Puisi-Puisi Dody Kristianto
Posted by PuJa on February 8, 2012__Seputar Indonesia, 29 Mei 2011 Kunang sepelik babon para padri, ia pasti kembali meratapi lampu mati sampai ia tikam semua yang pergi untuk jubah api yang tak kunjung ia dapati
__Seputar Indonesia, 29 Mei 2011 Kunang sepelik babon para padri, ia pasti kembali meratapi lampu mati sampai ia tikam semua yang pergi untuk jubah api yang tak kunjung ia dapati
Jalan itu Syifa Aulia di jalur yang kita kehendaki tempat kita biasa memanja kata menabur canda dan bertunas candu melintasi hamparan ladang anggur dengan cawan dalam genggaman
Tentang Aku dan Listrik Hari Ini Mahmud Jauhari Ali dalam dekap cahaya panas dadamu dihunus sebilah tembaga tubuhmu roboh tepat di samping sebuah guci warna jingga “Sabar! Kau harus sabar!” ucapmu pelan tiba-tiba dadaku sesak lalu kaupegang tanganku erat-erat “Kau jangan sedih. Anakku akan datang menemanimu nanti.” katamu lagi bersama mata yang sayu
Malam Renungan Kerlip lilin di hening malammu menyinar kepak sang merah putih di tengah renungmu seulas senyum para pahlawan hadir di tengah-tengahmu lalu menetes air mata haru
SANUR BEACH resah bak purnama tak sudah gundahku siapa bilang melelah di balik pesonamu pekikan rindu bertalu-talu aku terhuyung-huyung lalu terpaku hanyut dalam hempasan waktu agar laut tetap membiru bahteramu tetap melaju
http://nasional.kompas.com/ mitos satu: indrapura, melayu champa yang tumbang, saat ia menyerang dari arah laut adalah betismu, puteri dai viet yang tengah rekah meminum embun dari langit champa adalah bibirmu, mengucap-ucap daulat rajaku, daulat tuhanku
Uang dan Tuhan koalisi pahala dan rayuan dosa manusia lupa dipeluk maksiat dalam doa doa yang tak berniat cuma sekedar pameran morailitas? berlombalah membeli status suci lupakan saja setan gentayangan yang dipercaya adalah uang semata kekuasaan pun mencetak kerakusan
Syifa Aulia Di usiamu yang kesekian telah banyak kejadian juga tragedi mewarnai bukan sekedar mengapa Sumpah yang di rapal senyawa mantra sakral dijunjung tinggi bak pusaka sakti
Republika, 26 Sep 1999 Akulah yang Kau Panggil Malam itu Akulah yang kau panggil malam itu, ketika hujan menderu? Memang kulihat kau di sana, dengan payung di tangan. Tapi apa yang di tangan kananmu? Anak kita? aku tak percaya: Bukankah ia telah mati, pagi tadi?