Siapa Yang Pamit Jelang subuh?
Lelaki tua itu menunjuk
ujung jari yang merdu
Menebar kata-kata sunyi
yang sayup-sayup pamit
Dalam ruang embun subuh Continue reading “Puisi-Puisi Rakai Lukman Kepada Umbu Landu Paranggi”
Siapa Yang Pamit Jelang subuh?
Lelaki tua itu menunjuk
ujung jari yang merdu
Menebar kata-kata sunyi
yang sayup-sayup pamit
Dalam ruang embun subuh Continue reading “Puisi-Puisi Rakai Lukman Kepada Umbu Landu Paranggi”
Kepada Umbu Landu Paranggi

Muhammad Yasir Continue reading “Penyair dan Bir”
Djoko Saryono
[rumahmu bukit batu puisi
di situ orang berziarah api arti]
usai amuk kemarau
rumput-rumput segar hijau
meminta padang-padang terbuka
dan jernih langit biru Sumba berbicara
mengabarkanmu berangkat kembara: Continue reading “EULOGI: Umbu Wulang Landu Paranggi”
SANTO PARA PENYAIR (Umbu Landu Paranggi)
Beno Siang Pamungkas
Kupasang foto lamamu di kamar
Ambil air di padasan
Kugelar tikar pandan
Dan kudaraskan puisi-puisimu
Puisi yang berkisah tentang seorang lelaki yang memilih jalan sunyi.
Tunggangi angin sabana hela selaksa kuda merdeka
Kebebasan bersama cinta. Continue reading “SELAMAT JALAN, KAWAN. SURGALAH TEMPATMU”
Masih, Belum Apa-apa!
Masih kerangka, belum berdaging dan berkulit. Belum berotot dan bersyaraf. Belum bermulut dan berlidah.
Masih kerangka, belum bernyawa dan bernyali. Belum melangkah dan mengayun, belum berpikir dan bekerja. Continue reading “Puisi-Puisi Rakai Lukman”