kenamaan Indonesia membubuhkan tanda tangan di lembaran itu. Mochtar Lubis, salah satu peneken surat itu bahkan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya sebagai tanda “berduka”.

Mereka memprotes diberikannya penghargaan sastra itu kepada Pramoedya Ananta Toer karena “peran tidak terpujinya pada masa paling gelap bagi kreativitas di zaman Demokrasi Terpimpin, ketika dia memimpin penindasan sesama seniman yang tidak sepaham dengan dia.” Continue reading “Lembar-lembar Gelap Seorang Pram”

Cerita-cerita Pulau Buru: Sejarah dan Nyanyi Burung Kedasih

Ignas Kleden
majalah.tempointeraktif.com

Pramoedya ist ein Begriff—Pramoedya bukan sekadar nama, tetapi sebuah pengertian, bahkan sebuah konsepsi. Kata-kata itu diucapkan oleh seorang ibu yang amat simpatik, Prof. Irene Hilgers-Hesse, Ketua Jurusan Melayu di Universitas Koeln, ketika mengundang seorang mahasiswa filsafat di Muenchen tahun 1980, yang kebetulan saya sendiri, untuk membicarakan buku Bumi Manusia yang baru saja terbit. Continue reading “Cerita-cerita Pulau Buru: Sejarah dan Nyanyi Burung Kedasih”

Sebuah Jendela di Senja Hidup Pram

Farid Gaban, Nurur Rokhmah Bintari, Dewi Rina Cahyani
majalah.tempointeraktif.com

Penampilannya bersahaja- terlalu bersahaja. Namun, ada yang sedikit aneh: dia tak memakai sandal seperti yang selalu dipakainya bertahun-tahun. Tentu saja, selain sebuah mesin ketik yang erat ditentengnya, dalam perjalanannya menuju New York awal April lalu itu. Mesin ketik mengisyaratkan anakronisme, New York adalah paradoks. Dan ada satu pertanyaan menggoda: tidakkah Pramoedya Ananta Toer -seperti tokoh dalam novel fiksi-sains klasik karangan H.G. Wells -merasa terlontar oleh mesin waktu ke dunia yang sama sekali berbeda? Continue reading “Sebuah Jendela di Senja Hidup Pram”

Sepucuk Surat Getir kepada Generasi Baru

Ruth Indiah Rahayu *
majalah.tempointeraktif.com

PERAWAN REMAJA DALAM CENGKERAMAN MILITER
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Kepustakaan PopulerGramedia, 2001

Tak seorang pun yang dapat menolong mereka. Di sini pula mereka kehilangan segala-galanya: kehormatan, cita-cita, harga diri, hubungan dengan dunia luar, peradaban dan kebudayaan …suatu perampasan total. Continue reading “Sepucuk Surat Getir kepada Generasi Baru”

Bahasa ยป