Sastra Klasik al-Isra’ wal-Mi’roj (Karya Imam Najmudin Ghoitd)

Diterjemahkan dari Arab ke Jawa: Yusuf Jaelani
Khototib: Isti Anisa
Alih bahasa ke Indonesia: Imamuddin SA
Diterbitkan PUstaka puJAngga, 11 Juni 2008.

Pada suatu ketika, saat malam telah tiba. Kerlap-kerlip bintang di langit cerah menjadi pesona yang begitu berharga. Menjadi saksi akan kemuliaan seorang manusia. Saat itu bertepatan tanggal 27 Rojab 11 kenabian, Nabiullah Muhammad SAW beristirahat. Tidur menyamping di samping Hijir Ismail. Dekat Baitullah. Di samping kanan dan kiri beliau ada dua orang pemuda (Sayyidina Hamzah dan Sayyidina Ja’far bin Abi Tholib). Continue reading “Sastra Klasik al-Isra’ wal-Mi’roj (Karya Imam Najmudin Ghoitd)”

PERJALANAN TUNAI

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Herbert, si buyung tanggung.
Masih juga bergema, nyanyian gereja yang kemarin kaulantunkan itu. Masih juga bergema di ruangan itu – dan kini kubayangkan kembali suasana yang membawa rahmat – kala aku menginsyafi, betapa telah tambah jauh jabat tangan yang terbuhul, terkembang dan terlayarkan. Kita menatap telapak matahari, mencoba mengatasi kejemuan yang bukan mustahil; tuntutan kala. Biarlah kita menyusun ketegaran baru, bila kupercaya mampu menyambutnya. Biarlah kita mematut-patut keracikan kalimat, yang sanggup melukiskan siapa dan di mana sangkutan angan. Seorang pemuda remaja yang tengah bangkit memapag surya, hendaknya menengok segi-segi gemilang dari percaturan martabat. Continue reading “PERJALANAN TUNAI”

BAYANG DAN BOYONG

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Mari kita silakan para tamu memasuki baluwarti ini, saudaraku – ketika barisan yang kita nanti-nantikan sudah mulai memperlihatkan langkahnya yang tegap dan tegas. Marilah kita persilahkan para sanak-kadang yang sudah semalaman berkuyup-embun di luar pager-banon sana, dan biarkanlah mereka pagi ini ikut menikmati selamat datang ini. Continue reading “BAYANG DAN BOYONG”

SUARA-SUARA SAKTI

KRT. Suryanto Sastroatmodjo

Bukankah setiap suara mempunyai gemanya sendiri? Bukankah tiap bunyi yang menderas dan menjuntak niscaya akan segera menemukan ‘tatapan ke bidang datar’ yang membuatnya segera hincit dan menjerit? Di kala diriku akan menghitung pilahan bunyi yang muncul dari permukaan bumi ini, terasalah bahwa aku menemukan suara-suara sakti. Suara, yang bukan lagi dipersoalkan sebagai ‘sawur sekar’ yang tersebar dan terserak – melainkan suatu tetawur yang memiliki sempyur-sempyur yang mengucapkan penggenahannya. Continue reading “SUARA-SUARA SAKTI”

Bahasa »